Monday, May 16, 2016

Mendapat keajaiban setelah mendengarkan ceramah Yusuf Mansur

Believe in miracle when making a Dua
Believe in miracle
Kita semua tau bahwa ustad Yusuf Mansur terkenal dengan istilah Miracle of Giving atau keajaiban sedekah. Aku merasakan keajaiban itu, tapi bukan keajaiban mendadak kaya raya. Aku dapat penampakan diketawain penipu dari Malaysia, yang disebut dengan Romance scammer setelah mengikuti ceramah Yusuf Mansur di masjid UIN Yogyakarta.

Linknya ada di sini Pengalaman di dating site khusus muslim. Waktu itu aku sempet chatting lama sama si penipu ini. Nah penipu ini tiba-tiba bilang kalo mau ke Jogja ngirim paket, ada situs kurirnya (abal-abal tentunya). Terus aku disuruh kirim 500 dolar. Entahlah, kok aku ada uang segitu terus aku kirim. Habis kirim beberapa hari kemudian diajak ikut pengajian dan sholat jamaah bersama  ustad Yusuf Mansyur. Setelah sholat maghrib temenku pulang, aku bertahan di sana. Setelah selesai sholat berjamaah Isya... aku mulai dapat penampakan.

Dari masjid UIN sampe ke rumah aku jalan kaki loh. Rumahku deket dengan UGM. Aku jalan kaki menyusuri jalan Solo, jalan Cik Ditiro, Bundaran UGM sampe akhirnya sampe rumah seperti mau pingsan. Bukan karena capek fisik, capek mental selama di jalan liat kayak dikelilingi orang-orang gak aku kenal dan diketawain. Aku itu nangis terus selama jalan dari masjid UIN sampe rumah.

Biarpun aku udah beberapa kali datengin ceramah YM, 3 kali tapi aku belum pernah tertarik untuk mengikuti metode sedekah yang diistilahkan SEDEKAH BRUTAL dari beliau atau pendukungnya. Sedekah brutal adalah menyedekahkan hampir semua harta milik kita, lalu YAKIN akan ada balasan yang lebih besar.

Aku memilih sedekah wajar, mempertimbangan kebutuhan pribadi, bila memang ada kelebihan di sedekahkan pada orang yang aku rasa membutuhkan. Diusahakan tidak banyak yang tahu, dan terserah Allah mau kasih balasan atau tidak.

Temenku yang ngajak pengajian YM itu bilang ke aku dia kesel sama Cak Nun soalnya ngatain YM. Dan aku juga mulai melihat link menulis bahwa Cak Nun itu kafir, karena menyanyikan lagu dengan nada lagu Silent Nite, walaupun kata-katanya menjadi sholawatan. Cak Nun mengatakan kira-kira begini "sedekah ajaib itu kurang benar, seharusnya sedekah itu untuk bersyukur berbagi kebahagiaan bukan mengharapkan banyak rejeki".

Aku mulai membaca banyak artikel tentang YM. Terus mendapatkan istilah SEDEKAH BRUTAL itu. Sumbangkan hampir semua yang kita miliki, lalu YAKIN akan mendapatkan ganti jauh lebih banyak. Ada yang membuat hitungan, kalau ingin gaji 30 juta, sedekah rutin sekian juta. Malah ada istilah "Membeli jodoh dengan sedekah". Kata YM di situs resmi beliau, si pencari jodoh ini ngasih 200 ribu, ditimpali YM "Mau yang cantik? Mesti nambah". Setelah nambah 800.000 total 1 juta akhirnya ketemu wanita yang cocok.. ini cerita di situs resmi YM loh...

Ada juga blog yang jelas-jelas menuliskan sedekah yang diajarkan YM itu keliru. Seluruh artikelnya menuliskan tentang itu. Bahkan ada video yang menerangkan dimana salahnya. Seperti uang yang disedekahkan dijadikan properti atas nama YM, padahal itu uang orang banyak. Bahkan blog itu juga berani bilang bahwa testimoni keajaiban rejeki banyak yang palsu, alias karangan belaka.

Kalo dipikir-pikir enak banget ya, dengan sedekah brutal, baca surat Waqi'ah, surat al Mulk, jadi kaya raya semua tercukupi bahkan akan masuk surga setelah meninggal konon karena kekayaannya sesuai dengan yang Allah perintahkan bila mengikuti ajaran YM. Bahkan ide terakhir YM adalah membeli Indonesia dengan usaha sistem MLM.

Ada lagi investasi sedekah yang mencatut nama YM, dengan model transfer berantai. Tapi karena YM protes... di bundelan itu gak ditulis lagi nama beliau.

Menurutku sih, sedekah itu baik dan pasti ada balasannya. Hanya saja, karena sedekah yang diterima Allah itu yang ikhlas, berusahalah untuk ikhlas. Ikhlas itu artinya bukan rela tanpa terbebani, tapi artinya hanya ditujukan pada Allah, hanya mengharap ridho Allah. Sehingga keinginan untuk mendapat hasil berlipat dihilangkan, siapa tau Allah memberikan di akherat. Tapi minta pada Allah dimudahkan urusan itu boleh... dengan tetap banyak mensyukuri yang kita miliki selama ini.

Catatan pembelajaranku kali ini...

Tulisanku yang lain soal sedekah

Jangan berdoa pada Allah tanpa bersyukur 
Agar sedekah lebih ikhlas 

Hasil dari sedekah semampunya diusahakan ikhlas

24 comments:

Heru Siuplug said...

apa yg dijelaskan ustads YM menurut saya masuk akal dan nggak ada salahnya, pun apa yg disampaikan cak nun juga baik, tapi buat saya mending diambil baiknya saja, toh jaman sekarang jarang orang mau bersedekah, padahal bersedekah itu sendiri, disamping ibadah, juga sebagai sarana sosial agar terjadi pemerataan ekonomi, agama nggak lengkap tanpa hubungan baik ke sosial. ketimbang uang dipakai buat yg mubah atau haram, mending dikasih sentilan biar cepet kaya bersedekahlah, nah itu ntar org2 bakal suka tuh, hehehe

Ratnawati Utami said...

Ini link alasan kenapa sistem sedekah ustad YM sebaiknya dihindari http://thayyiba.com/2016/02/06/3946/bisnis-berdalih-sedekah/

Anonymous said...

Halah yg begini kok dimasalahin. Drpd anda ngobok2 salahnya org Islam, lebih baik kita bersama2 mendakwahkan Islam keluar. Mohon maaf nih kalau aga kasar. Cuma YM biar dikata anda mgkn krg baik dg caranya spt itu, dia sudah berkontribusi banyak dg sedekahnya utk kepentingab Islam. Nah kalau anda apa ?? Saya saja baru dengar nama anda. Sekali lg mohon maaf, saya hanya ingin menyampaikan, tak perlulah kita sesama umat Islam saling menjatuhkan. Msh bnyk cara dakwah yg lain yg lebih efektif caranya.

Ratnawati Utami said...

Anonymous ya...

Ehm... sayang gak berani nulis identitas... saya juga gak akan tau siapa anda kok.

Saya bukan orang terkenal, hanya sekedar blogger amatir menyampaikan uneg-uneg.

Menulis ini untuk meluruskan niat saat sedekah. Soal kontribusi sedekah di tanah air? Semoga anda sudah banyak berkontribusi juga. Semoga kontribusi untuk kebaikan dunia akherat bukan hanya dunia saja. Aamiin...

Lain kali tulis nama jelas ya Mas, saya ini sama sekali gak bisa mengenali anda juga

Heru Siuplug said...

iya paham kok, tapi daripada mbak melihat dari sudutpandang itu, coba deh sempetin juga baca2 tulisan yusuf mansur, ada kok situsnya http://yusufmansur.com/.

nggak ada salahnya kan mencoba mengenal beliau lebih dekat, daripada mbak salah menilai orang juga kan.

Ratnawati Utami said...

Justru malah saya sudah baca, coba lihat postingan sebelum ini. "Membeli jodoh dengan sedekah", "supaya dapat gaji 30 juta perbulan mesti sedekah sekian sekian".

Dalam hal sedekah ada #timCakNun dan #timYusufMansyur . Saya kan bilang sedekah itu bagus, tapi saya memilih sedekah untuk bersyukur dan berbagi kebahagiaan dibandingin sedekah untuk mendapat antara 10-700 kali lipat.

Kalau anda lebih suka metoda sedekah berharap berlipat-lipat silahkan....

Sebagai muslim ukhuwah harus terjaga walau beda pendapat. Di antara buku-buku YM ada pelajaran akhlak juga, mestinya kalau tidak setuju tetap bicara yang baik

Heru Siuplug said...

hmmm, oke oke

Irham Sya'roni said...

Beliau berdua, baik Cak Nun maupun Ust YM, sama-sama telah berkontribusi positif bagi negeri ini. Pesan dan gerakan kebaikan dari mereka berdua sangat positif. Tabik untuk beliau berdua!

Dalam beberapa hal, semisal bisnis VSI yang dulu digagas Ust YM, memang ada sebagian orang (termasuk saya) yang terkecewakan. Tapi, sebagai sesama muslim, saya lebih memilih husnuzhan lalu melupakannya. Bagaimanapun kebaikan dan kontribusi positif beliau jauh lebih banyak daripada kekhilafannya.

Adapun yang terjadi antara beliau berdua sebetulnya hanyalah perbedaan pendapat biasa. Wajar, karena masing-masing meneropong dari sudut pandang yang berbeda.

Semoga kita bisa meneladani kebaikan-kebaikan beliau berdua. Aamiin

Irham Sya'roni said...

Semoga kita bisa meneladani kebaikan-kebaikan beliau berdua. Aamiin...

Ratnawati Utami said...

Seharusnya kalau sudah taraf ustad, dan punya banyak massa mengajarkan hal yang benar. Pertanggungjawabannya berat.

Perbuatan baik bila salah niat atau caranya keliru tidak akan mendapat pahala.

Seandainya sedekah brutal itu dijalani oleh banyak orang, tentunya banyak orang menjadi kaya mendadak, dan tidak ada orang miskin kekurangan. Nyatanya yang berhasil hanya sebagian kecil saja.

Di Islam ada hukum sebab akibat, bila melakukan penzaliman, karena mengeruk sedekah untuk investasi atas nama pribadi, walau sebagian memang untuk jalan Allah, pasti akan ketahuan dan runtuh,

Sebagai hamba yang mencoba melakukan sedekah versi #timCakNun saya hanya mendoakan agar para ustad mengajarkan agar sedekah itu tepat sasaran, niatnya diluruskan lagi hanya karena Allah, dan dengan cara yang benar.

Dan bangsa Indonesia lebih cerdas lagi untuk menilai, mana yang yang sesuai ajaran Islam dan yang tidak.

Sesuatu yang baik harusnya dengan cara yang baik, kalau tidak bisa sia-sia belaka, amalannya tidak diterima Allah.

Irham Sya'roni said...

Dengan segala kekurangan, kesalahan, dan kekhilafan beliau berdua sebagai manusia, semoga kita bisa memetik kebaikan mereka lalu meneladaninya, ya, Mbak. Aamiin

Ratnawati Utami said...

Pendapat saya... ada buku YM yang dibeli almarhum Bapak saya. Yang bagus saya baca. Tapi untuk ke datang ke pengajian beliau saya sudah kurang sreg lagi.

Terima kasih atas komen-komennya yang netral dan berusaha mengingatkan berbaik sangka pada mereka berdua

Irham Sya'roni said...

Setiap orang pasti mempunyai kecenderungan dan kecocokan hati dalam berta'allum. Ada yang cocok dengan syaihk, kiai, atau ini, tapi tidak cocok dengan yang itu. Begitu juga sebaliknya.
Kalau saya pribadi memang tidak pernah mengikuti dan menyimak pengajian Ust. YM, karena sudah biasa dan mengakar belajar kepada kiai atau Ustad di pesantren kampung. :) :)

Anonymous said...

