Monday, June 13, 2016

Menjadi manusia yang lebih baik

Aku tidak ingat sejak kapan aku berusaha menjadi orang yang lebih baik. Sejak kecil aku cuman merasa hidupku kayak robot aja. Ngikutin alur yang ada. Sekolah, menikah, punya anak. Gak ada greget... hidup itu sebetulnya untuk apa.

Lalu kehidupan mulai berubah aneh sejak aku mengalami kekosongan akut. Iya, aku depresi. Depresi parah. Rasanya pengen bunuh diri. Aku tidak berhasil menghandel masalah yang menimpaku. Bolak-balik ke psikolog juga begitu begitu aja.

Sudah tipis sekali dengan kegilaan, perawatan di rumah sakit jiwa. Aku tidak mau menyalahkan penyebab orang yang menjadikan aku seperti itu. Perasaan diabaikan itu memang menyakitkan. Dulu punya suami yang ceria saat di kantor dan mengamuk saat di rumah itu menyesakkan.

Seseorang datang mendekatiku dan bilang mau menyembuhkan aku. Mengaku punya ilmu tinggi dalam hal tasawuf. Lalu apa yang terjadi. Aku akhirnya mengetahui dia belajar tasawuf saat ada guru spiritual membungkus tubuhnya dengan kain kafan, supaya kemampuan gaibnya muncul. Akhirnya dia sangat menikmati jalan-jalan di alam gaib, katanya bertemu dengan orang yang sudah meninggal setara Wali. Di alam gaib dia belajar ilmu tingkat tinggi, katanya sih, tapi di dunia nyata dia tidak bisa menghasilkan uang, cuman jadi parasit keluarga. Dia juga suka nulis buku yang tulisannya coret-coretan gak jelas kata dia ilmu tingkat tinggi.

Aku juga belajar tasawuf, dari guru lulusan Al Azhar Mesir mengupas buku Imam al Ghazali. Yang ngajak sepupuku. Dari situ aku tahu bahwa harusnya tasawuf adalah ilmu pembersihan hati, dimana kita jangan menyakiti hati orang lain, tidak terpaku masalah duniawi.

Pada titik tertentu aku meninggalkan laki-laki yang pernah dipocong saat hidup itu. Dan apa yang terjadi, dia membuat facebook yang statusnya khusus untuk menghujat aku. Gimana bukan hujatan jelas-jelas menyebut namaku dan mengatakan "tempatmu di neraka, ilmumu cetek, gak ada sekuku jari ilmuku". "Dasar pelacur murahan, nyari duniawi, nyari laki-laki kaya". Seperti itulah kira-kira, aku punya screenshot statusnya.

Aku menulis blog itu soalnya aku merasa perlu menulis. Aku bergabung dengan komunitas indigo. Di situ ada beberapa menerawang aku dan bisa menceritakan detil soal laki-laki yang menghujat aku di facebook itu, walau sekarang facebooknya sudah didelete.

Keputusanku untuk bergabung dengan dating site memang ketidaksengajaan, dapat e-mail terus ngeklak-ngeklik pasang foto di aplikasi TWOO, terus BADOO. Gak ada laki-laki bener di situ, ngobrol gak ada yang nyambung. Akhirnya aku gabung dating site.

Lingkunganku tidak mendukungku untuk banyak kenalan dengan laki-laki seumurku. Aku bekerja sebagai guru TK, dan punya toko online jadi lebih sering di depan komputer.

Dari dating site... reaksi orang macam-macam deh. Aku pribadi beranggapan bahwa dating site hanyalah sarana untuk bertemu orang. Tapi banyak beranggapan, mbok yao kenalan di dunia nyata aja. Pekerjaan, lingkungan, bukan tempat ideal mencari pasangan yang aku cari berumur sekitar 50an.

Orang Indonesia punya anggapan bahwa dating site itu untuk yang putus asa. Memang benar. Sejauh aku dapat pesan dari orang Indonesia di dating site, kenalannya sama yang punya cerita tragis. Didepak istrinya yang bos di kantor, perusahaannya bangkrut, pokoknya gak nemu orang yang dewasa, tenang, sedang berada di puncak kesuksesan.

Sedangkan orang luar yang aku temui, itu beberapa... memang sedikit sekali persentasinya, benar-benar karena sibuk karena pekerjaan mereka di luar yang menuntut dedikasi tinggi, dan gak bisa punya pembantu kayak di Indonesia.

Setelah dekat dengan beberapa... ada 3 gagal... Amerika, Kanada, Australia... akhirnya ada yang sempet deket banget. Dia mengajari aku supaya "MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK,  BUKAN MUSLIM YANG BAIK". Dan ini ironis, aku ketemunya di dating site berpusat di Inggris yang cukup Islami.

Apa yang terjadi, setelah setahun dia mulai mengamuk, ngomong kasar, ngatain aku "loser", "I'am embarassed when near you because you are mentally ill", "bitch".. dan sederet kalimat menyakitkan lainnya.

Aku move on deh, minta pisah di bulan Januari 2016. Di bulan Ramadan 2016 dia ngontak, bilang dia sudah berubah gak ngomong kasar lagi, dan masih cinta sama aku.

Terus aku ketemu laki-laki di Inggris yang janji mau datang setelah Ramadan. Dia menyarankan aku membaca buku Think and Grow Rich supaya "MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK". Di bulan Ramadan ini kita mengurangi chatting, kebetulan kantornya sibuk dan di Inggris puasanya lama banget sekitar hampir 19 jam, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya 13 jam.

Jarang kontak-kontakan membuat aku ragu, beneran gak sih dia mau datang. Dia bilang, berpikirlah positif aja waktu aku bilang kalo dia gak serius, mending aku patah hati sekarang dan move on.

Di puasa hari ke 8 ini, aku kena flu, agak demam dan gak bisa produktif seperti biasa. Mencoba intropeksi diri. Kegelisahanku gak sabar untuk menunggu keturunan Pakistan di UK itu harusnya menjadikan aku lebih produktif.

Aku beberapa kali video call, rutin sebelum Ramadan, dan aku memang merasakan sesuatu yang lain sama dia. Sama yang sebelumnya gak ada perasaan khusus. Itu membuat kegelisahanku jadi menguat.

Intropeksi diri membuatku memutuskan bukan move on dari dia, tapi berserah diri pada Allah sajalah. Dulu aku pernah bersikap, aku melakukan semua karena Allah, dan seandainya ada yang bertentangan tapi tidak membuat Allah ridho akan aku tinggalkan.

Perasaan ingin ketemu membuatku bersikap negatif lagi. Aku sempet mikir "please come, if not just kill me". Rasanya menyesakkan banget. Aku mau merubah cara berpikirku sajalah. Dia datang atau enggak, yang penting aku tetap berusaha mendekatkan diri pada Allah, melakukan hal yang Allah ridho, bukan hanya sekedar ritual agama saja.

Demam ini membuat aku jadi berpikir... semoga menjadi manusia lebih baik...


No comments: