Saturday, December 26, 2015

Solusi membayar hutang dan menambah rejeki dengan sedekah

Tulisan ini terinspirasi dari artikel yang banyak di share di Facebook. Kritikan Cak Nun tentang metoda ustadz Nganu sebagai motivator sedekah. Aku pernah beberapa kali datang ke pengajian ustadz Nganu itu, yang memberi solusi memperbaiki ibadah dan memperbanyak sedekah untuk menambah rejeki dan mengatasi bila punya utang banyak.

Masalah hutang pernah menimpaku. Waktu itu aku bingung, iya bingung, soalnya dalam keadaan depresi, sekali lagi iya depresi, aku mesti jalani hidup  bayar ini itu dan aku gak punya clue mesti ngapain. Tidak ada seorangpun yang bisa memberi tahu aku mesti gimana. Ada sih yang mencoba kasih tau, tapi gak ngaruh.

Tamparan berkali-kali, ditipu orang, dimanfaatin, akhirnya membuatku belajar. Sampai aku ke sana sini tanya sama teman yang aku anggap paham, kenapa sih setiap kali aku ketemu orang ketemunya yang gak bener. Seorang temenku yang banyak belajar berpikir positif bilang, jadilah kamu orang yang positif, dan kamu akan ketemu orang yang positif juga. Tapi bagaimana caranya jadi orang yang positif, gak semudah membalik telapak tangan kan.

Sejujurnya sebagai manusia aku masih banyak kekurangan. Kadang masih marah-marah gak jelas, gak fokus dengan kerjaan, bingung mesti gimana, dan ketaatan ibadah naik turun.

Seorang laki-laki pedekate sama aku. Selalu bicara dengan nada rendah, hampir tidak pernah marah, perhatian, selalu membantu aku yang aku butuhkan, rajin sholat, ibadah, pengajian. Sepertinya sempurna kan. Aku baca sebuah tulisan "kalo kamu menemukan laki-laki yang baik, perhatian, tulus, jangan lepaskan".

Lalu apa yang terjadi. Dia sangat bangga pada dirinya. Dia selalu bilang, aku sabar, aku baik, orang-orang juga baik sama aku. Aku kenal ustadz ini ustadz itu. Kadang mengucap dalil-dalil hadits atau ayat Qur'an. Tapi belakangan aku tau, dia meninggalkan istrinya yang dalam keadaan penglihatan mulai berkurang, minder, obesitas, dan jarang mengunjungi anak-anaknya. Bukan tipe laki-laki berhati lembut yang hatinya mudah tersentuh dan mau menolong.  Aku mulai ribut soalnya aku bilang kita berteman, ketemu di tempat ramai dan siang hari. Tapi dia selalu merayu mengajak hidup bersama dengan nikah diam-diam soalnya dia males ngurus cerai dengan istrinya yang sudah berpisah selama 5 tahun. Dari luar sepertinya lembut, taat beribadah, tapi hatinya tegaan banget, dan gak peduli dengan ajaran Islam yang benar secara keseluruhan.

Masalah hati ini memang sulit. Bagaimana cara menggerakkan hati orang yang tadinya menuhankan uang supaya mau mendekatkan diri pada Allah. Ustadz Nganu ini sebagai motivator sedekah kasih solusi, bersedekahlah, tambahlah ibadah, Insya Allah masalah hutang dan rejeki ini akan terselesaikan.

Can Nun atau Emha Ainun Najib punya pendapat sendiri. Kalaupun sedekah, harusnya karena ikhlas dan bersyukur, bukan supaya dapat uang dari langit.

Ustadz yang sering ceramah di rumahku, pak Munichi cucu KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah mengatakan. Ada levelnya tujuan beribadah itu. Level anak-anak diiming-imingi surga dan neraka. Level remaja dengan pahala dan dosa. Lalu level tertinggi karena mengharap ridho Allah semata.

Pendapatku ustadz Nganu baik karena mengajarkan banyak sedekah dan ibadah untuk mengatasi masalah bagi yang banyak hutang. Yang mencari solusi karena ingin banyak rejeki dan kesulitan banyak hutang akan mencari buku-buku ustadz Nganu ini. Cak Nun gak salah juga karena mengingatkan... hello... kalo sedekah dan ibadah itu karena Allah, bukan soalnya ingin uang banyak.

Di Islam diajarkan boleh kok kita itu berdo'a minta sama Allah, mengeluhkan masalah kita pada Allah. Dan pencarian jiwa kita untuk bisa mengatasi masalah dengan selalu mendekatkan diri pada Allah. Sebagian sukses menemukan kedamaian jiwa, kehidupan lebih baik, dan melakukan ibadah dengan yang diyakini. Sebagian lagi bisa jadi tetap belum menemukan... masih merasa belum kecukupan, merasa ibadah dan sedekahnya sia-sia, masih sulit menjalankan ajaran Islam yang benar secara menyeluruh.

Walau budayawan nyentrik yang sholawatan dengan lagu "Malam Kudus" ini dikatain banyak orang lain sesat, tapi pendapat beliau soal ustadz Nganu, yang sebetulnya mengingatkan tentang mengharap ridho Allah saat ibadah itu gak ada salahnya disimak...


"MASUK SURGA ITU NGGAK PENTING..!" [Think Different Ala Cak Nun]

INGAT : Tulisan ini khusus untuk para GENTHO (begundal), mereka yang sedang berproses mencari kebenaran Tuhan. Yang mengaku Alim atau ahli ibadah atau Ustad minggir dulu, nanti dulu, jangan Komen. Jangan berharap ada dalil-dalil dari Syekh Zulkifli Jabal Syueb Sanusi (embuh sopo kui? - Gak tau siapa Itu ?). Monggo.

BEBERAPA tahun belakangan marak 'SEDEKAH AJAIB' yang sering digiatkan oleh itu, Si Ustad 'nganu'. Cak Nun hanya mengingatkan, "SEDEKAH itu dalam rangka BERSYUKUR, berbagi rejeki & kebahagiaan, BUKAN dalam rangka MENCARI REJEKI. Ingat itu! Kalau Anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang! Paham?"

Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok. Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun, ya wis, kasihkan saja, titik! Setelah itu Jangan Berharap Apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda, tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus, tapi janji Tuhan jangan pernah dijanjikan oleh manusia, nggak boleh!

Banyak orang beribadah yang masih salah niat gara-gara manut omongan si motivator sedekah. Naik haji/umroh biar dagangannya lebih laris. Sholat Duha biar diterima jadi PNS, biar duit banyak, biar jadi milyarder biar dihormati orang. Ibadah itu dalam rangka bersyukur, titik! Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam sholatnya menangis, tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya sendiri, tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orangtua, anak, istri, kakek, nenek, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : "kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku, saya ikhlas, manut ae, yang penting Tuhan ridho sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : "Ya Tuhan kenapa saya kok mlarat, miskin, dagangan gak laku, gak bisa beli montor, gak bisa beli mobil, aku salah apa sih..!???" Waaahh..., malaikat langsung gregeten, nampar mukamu : "Oalaaaaah.., cengeng byanget kamu ya...!!!"

Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda. Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya di belakang nggerundel, gak ihklas.

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita sholat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita sholat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya, titik! Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridho, nggak marah pd kita.

Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum'at. Lha wong paling pingin ML aja kok ya harus nunggu malam Jum'at, Ni gimana sih? Itulah kita, tarafnya masih kemaruk (serakah) pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rosul. Pikir sendiri!

"Surga itu nggak penting..!" kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, nggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???

"Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka. Fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta..." kata Cak Nun

No comments: