Menghadapi virus Covid 19 secara spiritual sains dari David R. Hawkins penyusun Peta Kesadaran (Map of Consciousness)

Leave a Comment

 

MENGHADAPI VIRUS COVID 19 MENURUT DAVID HAWKINS PENYUSUN THE MAP OF CONSCIOUSNESS 
Oleh: Amy Daruslan 

Dulu banyak orang bertanya, bisa gak jadi kaya raya dengan menaikkan kesadaran spiritual? Ritual apa ya supaya cepat kaya raya? Pake doa-doa aja supaya jadi "spiritual". Tapi kali ini pertanyaannya berubah menjadi, "Bagaimana menyembuhkan virus C19 secara spiritual". 

Spiritual itu bukan doa-doa, itu hanyalah ritual saja. Spiritual berarti membahas spirit. Ini bagi yang mau percaya saja, kalau lebih suka spiritual diartikan sebagai ritual keagamaan, ya monggo saja, tidak usah dilanjutkan membaca tulisan ini. Jadi manusia sebetulnya adalah spirit yang meminjam tubuh berbentuk 3 dimensi di planet bumi. 

Paradigma untuk sains yang berbentuk  (pradigma sains material) disebut paradigma Newtonian yang 4 dimensi, yaitu hal yang berbentuk 3 dimensi ditambah waktu.

"The classic Newtonian four-dimensional universe is often described as a giant clockworks, with the three dimensions of space manifesting linear processes in time." (David R. Hawkins - Power vs Force - halaman 68).

Hanya saja manusia itu lupa (memang dibuat lupa pernah tinggal di surga saat akan lahir ke planet bumi), sebagai makhluk surga yang saling memancarkan energi kasih sayang malah suka menyalahkan, perang, bunuh diri, memaksakan kehendak. 

Di planet bumi tugas manusia hanya menyempurnakan evolusi. Semua agama mengarah ke satu Tuhan. Seharusnya dengan beragama semakin memilih perdamaian bukan memilih konflik, apapun agamanya. Jadi manusia yang sebetulnya makhluk surga tidak dibatasi bentuk 3 dimensi, malah tersesat di planet bumi lupa jalan pulang karena mengikuti kebencian, kemarahan, dendam gak selesai-selesai. 

Manusia itu di planet bumi tugasnya menyempurnakan evolusi supaya kembali ke Tuhan, boleh sebut ke surga lebih atas lagi. Tapi banyak yang tersesat. Di kesadaran rendah tersesatnya semakin jauh, mencari bantuan, tapi informasi tidak didengarkan. Atau sudah dikasih tau tentang pilihlah mengampuni, kasih sayang, damai tidak mau didengarkan lebih memilih balas dendam atau bunuh diri, atau mencari kebahagiaan palsu dengan narkoba, salah satunya sabu. Kenapa ada orang tajir melintir masih tergoda menggunakan sabu? Untuk mencari sensasi kebahagiaan palsu? 

Kebahagiaan sejati muncul karena level kesadaran naik. Bahkan di level tercerahkan (pada peta kesadaran orang tercerahkan itu di level 600 ke atas) dunia itu sudah sempurna, semua terjadi karena evolusi spiritual. 

"We can see that the subjective experiential world is a consequence of the calibrated level of consciousness arising from within, independent of external events. Thus, it is impossible to accurately ascertain the true reality of the world as it is because one only experiences the world as it is perceived. When seen from the highest level, the world is perfect as it is because it offers the maximum opportunity for spiritual evolution." (David R. Hawkins - Reality, Spirituality, and Modern Man - halaman 233).

Apa yang kita lihat di dunia adalah sesuai kesadarannya. Di kesadaran tinggi dunia ini sempurna karena memberikan kesempatan maksimum untuk evolusi spiritual. Saat spirit meninggalkan tubuh, kita akan kembali ke Tuhan apabila hati kita mengarah ke cinta Tuhan. Dan ini berarti semua emosi rendah sudah dilampaui. Semua orang melakukan tindakan karena mereka berada di emosi mana? Kemarahan, kekecewaan, ketakutan, rasa bersalah? Emosi-emosi tersebut destruktif. Sedangkan kasih sayang, damai itu konstruktif, menyembuhkan.

Cinta (bukan romance seperti digembar gemborkan di media massa) ini bukanlah emosi, ini level kesadaran manusia. Langka, hanya 4 persen (saat buku Power vs Force ditulis) manusia pada kesadaran ini di planet bumi. Sehari-harinya bicara tentang kasih sayang belum tentu berada di kesadaran ini, pakai jubah seperti manusia suci juga bukan pertanda dia di level ini. Orang di level kesadaran cinta energinya menyembuhkan. Lebih kuat lagi energinya saat naik ke Unconditional Love atau cinta tanpa syarat. 

The actual healing of the physicality of the illness is letting go of resisting the inner physical experience of it without any mental label. At the same time, in fact, we begin to cancel the mental label and replace it with the truth. We cancel by affirming, "I no longer believe in that. I am an infinite being, and I am not subject to that. I am only subject to what I hold in mind." (David R. Hawkins - Healing and Recovery - halaman 52).

Kita mulai mengcancel dengan mengafirmasikan "Saya tidak percaya itu. Saya adalah makhluk tanpa batas, dan saya tidak terkait dengannya. Saya hanya subyek pada yang saya pegang di pikiran mind." 

Apa bisa semudah itu hanya berafirmasi tidak akan terkena C19? Kembali lagi, sesuai tingkat kesadaran spiritual. Bukan doa atau ritual, tapi untuk menaikkan kesadaran spiritual adalah memilih untuk hidup dengan kasih sayang, pengampunan, dan kedamaian. Berbuat baik pada semua orang, dimulai dari diri sendiri. Bila ada perasaan tidak nyaman bukan ditekan dengan bersandiwara semua baik-baik saja, terima sajalah, bahkan perlu untuk dirasakan lagi sehingga energi di balik perasaan itu keluar, dan bisa merasakan lebih ringan. Beban sudah dilepaskan.

Silakan bergabung ke grup telegram

https://t.me/MOCHawkins
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment