Thursday, January 26, 2012

Manusia "sakti" di jaman sekarang

Aku pernah bilang ke seorang blogger saat kopdar, bahwa suatu saat aku gak akan intensif ngeblog lagi. Saat ini tentu saja bisa setiap hari, kadang sehari beberapa postingan mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal.

Saat awal ngeblog lebih parah lagi, banyak sekali informasi muncul di kepalaku, sampe aku nulis nyolong-nyolong ngeblog sambil kerja, pake hape. Udah kayak gak mikir aja. Entah ilham dari mana itu semua. Gambaran tentang anak-anakku, kakek anak-anakku almarhum yang dari Palembang, kakek anak-anakku yang dari Cariu Jawa Barat tapi kok aku gak nyaman dengan sosok ini yang konon kata bapak anak-anakku "sakti", begini begitu tiap tahun ke Mekah naik haji. Syuuuuut, muncul sosok mendiang tanteku yang punya indra ke-6 aku jadi ingat ceritanya bahwa batu jumroh bila dibawa pulang bisa untuk pesugihan, dan mesti direcharge setahun sekali saat musim haji. Memang sih peninggalan beliau ini berhektar-hektar sawah luasnya, dan cucu-cucunya sudah ngiler ingin menjual dan menikmati hasilnya. Wallahu a'lam bisshowab.

Sudah muak dengan namanya kesaktian-kesaktian. Cerita-cerita gak jelas manusia yang bisa terbang, muncul di dua tempat, berjalan di atas air, apalah itulah semua cerita dari mantan. Apalagi mengaku kalo maqomnya sudah tinggi, sudah ma'rifat, ada kedekatan dengan Allah dapat prioritas tidak usah shalat lagi. Untung aku bukan selebritis, coba kalo iya, barangkali para manusia yang "sakti" menentang aku, bisa gawat, hehehe...

Terlalu tipis yang nampak di mata manusia batasan antara sihir dan keajaiban karena bantuan dari Allah padahal sebetulnya kenyataan perbedaannya sejauh surga dan neraka. Bukankah Allah sudah menjanjikan manusia yang tawakkal akan mendapat jalan keluar dari masalahnya, dan manusia bertakwa dapat rejeki tak disangka-sangka. Keajaiban itu adalah karena sedekah, tawakkal, bertakwa, bertaubat, menyambung silaturahmi, bertaubat, dan seterusnya. Pembersihan hati, pensucian jiwa juga membuat hidup segalanya tampak mudah.

Aku pernah belajar tasawuf di Bogor, ustadnya lulusan Al Azhar Kairo. Tadinya gak ngeh banget tasawuf itu apa. Saat di Jogja ada sahabatku sendiri mengatakan sesat. Terus pembicara pengajian di rumahku bilang tergantung tawasuf model apa dulu, selama masih ada tuntunan AL Qur'an dan hadits, tentunya masih bisa diikuti. Buya Hamka sendiri juga menulis buku Tasawuf Modern. Sedangkan Quraish Shihab pernah menyatakan, berdzikir itu seharusnya dengan bahasa lembut, dan membuat tenang. Bukan berdzikir berteriak sambil menangis. Tapi itu adalah pilihan saja, aku lebih suka berdzikir dengan lembut. Karena ada tarekat yang ingin mencapai tahapan tasawuf versinya dengan berdzikir secara keras.

Ada ilmu di Islam yaitu Laduni, ini juga contoh manusia mendadak dangdut, eh mendadak berilmu. Hanya dengan beberapa hari ada bule bisa ngomong bahasa Indonesia dengan belajar Laduni. Okelah, itu sudah terbukti, tapi aku lebih suka belajar yang nyata-nyata sajalah. Belajar dari sosok yang nyata, dan tentunya tidak membuat keluargaku cemas, yang sudah sangat mensupport agar aku tetap waras sampai sejauh ini.

Tapi gak tau ya, kalo suatu saat mesti berurusan dengan manusia "sakti" lagi. Manusia yang mengaku sakti, dulu saat aku mengenalnya lewat internet dia bisa menggerakkan kursor di komputerku padahal beda kota. Setelah aku tau dia sering kesurupan, melihat sendiri, kebukalah pemahamanku bahwa kesaktian itu adalah bisa jadi karena ada setan memasuki tubuhnya.

Tapi gak tau lagi deh, kalo terpaksa berurusan dengan manusia sakti dalam tanda petik, hehehe... Sejauh ini Alhamdulillah merasa tenang dan belum ketemu hal-hal aneh lagi. Semoga Allah selalu menunjukkan aku ke jalan lurus. Aaamiiin...

2 comments:

Iskandar Dzulkarnain said...

ane juga bisa berjalan di atas air mbak




berjalan di atas air mata penderitaan orang lain :D

aryadevi sudut kelas said...

ibu ^__^ menarik postingannya,....dilingkungan sy juga begitu (dahulu), ada beberapa kenalan yang berubah setelah belajar tauhid ga selesai berlanjut ke tasawuf....yg akhirnya menuhankan diri sendiri,...berikut mendapat kesaktian-kesaktian yg dia pakai untuk menarik murid-murid baru.
Apalagi kalau "beliau" mulai berkicau dan menjelek-jelekan guru-guru lain..jadi saling menjelekan paham orang lain menjadi lumrah saat itu ( sampai sekarang pun?
saya sendiri ga berminat sama sekali dengan segala "fatamorgana" ilmu itu....
Seorang guru yg sy anggap mursyid pernah berujar,..."ketika seseorang mengaji ilmu atau mengamalkan suatu tarekat kemudian mendapatkan karomah-karomah atau kata lainnya kesaktian, itu semua hanyalah kembang-kembang dijalan yang melenakan kita. Siapa yang terlena dan tergoda maka cukup disitu kapasitasnya..sedangkan jalan yang harus ditempuh masih jauh.
Tipu daya setan memang begitu rupa,seorang alim pun bisa tergoda dengan karomah/kesaktian yang diperoleh dari jalan amalannya, padahal bukan itu sebenarnya tujuan.