Monday, May 16, 2016

Jangan berdoa pada Allah tanpa bersyukur

Kalau kita galau berat karena dijahati orang, pasti ada kecenderungan nangis lalu berdo'a pada Allah... kadang-kadang keceplosan "moga-moga yang jahatin aku mati tertindas truk".

Dan seandainya Cinta sudah pakai jilbab syar'i dia akan mendoakan Rangga "Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu... jahat. Semoga kamu dapat hidayah".

Berdo'a dan meminta kepada Allah, tetapi kenapa mesti ditambah bersyukur. Bukannya berdo'a itu bebas minta apa saja pada Allah.

Seperti di surat Al Fatihah ayat 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan"

Coba kita perhatikan surat Al Ibrahim ayat 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7) 

Quraish Shihab pernah mengatakan "Berdo'alah seperti ini, Ya Allah kabulkanlah do'aku, tetapi bila belum dikabulkan saya tetap mensyukuri yang saya miliki"... kira-kira begitulah...

Di Islam, tentunya kita paham bahwa bila sedang dalam kesulitan sebaiknya bersabar, sedang kalau dalam kesenangan bersyukur. Kalau sedang sulit dan galau mencoba untuk bersabar, dan berproses  untuk akhirnya mencapai tahap bersyukur, jangan galau keterusan.

Ada sedikit cerita, seorang teman mengingatkan "kalau berdo'a itu bukan menyogok pakai sedekah ya Mi. Kalau sedekah ya tanpa pamrih, karena ingin membahagiakan orang lain". Jawabku "diupayakan ya untuk mencapai taraf selalubersukur... kamu tau sendiri situasiku itu lumayan rumit, sampe saking complicatednya beberapa teman penulis nanyain boleh jadiin ceritaku buat novel gak."

Aku pernah baca artikel di blog seorang ustad kondang kira-kira begini "akhirnya kami memutuskan sedekah 1 juta sebulan karena berharap mendapat gaji 10 juta sebulan.". Apa hubungannya dengan berdo'a, karena sedekah ini dibarengi do'a "Ya Allah beri saya penghasilan 10 juta dengan bersedekah 1 juta". Tidak ada yang salah dengan sedekah, tapi bila lebih ikhlas karena untuk membahagiakan orang lain tanpa target tertentu itu lebih baik. Apakah setelah target 10 juta untuk gaji dicapai akan membuatnya menjadi lebih rendah, hati, dermawan, sederhana, banyak bersyukur? Awalnya memang perlu semacam motivasi, tapi pencapaian tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Akhlak seharusnya juga menjadi lebih baik.

Ada seorang ibu-ibu mengontak aku menceritakan setelah membaca surat Waqi'ah sekian kali tiap malam rejekinya lancar, punya toko, beli rumah, tidak punya hutang. Lebih baik lagi membaca Qur'an untuk dipahami, diamalkan, bukan untuk disetor terus pakai target supaya kaya. Membaca Al Qur'an itu baik, tapi bila dilakukan karena keikhlasan tanpa target akan lebih baik lagi. Tapi bagi aku pribadi kalau tidak ada tuntunan sunnah, tidak akan aku lakukan, lebih baik menggunakan cara lain. Menggiurkan gak sih, baca Qur'an surat tertentu rutin tiap hari tiba-tiba bisnisnya jadi lancar duit mengalir lancar. Tapi pertimbangan lain apakah ada tuntunan sunnah dan dan apakah menjadikan akhlak lebih baik.

Emha Ainun Najib pernah mengkritik ustad kondang itu, yang bereaksi bukan ustadnya, tapi pendukungnya. Dan bertebarlah foto-foto yang menyatakan Emha itu kafir dengan alasan bla-bla-bla... duh mbok jangan mudah mengkafirkan. Orang yang mudah mengkafirkan itu pasti karena emosi, dan akibatnya malah berbalik tuduhan itu ke dia sendiri.

Sebetulnya juga yang lebih penting, mengingatkan lagi bahwa ibadah yang diterima oleh Allah adalah yang ikhlas hanya ditujukan pada Allah bukan pamrih lain seperti dapat pujian atau target mendapatkan rejeki tertentu.

Percayalah bahwa Allah itu mendengar do'a kita (tidak perlu berpikir apa do'aku didengar ya) dan pasti akan dikabulkan. Yang jadi masalah adalah niat kita (diusahakan ikhlas supaya diterima oleh Allah, hanya karena Allah bukan pamrih lain), atasi kegalauan dengan ambil hikmah supaya bisa bersyukur. Kalau ditambahi sedekah lebih baik lagi (untuk berbagi rasa syukur dan karena Allah bukan hitungan sedekah berapa dapat berapa).

Semoga, aku juga masih belajar berdo'a lebih baik lagi, bisa berdo'a lebih ikhlas dan khusyuk...


Pertama, mencari waktu yang mustajab. Diantara waktu yang mustajab adalah hari arafah, ramadhan, sore hari jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.

Kedua, memanfaatkan keadaan yang mustajab untuk berdoa. Diantara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.

Ketiga, Menghadap kiblat dan mengangkat tangan  Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.

Keempat, dengan suara lirih dan tidak dikeraskan.

Kelima, Tidak dibuat bersajak. Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunnah.

Keenam, khusyu’, merendahkan hati, dan penuh harap. 

Ketujuh, memantapkan hati dalam berdoa dan berkeyakinan untuk dikabulkan. 

Kedelapan, mengulang-ulang doa dan merengek-rengek dalam berdoa. 

Kesembilan, tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: “Mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.

Kesepuluh, memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Kesebelas, memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah. 

Kedua belas, hindari mendoakan keburukan, baik untuk diri sendiri, anak, maupun keluarga. 

Ketiga belas, menghindari makanan dan harta haram. Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.

www.KonsultasiSyariah.com

No comments: