Wednesday, November 9, 2011

Berharap kebaikan bagi yang lain

Belajar Islam dengan lebih mendalam memang tidak mudah. Entah bagaimana, banyak yang mencoba menyakiti hati. Atau paling tidak mematahkan hati. Sudah kadung bersahabat dengan si A misalnya, mendadak mereka menjauh tanpa alasan. Bahkan aku sendiri sulit menyebutkan satu-satu karena begitu banyaknya. Apakah ini yang dimakasud, akhirnya orang baik (menurut Islam) akan berkumpul sendiri di tempat yang dimuliakan Allah? Dosaku sedemikian banyaknya, aku sendiri masih berusaha memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku lakukan.

Apa yang kelihatan di luar, tidak seperti dalam hati. Pernah rajin chatting dengan seseorang misalnya, tiba-tiba marah padaku katanya "kamu nanyain ke temenku apa aku shalat apa enggak ya". Kalo seandainya dia shalat, tentu saja dia tidak akan marah seperti itu. Tulisannya yang sepertinya mencari pahala yang halal biarpun sedikit ternyata secara frekuensi batin gak nyambung sama aku. Tulisan bijaknya ternyata tidak mencerminkan hatinya bijak. Kemampuan menulis yang membuat orang lain terbawa arus banyak yang terhanyut, sepertinya begitu bijaknya ternyata diragukan ilhamnya dari mana. Aku pernah nanya, pernah ngeliat gaib? Katanya sih enggak, tapi tanpa sadar ternyata dia komen di tulisan salah satu blogger bahwa dia pernah mimpi mistis. Ya Allah, biarpun dia sekarang sudah tidak mau menyapa aku lagi, aku berharap tunjukkan jalan yang benar padanya, amin.

Bila sudah belajar Islam mendalam, merambah ke batin, maka semua hubungan emosi baik kekeluargaan atau pertemanan saling terkoneksi. Sahabatku misalnya, kalau ada undangan pengajian pertama kali yang terbayang pasti aku dan langsung SMS mengundang aku ikut pengajian. Nanti dia cerita, aku sudah nyoba kirim undangan pengajian ke banyak orang, tapi selalu begitu hanya sedikit yang mau ikut. Walau aku masih seperti kebiasaanku yang lama, ketiduran di pengajian, hehehe... tapi merasa nyaman dengan suasana pengajian. Konon di majlis Ilmu belajar Islam banyak malaikat di situ. Apalagi bila dibacakan ayat Al Qur'an, setan malas mendekat. Lain dengan suasana di diskotik, seandainya kita bisa melihat setan, maka setan sedang berpesta pora di situ. Dengan mudahnya masuk keluar tubuh manusia yang menggila sedang ajojing. Semoga mereka yang suka dugem berputar-putar gak jelas kayak kesetanan ditunjukkan jalan yang benar oleh Allah.

Sulit mencari sahabat muslim yang benar-benar bisa sepaham. Alhamdulillah aku beruntung bekerja di Pendidikan Anak Usia Dini Islami, semua rekan kerjaku berusaha istiqomah. Sebelum mengajar banyak yang shalat Dhuha, baju muslim juga ditentukan yang kerudungnya panjang, celana longgar dan blus sampai paha. Tapi tetap bersahabat, dengan model yang cerah dan bahan berkualitas. Karena kebanyakan guru adalah wanita, jadi gambarannya adalah biarpun baju sopan tapi tetap bisa cantik.

Apapun yang terjadi, disakiti hati seperti apapun, aku tetap berusaha mendo'akan kebaikan untuk sahabat-sahabatku yang dulu pernah akrab bangets tapi sekarang malas ketemu denganku lagi. Kehilangan sahabat buatku bisa mematahkan hati seperti kehilangan pasangan juga, bayangkan itu terjadi berkali-kali. Andai sekarang aku belum punya pasangan, aku dulu kabur karena mantan suami mengaku sudah taraf ma'rifat tapi malah meninggalkan shalat sampai tiba-tiba aku sakit berhari-hari gak jelas, Alhamdulillah dia sudah menyatakan perpisahan, aku malah merasa nyaman. Bukan trauma, tapi kuanggap ini prosesku diberi kesempatan untuk mendekatkan diri pada Allah. Percuma juga punya pasangan memaksakan diri tapi gak nyambung, seperti ada seorang sahabatku, ingin pergi ke pengajian malah dilarang suaminya. Mantan suamiku tidak mau mengontak aku sedikitpun, padahal dia mengambil anak kembarku lahir 2-3-04 tanpa ijin. Setelah aku belajar Islam, tadinya gak gitu ngerti, aku meragukan ma'rifat model mantanku ini sebetulnya mengarah ke Tuhan yang mana tidak jelas. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam aja shalat sampai kakinya bengkak-bengkak, masak ada manusia mengaku mulia sampai tidak perlu shalat lagi karena kedekatannya dengan "Tuhan" (tentu saja Tuhan tanda petik, soalnya gak jelas Tuhan yang mana).

Untuk semua sahabat-sahabatku, baik yang pernah dekat, atau hanya sekedar mengenal, semoga Allah memberikan petunjuk bagi kita semua. Aku sendiri masih jauh dari istilah istiqomah, tapi selalu berusaha untuk ke arah sana. Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar bagi kita semua, amin...

2 comments:

Sadako Kenzhi said...

Amin ya Rabbal'alamin...
saya juga masih jauh dari istiqomah. Tapi harus tetap usaha supaya bisa istiqomah. Jadi mbak Ami sudah negur dia? diposting sama dia di blognya yang lagi digegerin ya mbak? saya pertama kali mampir ke blog itu pas ngebaca komen di postingannya Al Kahfi,

Ejawantah's Blog said...

Semua kehidpanselau pada proses pembelajaran tanpa harus ada yang tersakiti.

Semoga kita selalu mendapatkan kebarokahandankeridhoan dalam kehidpun ini, Amiiiiin.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog