Menyambung silaturahmi (berbaikan setelah bermusuhan)

Ada sedikit salah kaprah dalam pemahaman di Indonesia tentang silaturahmi. Waktu aku ikut pengajian kebetulan pembicaranya dari keturunan Arab menjelaskan, bahwa silaturahmi adalah hubungan keluarga, berdasarkan darah atau perkawinan. Hubungan bukan keluarga namanya ukhuwah. Tapi di Indonesia silaturahmi dianggap seperti berteman.

Aku sendiri menganggap sesama orang beriman sudah ibarat saudara. Jadi mau menggunakan istilah silaturahmi atau ukhuwah tidaklah masalah, yang penting ngerti gitu aja. Masalahnya tidak semua beriman, jadi tidak semuanya mau belajar dan mengamalkan ajaran Islam. Di Islam diajarkan untuk lebih baik berteman  yang beriman dan shaleh, karena mereka pasti berusaha mengamalkan ajaran Islam yang dipelajarinya, walaupun awalnya berat memulai.

Menyambung silaturahmi tidak hanya sekedar berteman ngumpul dengan teman-teman, tapi arti sebenarnya menyambung silaturahmi adalah memperbaiki hubungan kekeluargaan yang retak. Hal yang sulit dilakukan, karena menguatkan hati untuk berbaikan lagi setelah bermusuhan. Dan diutamakan keluarga dulu. Orang yang besar jiwanya mau menyambung silaturahmi akan mendapat rahmat dari Allah, tidak hanya itu orang yang selalu berusaha menyambung silaturahmi akan banyak rejekinya.

Orang yang menguatkan hati, besar jiwanya, mau memperbaiki permusuhan akan mendapat rahmat dari Allah. Minimal berusaha untuk minta maaf, bagi yang dimintain maaf gak mau nerima, maka orang yang tidak mau memaafkan dan suka bermusuhan ini sebetulnya sudah menjadi manusia golongan tidak masuk surga. Padahal hidup hanya sebentar, kita itu tidak punya apa-apa kecuali hanya titipan dari Allah. Tapi berat ya, memaafkan orang yang berbeda pendapat walau maksudnya sebetulnya baik mengingatkan akan kebenaran...

Sumber dari sini

Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.

Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”

Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba

Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”

Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”


Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”

Comments

Post a Comment