Thursday, June 18, 2015

Masalah perebutan anak yang menimpaku

Hal yang paling sulit adalah cerita tentang anakku kembar yang sekarang berumur 11 tahun. Nama mereka Safira dan Safitri.

Mungkin di dunia ini banyak kasus perebutan anak, bahkan juga terjadi di jaman Rasulullah SAW. Ada kisah dua wanita mengaku bayi itu anak mereka.

Ada kasus perebutan bayi ada juga penelantaran bayi. Ada pembunuhan anak perempuan cantik berumur 8 tahun karena warisan.

Anak kembarku ini diambil oleh mantan suamiku, sekarang mereka di Bogor diasuh oleh neneknya. Neneknya ngotot bahwa beliau lebih berhak untuk mengurus mereka karena (versi beliau) dikasih amanah oleh anaknya yang notabene adalah bapak kandung mereka. Ini adalah keputusan sepihak, tentunya secara agama Islam, selama Ibunya mampu Ibu kandung lebih berhak mengasuh anaknya bukan neneknya. Apalagi ayahnya sudah pengangguran. Tapi dunia ini memang tidak selalu seperti yang kita inginkan, hukum tidak selalu berpihak pada yang benar, aku merasa dizalimi di sini.
Aku sudah mencoba kontak LBH, LSM, KPAI, yang mau menjelaskan gamblang adalah LPA (Lembaga Perlindungan Anak) di Bogor. Kata LPA ini mereka bisa memberi jasa pengacara gratis, tapi saat dibawa ke polisi, polisi akan minta uang supaya bisa diproses. Sekarang aku berdo'a saja mereka dikembalikan padaku secara sukarela. Setiap tahun aku megirimi mereka hadiah ulang tahun. Soal menengok, urusannya panjang banget.
Aku pernah dikenalkan sama kyai yang mau membantu secara gaib, aku sendiri gak tau gimana metodenya. Yang jelas aku mesti konsultasi dulu dengan membayar 300 ribu, lalu kyai ini akan menerawang melihat siapa yang jadi korban. Kalau sudah positif jadi korban, maka akan dibantu dengan acara doa bersama kyai dengan sekitar 50 santri. Tapi sebelumnya sudah membayar infaq mulai dari 1 juta (bisa lebih) ke pesantrennya tergantung tingkat kesulitannya.

Tadinya aku bilang enggak usah, tapi ada santri yang tau-tau bilang ke aku kalo aku sudah dibayarin dia, bisnisnya lagi bagus, untungnya gedhe. Tapi ternyata ada maunya, setelah itu dia 3 kali minta aku nutup untuk dana untuk bisnisnya, total sekitar 2 jutaan.

Kata santri ini, versi kyainya, si mantan belajar Islam versi untuk bisa melihat gaib tapi kebablasan. Gaibnya sudah menutup dunia nyata, dia sekarang omong ngelantur. Seorang pekerja yang bekerja di usaha kakak mantan, cerita sekarang si mantan udah gak kerja apa-apa, nganggur, minta uang ke keluarga dia.

Kata santri ini sih kyai sudah mendoakan aku, santet yang dikirim ke aku sudah dibalikin ke mantan. Tapi abis itu aku ditodong untuk bayarin DP motor. Aku mundur, gak mau kasih uang lagi, mau berdo'a sendiri aja. Dia bilang, oke, aku mau berteman tapi gak mau lagi bantu nyambungin kamu ke kyai. Katanya masih berteman nyatanya di SMS juga gak pernah bales.
Aku sih menyerahkan semuanya pada Allah. Ikhtiar, berusaha, berdo'a, berserah diri pada Allah, dan melakukan hal positif dan produktif sajalah. Toh kalo ada yang zalim sama aku dosaku diambilin dia semua, apalagi yang zalim sekeluarga tambah cepet toh dosaku disedot...

3 comments:

Lyliana Thia said...

Duh mba... cuma berdo'a yg terbaik utk dirimu...

Aku jg single parent, tapi alhamdulillah anakku dibawah hak asuhku, dan aku nggak menghalangi mantan dan keluarganya utk mengunjungi anakku...

Semoga dirimu tabah selalu, Allah pasti akan kasih jalan, aamiin...

Ipah Kholipah said...

yang sabar, tabah dan tawakal ya mba :)

azis setiawan said...

Cerita qt sama ya...alangkah senangnya kalo bisa berbagi menghabiskan sisa umur