Sunday, May 1, 2016

Munzer Ismail

Aku mengenal Munzer Ismail dari dating site yang berpusat di Australia sekitar 4 tahun lalu. Dia menulis ingin berkenalan dengan wanita yang tinggal di United States saja. Tapi dia bilang waktu  itu biarpun aku tinggal di Indonesia, Asia Tenggara, fotoku menarik perhatiannya sehingga dia kirim pesan buatku.

Sepertinya saat itu dia sedang galau banget. Ceritanya memang menyedihkan. Dia berasal dari Syria yang kemudian bekerja di US. Tadinya dia bekerja sebagai manager di airport, gara-gara gedung kembar WTC runtuh, dia dipecat, terus bekerja sebagai supir limusin. Ini adalah salah satu efek dari Islamophobia di Amerika.

Beberapa kali pindah rumah, dan rumahnya yang terakhir kecil katanya. Yang penting bisa untuk hidup dan berusaha mencari rejeki halal. Menjadi supir membuat dia capek banget. Kalo aku ngobrol dia menguap terus.

Kita ngobrol pake Yahoo Messenger. Tidak adil memang, soalnya aku buka kamera, dia bisa lihat aku tapi aku hanya bisa mendengar suaranya saja. Aku protes, aku ingin melihat kamu dong. Munzer bilang coba liat aku di Safiyah Ismail Graduation di Youtube.

Berhubung aku kepo, aku liat di youtube, ada beberapa seri. Pantesan di rekam, ternyata Safiyah putri bungsu Munzer mendapat penghargaan sebagai lulusan siswa terbaik waktu lulus SMA, bahkan mendapat beasiswa.

Setelah beberapa saat, cara bicara Munzer berubah. Yang tadinya hangat dia memanggil aku "sister". Kata Munzer "Sister, aku tidak punya uang untuk mengunjungi Indonesia. Maaf kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini".

Aku banyak kenalan dengan orang dari dating site. Tapi Munzer ini aku ingat terus percakapannya, aku gak akan lupa. Aku simpan foto-fotonya di Dropbox, aku screenshot dari Youtube. Waktu nonton film buatan Hanum Salsabila Rais BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA, aku jadi teringat sama Munzer. Tanpa sadar aku nyanyi lagunya Kangen Band "Kamu dimana, dengan siapa, sekarang berbuat apa".

Suatu ketika aku baca berita ternyata Safiyah ada di Indonesia. Aku langsung cari cara untuk menghubunginya. Aku titip surat lewat @agusmagelangan sesama blogger karena adiknya sekolah di MAN Magelang dimana Safiyah mengajar sebagai guru bahasa Inggris di sana. Tidak ada balasan. Aku juga mencoba mengirim email ke Safiyah, tidak dibalas juga.

Aku dapetin alamat Munzer di US, soalnya dia kena tilang tahun 2015, Safiyah juga kena tilang di tahun 2014 dengan alamat sama jadi aku yakin alamatnya yang itu. Aku kirimin surat ke sana, tapi setelah itu aku menyerah, sudahlah... gak usah kepo, biarkan Munzer hidup bahagia di US. Aku doakan sajalah.

Untuk Munzer Ismail... semoga bahagia selalu, taat sebagai muslim walau diperlakukan tidak adil di US. Juga do'a untuk saudara-saudara di Syria. Hidup tidak hanya di dunia saja, masih ada di akherat. Selalu mendekatkan diri pada Allah, semoga kita selalu dimudahkan hidup di dunia dan akherat. Aamiin...

1 comment:

Ratnawati Utami said...

I finally found a man of my dreams. He is religious and strong spiritual. But may be I am not lucky enough to meet him. I move on and if lucky want to find another man similar with his character... nothing impossible in this world. But if I can not find... hope I will meet in akhirah... still keep on my faith