Friday, July 10, 2015

Berproses untuk kematangan spiritual

Waktu aku SD, aku itu suka uring-uringan sendiri dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalaku. Seperti kenapa ada orang beruntung, tidak beruntung, hidupnya susah, hidupnya enak dan seterusnya.

Saat aku mengajar TK tahun kemarin, sebetulnya bidangku bukan PAUD, aku lulusan Ilkomp MIPA UGM, dan TK ini milik keluarga, ada anak TK yang mikirnya jauh ke depan soal spiritual. Aku sempet liat, dia ini mirip aku kecil dulu, cuman aja aku gak ada yang menjawab pertanyaanku. Hanya ada guru ngaji yang kaku. Dan aku merasa gak perlu tanya sama siapa-siapa, lebih penting mengikuti alur hidup yang "membosankan" (pendapatku saat itu). Lulus sekolah, menikah, punya anak.

Anak TK tapi sudah nanya ke aku, mengapa kita mesti berdoa. Bagaimana alam semesta diciptakan. Spiritual itu gak cuman berdoa dan membantu orang lain loh, tapi ada pemahaman tentang alam semesta, Nabi, kitab, dan seterusnya. Bayangkan, berumur 6 tahun sudah hapal hampir semua kisah Nabi. Tidak sekedar hapal, tapi juga mencari tahu filosofi dari urutan kejadian kisah Nabi yang tertulis di AL Qur'an.

Jawaban itu terkuak setelah aku berumur 40 tahun. Setelah dihantam oleh banyak kejadian-kejadian yang kata orang hidupku kayak sinetron.

Pro kontra pasti ada. Di komunitas indigo, banyak artikel tentang spiritual, tentang berbuat kebaikan, aku pilih komunitas yang spiritual kuat, bukan cuman main gaib doang. Main gaib ya ngobrolin makhluk alam lain, barang-barang yang punya kemampuan gaib, dll. Jadi komunitas Indigo juga berkumpul anak-anak muda yang punya indra ke-6 tapi akhirnya berkelompok dengan indigo lain yang minatnya sama.

Hidup di dunia itu sementara, hanya permainan belaka, jangan dianggap serius. Hidup yang sebenarnya itu di akherat. Jadinya apa iya supaya hidup enak di akherat kita mesti menderita di dunia, selalu teraniaya dan tidak usah membalas kalo dijahati. Ah, bisa kok kita hidup bahagia di dunia, hanya saja itu ada di bagaimana pengolahan hati kita, bukan banyaknya uang kita.

Pernah gak melihat teman yang terkungkung dalam masalah. Selalu kekurangan uang, ribut sama pasangan, bisnis gagal, banyak tidak disukai orang. Orang luar bisa melihat masalah itu tapi yang bersangkutan gak tau cara keluarnya. Misalnya dikasih saran, sudahlah berhemat saja, nanti menjawab, gak bisa kalo aku gak beli barang itu aku gak bisa tidur. Dikasih saran lain supaya berusaha menjawab gak punya waktu. Selalu ada orang seperti ini di sekitar kita.

Ada semacam level dalam kehidupan. Manusia yang sudah melewati masa krisis, bisa melihat ke bawah ke orang yang masih berputar-putar di masalahnya. Masalahnya tidak semua orang mau dibantu. Seandainya mau membantupun tentunya hanya pada orang yang benar-benar mau berusaha.

Kalau dalam spiritual, level sukses bukan materi, tapi kedewasaan. Walau tidak dipungkiri tanpa materi orang bisa dalam posisi tidak nyaman sehingga kehilangan akal. Orang yang mature, dewasa, bila mendapat uang lebih sebagian akan digunakan untuk dimanfaatkan bagi orang lain yang butuh bantuan.

Yang sedikit aneh itu aku ketemu orang-orang mengaku spiritual, sudah berani mengajarkan ke yang lain tentang spiritual itu apa, tapi belum bisa kontrol diri. Satu demi satu orang yang mengaku spiritual itu mental, pergi menjauh, aku gak tau alasannya kenapa. Tentunya di pihak sana mereka merasa benar, tapi aku punya alasan sendiri.

Misalnya spiritual pertama ngajak aku ke pantai berdua, akhirnya aku nolak. Ini duda umur 50an. Ada anak muda yang awalnya dengan senang hati bantu aku, tapi endingnya minta dibeliin motor sebelum bantuan dia berikutnya. Spiritual ke tiga, cewek, deket banget selama setahun. Berakhir sarannya untuk menemui seseorang di Singapore (yang aku juga mesti bayarin dia) aku tolak. Orang yang lagi pedekate ke aku memutuskan mengunjungi aku di Jogja.

Jangan tanya deh, beberapa paranormal lain yang terang-terangan minta uang, pinjam uang (gak akan dibalikin), kalo enggak nanti mau dikirimin gaib atau gimana. Minta dan pake ngancem. Padahal teori spiritual paham, cuman kelakuan gak sesuai.

Untuk menggapai level lebih tinggi secara spiritual, caranya tidak hanya ritual do'a aja. Mesti puasa apa, sholat apa, dzikir apa. Boleh deh dengan sholat sunat yang ada sunnahnya jelas, hadis shahih kayak tahajud, istikharah, hajat. Tapi kelakuan juga mesti mendukung... dan memang itu gak mudah. Ada saja yang membenci, memfitnah, menjatuhkan. Dan para haters ini gak akan sadar, justru mereka enjoy dengan yang dilakukannya. Inilah hidup, setan berusaha menggoda, dan akhirnya beberapa orang kehilangan hati nurani dengan menjadi bagian setan juga. Manusia yang menggoda manusia lain untuk menjadi jahat, kehilangan hati nurani.

Aku masih merasa belum tinggi loh secara spiritual, masih berproses, kadang-kadang masih melakukan kesalahan juga. Kalopun salah berusaha diluruskan lagi. Orang yang spiritual tinggi, setan yang godain juga kelas tinggi, jadi akal muslihatnya sudah tingkat tinggi juga.

Yah... kita semua berusaha untuk mencapai level lebih tinggi dari kehidupan. Kalo bisa, selain kenyamanan hidup, kecukupan uang, tentunya kedewasaan dan kematangan juga...

No comments: