Thursday, April 28, 2016

Ruben

Ruben adalah laki-laki keturunan Spanish dan Argentinian, besar di Italy dan bekerja di Alberta, Edmonton, Canada.

Aku kenal dia sekitar 4 tahun lalu tapi mulai ngobrol intensif akhir 2014. Pas perpindahan tahun 2014-2015 dia nunjukin salju di sekitar rumahnya pake video call.

Aku sendiri juga gak ngerti... maksudnya, aku terdaftar di dating site yang pusatnya di Australia tapi gak aktif, kalo ada yang kirim message kubales. Aku kenalan sama orang itu banyak, dan aku harus mengakui Ruben adalah salah satu dari sedikit orang yang bertahan untuk selalu support aku.

Di awal 2015 dia memaksa aku "kamu itu kayak orang bingung, tidak bahagia, aku mau membiayai kamu berapapun ke expert supaya bisa menjadi manusia normal lagi".

Kalo baca postinganku di bawah ini, aku bergelut dengan yang namanya santet yang ditujukan sama aku. Beberapa teman mencoba bantu aku, sampe ada yang sakit, demam, laptop pecah.

Anak indigo kecil yang tajam penerawangannya kasih tau, ini yang kirim santet bukan ke dukun, tapi setannya nyatu dengan tubuhnya.

Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Aku memilih diruqyah saja kalo merasa gak nyaman. Akhir-akhir ini sepertinya santetnya juga melemah. Sebetulnya kasihan melihat kondisi yang menyantet aku itu. Kayak terobsesi sama aku, merasa dirinya level dewa... eh Wali... yakin bakalan masuk surga. Padahal status di facebooknya cuman menghujat aku dengan kata-kata kasar. Masak punya facebook statusnya gak waras gitu, cuman hujatan ke aku doang, aku screenshot lho.

Ruben ini satu-satunya yang paling care sama aku. Banyak komentar negatif tentang dia, tapi aku sangat menghargai perhatiannya sama aku.

Walaupun dia care, aku tetep bertahan sebagai seorang muslim, pake kerudung, dia gak akan bisa maksa aku untuk gak pake jilbab lagi. Dan aku juga mesti menjalankan kewajiban sebagai muslim, sholat puasa.

Susahnya... dia walau mengaku sebagai muslim tidak melakukan ibadah... sedih aku. Biasanya pangkal keributan di situ. Katanya, ngapain sholat, kalo masih bisa kena black magic. Aku jawab, susah yah, kalo minta kamu ngertiin black magic... pokoknya gitulah.

Dia janji datang Januari 2016, dibatalin... aku kesel banget, jadinya kita berantem, putus. Aku sempet limbung juga... Terbiasa telpon-telponan, dikasih hadiah-hadiah, dan belanja suka dikasih money pocket.

Lama gak kontak barusan dia kirim pesen di Whats App.  Aku bilang, katamu kamu benci Whats App, finally install juga. Alesannnya, ada temenku pake IPhone mau kirim gambar foto, paling enak pake Whats App. Abis install liat foto kamu cantik banget (ahhh... gombal), cuman pengen bilang hai.

Pokoknya aku banyak ngeyel sama dia... soal kejadian-kejadian di 2015 kemarin. Maaf aku gak akan bisa rubah apa yang aku percayai, aku yakini dan amalkan... Ini masih saling bicara... Terus terang aku belum tau lanjutannya gimana...

1 comment:

Ratnawati Utami said...

I am sorry I have to block you on whats app... too much pain from you.

Thank you for buying me so many clothes, shoes, plane tickets, laptop, samsung tab, air conditioner for my room, prosumer camera, etc...

Hope you will find another woman who match with you... I give up... You cried one night said you miss me a lot, the day after you flirted another woman.