Saya setuju dengan mba
Sedekah itu sebagai rasa syukur kepada MAHA PEMBERI.
karena kita di berikan nikmat lebih dari ALLOH.
dan yg di berikan sedekah pun akan bersyukur kepada Nya dan terciptalah sebuah keadilan .

Aris Munawar said...

Sedekah itu ada level2nya, gak perlu kritik orang yang menyampaikan kalau belum sampai ilmunya.
- Yang imannya masih tipis sedekahnya dikit2 aja, receh2
- Kalo imannya udah sedeng, ya sedekah yang wajar, 10% misalnya
- Kalo imannya udah naekan lg, bisa setengah harta
- Kalo iman udah pol (mentok), bisa seluruh harta, sedekah seluruh harta ini bukan tidak ada contohnya, coba cek kisah sahabat abu bakar.

Aris Munawar said...

Oiya, tambahan mengenai niat sedekah.
Jangan terlalu mempermasalahkan juga apa niat orang bersedekah, karena itu jg bergantung kepada iman, dan itu urusan dia dengan Allah.

- Mungkin awal2 orang bersedekah karna ingin mendapatkan balasan dari Allah (mendapat yg lebih banyak), sama spt orang yg beribadah untuk mendapat surga (bedanya balasan di "sini" & di "sana"). Niat ini tetap jauh lebih baik daripada orang naroh hartanya di bank deposito.

- Kalo dia (si yang bersedekah) sudah merasakan kemudahan rizkinya karena bersedekah, bukan tidak mungkin pada akhirnya dia akan bersedekah karena "syukur", bukan karena pamrih.

Allah sendiri dlm Qur'an banyak koq menggunakan istilah "niaga" atau "pinjam meminjam" denganNya dalam hal sedekah ini. Apa salahnya? Itu pernyataan Allah sendiri lho. "Man yuqridullooha qordon hasanan fayudoifahu lahuu adh'aafan katsiroh" (Al Baqoroh), jelas2 artinya "barang siapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka akan dilipatgandakan untuknya menjadi lipat ganda yang banyak". Dan masih banyak lagi ayat2 lain dengan redaksi serupa.

Intinya, sedekah itu ilmu mencari iman, ada level2 yang akan dilalui oleh seorang yang bersedekah, jika iman seseorang telah sampai pada level abu bakar, maka Anda akan tahu bagaimana nikmatnya menyedekahkan seluruh harta. Wallahu a'lam bishowwab

Ratnawati Utami said...

Pendapat saya ya... untuk mas Aris Munandar...

Manusia yang beriman itu akan melakukan pencarian dalam hal pemahaman agama. Sedangkan kalau hanya Islam KTP akan puas dengan pujian manusia, belajar agama dan praktek tidak akan sungguh-sungguh.

Tugas dari ustad, atau ulama, adalah meluruskan ke hal yang benar. Ustad yang baik akan menunjukkan Islam yang benar itu seperti apa.

Okelah... ada yang beranggapan muslim seharusnya penampilannya sederhana, tapi itu tergantung profesinya apa. Kalau direktur tentunya mesti berpenampilan seperti para kolega lain.

Sekarang ini apa yang kita pelajari hanyalah semu saja. Baju muslim syar'i tapi mahalnya bukan main. Ikut kajian Islam hanya untuk foto-foto saja.

Terpulang pada manusia masing-masing kan.

Sementara kalau sudah berani menjadi ustad, tanggung jawab lebih berat lagi, mengarahkan muridnya ke jalan yang benar kalau keliru kesalahan murid karena ajakannya menjadi tanggung jawab.

Saya hanya mikir... bagaimana bisa, ustad YM yang menulis buku sedemikian banyak (apa tulisan sendiri atau ditulisin) tentunya ilmunya jauh di atas kita-kita ini yang awam, termasuk saya.

Tapi mengajarkan... mau jodoh, beli saja dengan sedekah, mau cantik, tambah sedekahnya. Dan itu ada di web resmi beliau.

Seharusnya jangan hanya menghapal Al Qur'an tapi juga pengkajian makna Al Qur'an juga.

Sepertinya beliau mengajarkan jalan pintas... mau kaya sedekah, gaji besar sedekah, jodoh sedekah.

Semua orang ada kekurangan dan kelebihan. Tapi bila berani mengaku ustad atau berita terbaru ingin menjadi ulama... ajarkan Islam yang benar. Akhlak yang baik, tidak memaksa, berserah diri, berbuat baik tanpa mengharap balasan kecuali ridho Allah... dst.

Saya juga awam... tuh masih banyak yang kritik baju saya tidak syar'i.

Barusan tadi saya lihat di Facebook ada sekelompok ibu buka bersama di hotel berbintang 5 foto-fotoan dengan makanan mewah menyebut kelompok ibu ceria dan sholeha. Kalau bener sholeha harusnya kan makannya di Panti Asuhan, sambil berbagi... malu kalau mewah-mewah gitu ngaku sholeha... (menurut saya loh)

Aris Munawar said...

Sebelumnya maaf, saya tidak pandai menjelaskan kepada orang lain, tapi saya juga kurang setuju apabila pesan-pesan Allah hanya dipahami dari satu sisi saja.

Saya sendiri yakin bahwa mengenai sedekah, Allah jg memberi kita pilihan2, kalo memang kita lg susah & bener2 susah, tidak masalah sedekah dengan niat agar dipermudah (istilahnya dibalas dengan yang lebih untuk mencukupi kebutuhan kita).

Level iman orang yang sedekah dengan mengharapkan balasan (lebih banyak) dari Allah ini tetap jauh lebih tinggi dari pada orang yang susah lalu berhutang (ini yang sering terjadi). Karena orang yang susah kemudian sedekah, dia yakinnya masih sama Allah, dia yakin bahwa Allah-lah yang mampu mencukupi kebutuhan dia, dia korbankan apa yang dia punya, supaya Allah mengganti yang lebih baik (atau lebih banyak).

Berbeda dengan orang yang susah kemudian berhutang, dia sudah tidak yakin Allah mampu menolongnya dalam waktu sesingkat itu, akhirnya dia lebih bertawakkal kepada tetangganya / kepada bank daripada kepada Allah. Dia fikir, "Uang tinggal sedikit daripada buat sedekah mending disimpen, sisanya ngutang".

Dan di Al Quran itu ada redaksinya sendiri2 loh, ketika Allah Menyuruh kita infaq/sedekah untuk dilipatgandakanNya, atau infaq/sedekah untuk mengharap ridhoNya. Setidaknya kalau dirangkum ada 2 bahasanya:
1. Memberi pinjaman kepada Allah untuk dilipatgandakanNya menjadi lipat ganda yang banyak (6 ayat)
2. Membelanjakan harta untuk mengharap ridho Allah (3 ayat)

Silahkan ditelaah sendiri apa ayat2 tersebut mau digabung menjadi satu makna yaitu "mencari keridhaan Allah".

Yang jelas, tidak mudah mengajak orang-orang untuk mau sholat atau mau bersedekah untuk mengharap keridhaan Allah, apalagi orang-orang awam ya. Lebih mudah mengajak mereka untuk sholat dengan iming2 surga / ditakut2i akan neraka (anak2/awam) atau untuk bersedekah dengan iming2 diganti sama Allah dengan yang lebih banyak. Ketika mereka sudah merasakan nikmatnya ibadah, barulah kita bisa menyisipkan akan pentingnya memperbaiki niat kita hanya mengharap ridho Allah. Bahkan tidak sedikit, orang-orang yang mendapat keyakinan akan ridho Allah itu ketika mereka mulai sedekah (agar dibalas), akan tetapi perjalanan sedekah itu Allah atur sedemikian sehingga orang tersebut naik tingkat yakinnya.

Wallahu a'lam bsw.

Ratnawati Utami said...

Gini Mas ya...

Kita hidup itu melakukan pencarian terus dan terus.

Dulu sempet booming Aa' Gym kan... kita jadikan beliau panutan. Setelah beliau poligami ibu2 kecewa gak mau dengerin beliau lagi. Seandainya Aa' Gym pas lagi ngetop-ngetopnya itu nyaranin... ayo atasi masalah dengan berbuat baik, menolong orang termasuk dengan sedekah, pasti orang akan melakukan itu. Cuman saat itu Aa' Gym lebih ke arah "Jagalah hati jangan kau kotori". Era beliau sudah selesai.

Lalu muncul era "atasi semua masalah dengan sedekah". Dengan hitungan matematika sedekah bla bla bla.

Ajaran YM, mau dapat gaji 30 juta sedekahnya mesti jutaan tiap bulan.

Ngajarin sedekah itu tidak salah, hanya kalau sudah berani menjamin... pasti kaya dengan sedekah, bayar segini ke saya, nanti masalah anda teratasi... itu mengarah mengajari syrik.

Beberapa pemuka agama mulai mengkritik ke ustad YM, anda itu ngetop banyak yang ngikutin anda, mengajari sedekah itu baik, tapi bila dikomersialkan, itu namanya anda menjual ayat dan tidak mendapat pahala, bahkan mengajari umat ke arah syrik.

Yang melakukan pencarian Islam yang benar, akan tahu itu. Tapi yang mencari jalan pintas ya manut2 aja sama YM.

Bukan masalah keimanan kurang atau sudah kuat Mas... tapi pencarian sebetulnya Islam yang benar itu seperti apa. Keimanan kurang terus belajar Islam malah mengarah ke syrik gimana coba... bahaya gak?

Anonymous said...

Silahkan anda jadi pendakwah jika ingin meluruskan jangan cuma braninya di blog kayak gini karena cuma sebagian orang yg bisa baca...karena kalo gini anda terkesan sebagai haters

Ratnawati Utami said...

Mas, saya bukan pendakwah. Saya hanya meluruskan cara sedekah saya. Setelah bantu orang ya sudah, gak mengharap balasan duniawi.

Mau dikatakan haters silakan... komentar anda juga hater untuk saya... sama saja toh

nurlaila ruswida said...

Waduh-waduh..astaghfirullah ... Knp soal sedekah aja pake diperdebatkan sich.. Harusnya sebagai umat islam kita hrs bisa menyikapinya..ambil aja yg baik, yang jelek g ush dipake, kalo g sesuai sm hati y gk ush diikuti, tapi jangan menjelek2 kan org lain.. Kan sm seperti kejadian SARA antara umat yg saling berfikir bahwa agamanya yg paling benar.. Sudahlah kalo g mau ngikutin ajaran seseorang y g ush diikuti, biar para ulama pintar yg ilmunya tinggi aj yg berdebat... Gt aj kok repot!!!

Ratnawati Utami said...

Begini mbak...

Saya hanya mengungkapkan pendapat saya bahwa saya suka membaca buku ustad YM. Buku beliau bagus-bagus.

Yang jadi masalah, saya tidak cocok dengan cara beliau mengumpulkan sedekah dan menjanjikan uang banyak kalau sedekah... begitu.

Yang namanya ikhlas itu tidak mengharap duniawi... ya sudah...

Terima kasih masukannya

Dila said...

Bukan Ustad YM yang janjiin. Allah yang janjiin akan mengganti dengan balasan yang banyak. Bagus berharap pada Allah drpd selama ini gak berharap sama Allah, begitu kata favorit Ustad YM. Mbak Ratna santai saja. Jangan kayak ga ada kerjaan. Ustad YM menggalakkan program sedekah. Dan mereka yang bersedekah, sudah merasakan. Mbak sendiri sdh coba? Sedekah ekstrem? Kalau belum ya pantes. Sudah baca2 buku Ippho Santosa? Bukan Ustad YM aja yg menyerukan
Bill Gates malah nyuruh lebih dahsyat lg. Lebih baik urus yang lain drpd mencela Ustad YM atau siapapun. Urus yang benar2 patut diurus. Yang baik jangan.