Monday, July 1, 2013

Menurut Quraish Shihab jilbab tidak wajib bagi muslimah, benarkah?

Yang menulis komentar ngotot bahwa jilbab itu wajib disertai dalil-dalil tidak akan diloloskan, cape deh. Mending bertoleransi menguatkan ukhuwah daripada menghakimi jilbab itu wajib berarti yang tidak pake jilbab masuk neraka semua...

Tentunya ada alasan mengapa Quraish Shihab menyatakan bahwa jilbab tidak wajib, hanya sangat dianjurkan. Dan banyaaaaaak sekali yang mencerca beliau. Ngatain liberal, sekuler, atau munafik. Sampai panas kupingku. Dan saran beliau baju yang pantas untuk muslim itu tidak provokatif, transparan, atau ketat.

Bayangkan, aku bekerja di Yayasan Budi Mulia Dua yang didirikan oleh pak Amien Rais. Saat di ruang makan waktu umrah, ada yang merasa ilmunya tinggi teriak-teriak kalo pak Amin Rais itu sekuler, soalnya PAN memasukkan non muslim dalam partai.

Kadang aku heran dengan pembicaraan para orang "beriman" yang tinggi ilmu Islamnya ini.. Beranggapan yang masuk surga cuman yang bajunya tertutup rapat, orang non muslim diberantas dan yang bajunya tidak seperti budaya Arab diberantas saja.

Aku sangat mengagumi pak Quraish Shihab. Setiap bulan puasa, aku membaca tentang tafsir Al Qur'an. Rasanya pendapatku beliau bukan penganut liberal. Kalo liberal ciri-cirinya mementahkan penafsiran Al Qur'an dan mengganti dengan yang pas sesuai budaya jaman sekarang.

Kita hanya berusaha sebaik-baiknya kan, membantu orang lain, mendekatkan diri pada Allah. Tidak perlu membahas keburukan orang. Kecuali orang itu menzalimi kita dan kita perlu membela diri.

Kalau memang orang itu tidak pernah berusaha menjahati kita kenapa mesti dijelek-jelekkan. Dan memaafkan, mendoakan lebih mulia daripada menjelek-jelekkan. Yang pake jilbab tidak perlu teriak-teriak yang belum pake jilbab masuk neraka. Dan yang tidak pake jilbab tidak usah berargumen banyak pake jilbab masih seksi, celana stretch, kaos ketat. Lalu yang pake cadar cuman sibuk ibadah dan merasa paling mulia tidak mau berinteraksi dengan non golongannya.

Walisongo menyebarkan Islam dengan damai, dengan melalui budaya. Yang disentuh adalah hatinya, bukan membahas penampilan. Kalo hati sudah tersentuh, kita akan lebih mudah tertarik dengan Islam...

BACA JUGA
 


83 comments:

Ario Antoko said...

pemikiranku tetap sama, wanita kalau sholat kan aurat musti tertutup, nah agar sholatnya simpel ga perlu bawa2 mukena (tinggal sholat kayak lelaki)

maka pakailah pakaian islami, jadi tinggal sholat saja

Antok Suryaden said...

setuju... sebenarnya harus melihat budaya nenek moyang juga... kearifan lokal... kenapa harus gontok-gontokan masalah berjilbab atau tidak...

Hiaku Herry said...

Yang tetap memakai jilbab kebanyakan kemauan sendiri, yg ngerasa beban itu yg sudah terhasut pemikiran orang lain saja.
Salah pergaulan juga mempengaruhi cara berfikir seseorang, makanya kalo kebanyakan bergaul sama pemikirannya sok bebas jadi ikut2an maunya bebas.
Ini yg namanya akhir zaman, yang benar terasa berat, yang salah terasa ringan. Sudah banyak orang yg hanya mengikuti hawa nafsunya di dunia saja, ketimbang mencari kenikmatan yg kelak akan dinikmati setelah kebangkitan.

abiarshiq said...

pendapat Quraish shihab soal jilbab ini banyak di tentang, jelas wajib lah memakai jilbab, ga bisa di bandingkan wanita baik yg ga pake jilbab dengan wanita berjilbab tapi ga sholat, anak SD baik tapi ga pake seragam ke sekolah di bandingkan dngan anak SD nakal tapi pake seragam kesekolah? mending yg mana? ya ga 22 nya lah...
mending yang pake jilbab dan mengikuti perintah Allah SWT, mungkin dimata temannya mending wanita baik biar ga pake jilbab.. tapi di mata Allah swt? Wallahu alam bishawab, daripada ntar salah di mata Allah Swt mending jangan cari resiko, jelas wajib lah pake jilbab

"Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).


Jelas Sunni dan Syiah sulit berdampingan, karena perselisihan terjadi di awal Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah, Ali bin abu thalib R.A. marah karena Abu baqar as shidiq R.A. diangkat sebagai khalifah tanpa adanya Ali, dikarenakan beliau sedang memakamkan Rasulullah SAW, terjadilah pertengkaran antara Umar bin khatab R.A. dan Ali R.A. yang mengakibatkan pedang Ali(zulfikar) patah, bahkan putri Rasulullah Fatimah az zahra R.A.(istri Ali)dipukul atau ditendang hingga janinnya gugur(masalah fatimah ini masih diperdebatkan) sumber: buku "Sejarah hidup Rasulullah" (M.Husain Haikal). Akibat kejadian inilah kaum Syiah hanya menganggap Ali R.A. sebagai khalifah karena menurut mereka Ali RA. lah yang lebih pantas mengganti Rasululah, dengan merujuk HADITS GHADIR KHUM

Dr. H. Zainuddin MZ. Lc. MA.
"Hadits Ghadir Khum, adalah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah di sebuah wilayah yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Inti hadits tersebut dianggap sebagai legalitas kepemimpinan Ali ra., dimana dalam pandangan sebagian orang, Ali adalah orang yang paling layak menggantikan kepemimpinan Rasulullah saw. pasca wafatnya Rasulullah saw.

Teks Hadits

عن أبي الطفيل عن زيد قال : لما دفع النبي صلى الله عليه و سلم من حجة الوداع ونزل غدير خم قال: إن الله مولاي وأنا ولي كل مؤمن. ثم إنه أخذ بيد علي رضي الله عنه فقال: من كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه.

Dinarasikan Abu Thufail, Zaid ra. berkata: Ketika Nabi saw. pulang dari pelaksanaan haji Wada’, dan beliau singgah di tempat Ghadir Khum, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah adalah maula saya dan saya menjadi maula bagi setiap mukmin. Kemudian Nabi memegang tangan Ali ra. seraya bersabda: Barangsiapa yang saya menjadi pemimpinnya, maka dia (Ali) pun menjadi pemimpinnya. Ya Allah dukunglah orang yang mendukung dia dan musuhilah orang yang memusuhi dia. (baca selengkapnya http://konsorsiumhadis.wordpress.com/2012/03/01/hadits-ghadir-khum/)

jadi siapa yang benar? syiah-sunni?
wallahu alam bishawab

tapi menurut aku sih mungkin Allah Swt membuat Islam berbeda-beda dan bergolngan-golongan agar kita berfikir dan mencari tahu tentang Islam, dengan mencari tahu kita bisa meyakini sesuatu yang benar dan yakin dalam beribadah baik itu Ibadah Mahdhoh maupun Ghairu Mahdhoh, bukan sekedar Islam warisan ortu

Wassalam,

sorry kepanjangan "Indigo" kali..hihihi

Ami said...

@Rio, gak afdol ah pake baju muslimah terus shalat. punggung tangan masih kebuka, lagian aku seringnya pake celana panjang

Ami said...

@Antok, aku cenderung ngikutin kebijaksanaan Wali Songo jaman dulu, dibikin hatinya nyaman dulu. Diajak berkesenian, bukannya langsung diceramahin. Insya Allah, ada yang tergerak untuk meningkatkan keimanan menjadi lebih baik

Ami said...

@Abiarsiq, aku tetap berpendapat bahwa jilbab tidak wajib tapi sangat disarankan. Paling tidak suka ada yang ngomong yang masuk surga hanya yang pake jilbab sampe perut.

Ridho Allah bisa turun pada siapa saja yang mau bertaubat lalu berbuat kebaikan dengan mengorbankan harta dan jiwa untuk menyelamatkan yang sedang kesulitan.

Tetap berteman dan tidak mempermasalahkan dia pake jilbab atau enggak...

Soal Sunni dan Syiah, di Indonesia ini Syiah dan JIL sepertinya bernaung di satu wadah. Memang tidak mungkin bersatu. Tapi paling tidak jangan saling menghujat. Soal surga itu hak prerogatif Allah, senang menghujat orang yang tidak mengganggu kita bisa jadi kita jadi lebih buruk.

Tapi perlu melindungi keluarga agar terhindar dari ajaran Islam yang masih kurang pas menurut kita.

Soal kenapa aku membahas seseorang yang aku sebut namanya, itu lain lagi. Masuk daftar pe-er hidupku yang mesti aku pecahkan. Akhirnya ketahuan bahwa gaya sufi yang kumuh, lusuh, berjenggot panjang, hanyalah ritual menempuh amalan sesat dari kitab yang dijadikan pegangan penuh dengan mantra syirik

Ami said...

@Herry, berteman memang mesti hati-hati, bisa mudah terpengaruh

Ibnul Fatih said...

@Ami: Hukum mana yang lebih diutamakan? Hukum ALLOH ataukah hukum perkiraan manusia?? Islam sudah Kaffah, Quran sudah selesai. Tapi mengapa masih menggunakan hukum yang dikira-kira??
Wali Songo berdakwah seperti itu karena saat itu yang didakwahi adalah Hindu, Budha, Atheis dan Kepercayaan. Sementara yang sekarang kita bahas adalah Muslim lagi.
Jadi kalau berbicara dengan muslim, gunakanlah bahasa Qurani.. Toh itu yang dijadikan landasan..
"Kutinggalkan dua perkara, jika terjadi permasalahan, maka kembalikanlah pada kedua perkara ini. Dialah Al-quran dan As-Sunnah" begitulah kira-kira pesan rosululloh..

Ratnawati Utami said...

@Ibnul Fatih, saya memilih untuk menghargai semua yang saya kenal baik dia menggunakan kerudung atau tidak. Tidak akan berprasangka bahwa yang bisa masuk surga hanyalah yang menggunakan kerudung saja. Soalnya mertua kakak saya sehari-harinya tanpa kerudung meninggal saat naik haji.

Kalo bicara soal baju muslimah syar'i nanti panjang, gak boleh pake kerudung pendek, gak boleh pak celana panjang mesti rok, bahannya mesti tebal. Belakangan mesti pake cadar. Saya milih berbaur sajalah. Barangkali kita memang beda paham, itu bisa saja, kita akan pertanggungjawabkan amalan kita di akhirat masing-masing. Saya mencintai dan menyayangi semua teman-teman saya tidak ingin berprasangka buruk

Ibnul Fatih said...

@Ami: Saya setuju bila kita berbicara masalah saling menghargai ataupun toleransi..^_^.. Namun afwan loh ya.. ini masalah hukum, kita tetap harus tegas, sama seperti halnya wajibnya sholat.
Apakah kita mempermasalahkan dengan orang yang tidak sholat..??? Apakah muslim yang tidak sholat lantas kita musuhi..??? Lucu juga baca komen di atas.. :)
Mohon maaf mba ami, bila kita berbicara masalah hukum, tidak bisa kita milah-milah.. Namun toleransi dan hubungan juga sudah ada aturannya kan..???
Jilbab atau hijab sudah ada hukum wajibnya dalam Quran, dan kita sebagai makhluk wajib untuk mentaatinya.. Bilamana ada yang tidak menjalankannya, itu kembali kepada dirinya dan penciptanya yang sudah membuat aturan dan dilanggarnya..
Memang benar masalah Syurga ataupun neraka hak prerogatif ALLOH, namun ada rambu-rambu yang sudah dibuatkannya..^_^
Semoga ALLOH senantiasa melindungi kita semua yang ikhlas menjalankan SyariatNYA.. Aamiin..

Ratnawati Utami said...

@Ibnu Fatih, lucu ya komen saya. kalo gitu kita ketawa sama-sama deh. saya memilih menggunakan kerudung. dan barangkali tidak begitu syar'i menurut kalangan tertentu. karena saya pake kerudung diikat dan masih pake celana panjang.

saya sudah sejak awal belajar Islam di kepala saya terngiang-ngiang kata untuk berbaur dengan lingkungan dalam arti tidak eksklusif hanya belajar dari guru kelompok sendiri, apalagi pake cadar. pake cadar itu pilihan, dan itu bukan pilihan saya.

barangkali anda dan istri lebih suka jilbab syar'i yang lebar, itu juga pilihan.

Kalo jawaban saya dianggap lucu saya juga pengen ketawa. terima kasih atas komentarnya

Ibnul Fatih said...

Mba Ami yang Insya ALLOH bersama dalam menapaki Jalan dakwah ini, Mohon maaf bilamana komentar saya kurang berkenan. Sekedar meluruskan saja, yang kita bahas adalah wajib atau tidak nya berjilbab, bukan membahas jilbab syar'i atau tidak ^_^.. Mohon Mba Ami lebih bijak dalam menanggapinya.

Wajibnya jilbab sudah jelas seperti halnya wajibnya sholat, masalah pakai atau tidak, sholat atau tidak, kembali kepada manusianya.. Syar'i atau tidak jilbab yang dikenakan, khusyu' atau tidak sholat yang dikerjakan, itupun kembali kepada manusianya.. Namun kita harus memiliki sebuah ketegasan bahwa sholat adalah wajib, dan Jilbab adalah wajib.. ^_^
Masalah cadar, atau lain halnya, silahkan itu kembali kepada pemahamannya wajib atau tidak, budaya atau bukan, itu baru kembali kepada pelakunya, yang jelas.. jilbab adalah wajib..
Maaf ya mba ami, mohon dibijaki permasalahan ini.. Syukron..
Semoga ALLOH senantiasa mengistiqomahkan kita dalam menapaki jalan ini.. Aamiin..

younger said...

menurut pendapat saya jilbab itu tidak wajib tapi sunah muakad. Karena
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.”
(QS. An Nur: 31)

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab: 59)
dari ayat di atas tidak ada kata menutup rambut.... serta tidak ada larangan hanya imbauan dari kata hendaklah....
tapi berhubung ilmu agama saya masih rendah saya mohon pencerahannya! trims...

Anonymous said...

sebenarnya saya setuju dengan pendapat abiarshiq, jilbab itu memang harus, namun ini semua bentuk dari dakwah,

nabi diperingatkan untuk lemah lembut dan ramah dalam menyampaikan islam.
sbnernya hukumnya itu sudah jelas diperintahkan utk menutup aurat, namun apa org islam bisa langsung mnjd org islam yg sempurna, tentu itu semua ada tahap2nya, apakah bila ada org mabuk bertanya bolehkan saya sholat, boleh asalkan harus sadar dan suci, apa yg terjadi jika kita mnjawab tidak boleh, mereka bisa2 malah kabur dan tidak mau mengikuti ajran islam,
saya teringat dg seorang ulama di masjid sy, ada ank2 yg ribut lalu mereka dimarahi sampai mereka seolah bingung karna malu, akhirnya mereka skrg tidak pernah pergi ke masjid lagi, sbaiknya tidak sperti itu kita mngingatkn, kita harus mngambil hatinya pelan2 lalu setelah islam merasuk di dalam hatinya secara perlahan kita bisa sempurnakan,
kita yakinkan dl hati kita, baru kita bisa sempurnakan, :)

maaf sy hanya mendengar kuliah shubuh barusan di masjid saya, saya hanya menyampaikan, tidak ada rasa untuk menambah atau seolah2 sok tau, :)

Ratnawati Utami said...

Tidak semua orang beruntung lahir di keluarga Islam yang taat. Bahkan definisi taat bisa berbeda-beda.

Banyak temanku beranggapan dia Islam taat, tidak pake kerudung, shalat hanya menggugurkan kewajiban tanpa meresapi makna Islam. Yang salah siapa? gak ada yang salah, karena dia hanya mengikuti lingkungan dan kata hati saja.

Saya sangat menghargai orang yang mau merubah diri jadi lebih baik, mau belajar Islam. Pengajian diamalkan, tidak hanya diambil sepotong-sepotong untuk mengatasi masalahnya.

Abiarshiq barangkali sudah paham Islam, belajar Islam. Apa terus mencibir wanita tanpa jilbab, beranggapan masuk neraka? Dan yang pake jilbab dijamin masuk surga. Memangnya siapa yang menjamin wanita berjilbab masuk surga?

Abiarsiq juga nulis tanpa link, ada di link saya tapi gak jelas kemana. Komentar panjang lebar tanpa solusi.

Saya kurang respek dengan orang yang merasa dirinya pintar, menjudge yang belum pakai kerudung masuk neraka, yang berhak masuk surga hanya yang pakai kerudung.

Yang belum pake kerudung masih punya kesempatan taubat lalu derajatnya ditinggikan oleh Allah. Sedangkan yang pake kerudung bisa saja terjerembab riya' atau syrik malah masuk neraka jahanam.

Banyak orang yang pake kerudung ke dukun juga.

Sebetulnya intinya adalah saat kematian dia sedang apa, kondisi bagaimana, menyebut apa. Ciri-ciri yang khusnul khotimah kelihatan di saat kematian, bukan saat hidup pake kerudung atau tidak.

Lebih baik merendah sajalah tidak usah menghakimi siapa yang sudah pasti masuk surga atau tidak.

Terus terang saya prihatin dengan kelompok yang merasa beriman padahal kekuatan imannya dari baca mantra-mantra gak jelas dari kitab gak jelas. Itu saja...

Arif Khumaidi said...

innalillah
"wanita yang menggunakan maupun laki-laki yang mempelototi tidak bisa mencium bau surga."

waduh, bisa gawat ini, tapi pernah ada ustadz yang bilang kalau laki-laki sudah terlanjur melihat perempuan berbaju ketat malah rejekinya -___-" #gak tau itu bercanda atau gak

gimana menurut mbak?
bukannya rambut itu termasuk aurat wanita ya, berarti kan harus sebaiknya ditutup. kalau ngaku muslimah tetapi gak berjilbab gimana mbak?
kan kasusnya kalau memakai jilbab kan aman-aman saja. kecuali diluar negeri yang kadang kala melarang memakai jilbab.

Anonymous said...

Suka sekali dengan jawaban2x penulis blog. Sangat bijaksana.

Dian

Etee Nurhadian said...

Ya iyalah beliau blg jilbab tidak wajib karena keluarganyapun tidak menggunakan

tapi saya bersyukur karena wanita sekarang semakin pandai dgn semakin banyak n bertambahnya muslimah berjilbab...

Anonymous said...

:) biarkan yang menjalani memilih...
Toh tuhannya satu
Ibadahnya sama
Nabinya pun sama

yang lucu, yang maksa-maksa Harus Wajib adalah mereka yang bukan wanita dan tidak akan pernah memakai jilbab sekaligus tidak akan pernah merasakan..

Perbaiki diri sendiri tanpa harus memaksakan ke orang lain

Anonymous said...

bbrp waktu lalu mahfud md ngetweet (balas mention orang) kalo jilbab itu produk budaya & gak wajib, meski begitu istri & anaknya tetap berjilbab.. klo buat sy pribadi berjilbab itu lebih baik drpd tidak, anyway klo JIL yg ngomong gampang mereka bilang sesat (jil berpendapat sama), nah klo mahfud & quraisy?? nah lo.. :)

Rhoni El_Fath said...

menurut saya yang namanya hukum jilbab itu apapun alasanya tetaplah wajib, denag kondisi sekarang memakai celana juga mungkin menjadi hakl yang maklum sehingga diperbolehkan,manun dengan celana yang longgar sehingga tidak menampakkan lekuk badabn seperti pada umumnya, sehingga dikatakan mereka berpakaian tapi seperti orang yang tidak berpakaian. na'uzubillah min dzalik...

Amelya Afryandes said...

Saat sudah ada dalil mengenai hukum suatu hal, maka semua itu mesti untuk diikuti.

Nah, berdebat dengan menggunakan alasan yang 'seolah-olah' benar dan 'seolah-olah' paling tepat berdasarkan logika dan keinginan (anggapan) hanya akan menguras energi.

Untuk itu, cobalah tanyakan pada hati, dengan pendapat manakah 'SEJATINYA' ia merasa lebih nyaman, damai, tanpa merasa tertekan. Insya Allah hati nurani akan menjawab dengan JUJUR tanpa terpengaruh oleh nafsu diri.

Dan hati saya nyaman ketika mengakui bahwa jilbab adalah suatu kewajiban.

Wallahu'alam bishawab.

Ratnawati Utami said...

Menurut saya begini. Seharusnya shalat 5 waktu itu wajib. Tapi kenyataannya banyak yang tidak shalat 5 waktu. Dan kita tidak pernah menasehati orang lain kenapa sih kamu gak shalat... itu urusan mereka masing-masing dengan Allah. Aku shalat, aku berdo'a, aku mengingatkan kamu, ya sudah urusanku selesai.

Lalu sekarang di Indonesia lagi marak wanita bersolek pakai hijab. Hijab bukan karena tuntunan di Al Quran tapi karena merasa lebih cantik dengan hijab.

Soal penampilan ada unsur tradisi. Misalnya jenggot, apa ada jaminan laki-laki pakai jenggot dan celana congklang masuk surga? Bisanya cuman marah-marah menghakimi orang lain katanya tidak mngikuti Sunnah.

Apa ada jaminan bahwa yang menggunakan hijab masuk surga? Niat pakai hijab untuk bersolek atau karena menunjukkan identitas sebagai muslim.

Hidup itu adalah proses. Dan menurut pengalaman saya memperbaiki akhlak jauh lebih sulit daripada memperbaiki penampilan.

Belajar Islam yang benar dulu, baru menggunakan jilbab. Jangan kebalik. Kalau memang prosesnya bebarengan itu akan jauh lebih baik...

Anonymous said...

aq setuju dengan mb ratna,, islam kan artinya selamat.. keselamatan untuk semesta alam yang diturunkan oleh Allah SWT pada manusia lewat Rasulullah SAW. nah iman islam letaknya di kalbu (cahaya hati). jadi berjilbab atau tidak bagi wanita islam itu letaknya dari niat dalam kalbu,, kalau untuk ibadah bagus bgt, tp kalo untuk bersolek dan dijadikan mode saya rasa tidak tepet. dan memang budaya di Indonesia tidak seperti di Arab saudi yang panas dan berdebu. sehingga rambut yg terlihat tetapi di sisi pakaian yg tidak membangkitkan nafsu, saya rasa tidak masalah,, kembali lagi.. tidak berjilbaba tp niat hudup hanya untuk ibadah pada Allah saya rasa akan selamat dunia akhirat. amin

Anonymous said...

Setuju dengan penulis :)

AzZahra Firshanty said...

Terimakasih utk bpk Ibnul Fatih.Byk belajar dr ulasan jawaban bpk. Sangat mengena dihati saya sbg wanita muslim yg baru mulai berhijab.InsyaAllah semakin mantap.

Anonymous said...

["Meluruskan Qurais Sihab dan JIL tentang Jilbab" oleh FAHRUR MU’IS].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah? ” (al-Baqarah : 140).

Allah Ta’ala berfirman,”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS. AL MAA’IDAH: 50).

Allah Ta’ala berfirman, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (ar-Rum: 6-7).

bukannya sok tau, saya cuma menambahkan kutipan dari yang saya baca, Trimakasih ^,^

Ratnawati Utami said...

@Anonymous. Kita lihat aja realitasnya. Setau saya orang yang saya kenal pake jilbab malah tidak lebih baik dari yang pake. Banyak dari mereka berjilbab centilnya bukan main, koleksi baju sampai mubazir, perhiasan. Atau tukang ngegosip.

Manusia itu perlu peningkatan pemahaman, karakter, kepribadian. Bukan masalah wajib atau tidak wajib.

Ada unsur budaya di sini. Waktu ibu saya muda bajunya mini-mini. Gak banyak masalah.

Sekarang katakan JILBAB WAJIB. Wanita pake JILBAB oke. Sebagian bilang tanpa kaus kaki dan kerudung panjang bukan baju muslimah syar'i.

Sekarang ngetrendnya pake jilbab dengan legging bunga-bunga, ketat.

Hidup itu butuh proses pemahaman. Yang terbaik adalah yang mengamalkan Qur'an dan berjilbab sewajarnya bisa diterima lingkungan tidak menimbulkan hawa nafsu.

Saya lebih cenderung LEBIH WAJIB TINGKATKAN BELAJAR DAN MENGAMALKAN ISLAM. Yang sudah punya kesadaran akan menggunakan jilbab syar'i.

Sibuk bahas jilbab wajib atau enggak hanya menguntungkan penjual jilbab saja, tapi saya pilih gak jualan jilbab.

Ratnawati Utami said...

Maksudnya yang pake jilbab karakter dan kedermawanannya tidak lebih baik dari yang tidak pake

Anonymous said...

lucu, seru, dan menggugah saat membaca semua komen di atas. semua berbicara serius tapi seolah banyak candaan juga disana. kadang seseorang tidak sadar dengan apa yang dikatakannya tapi itulah manusia. berbeda untuk melengkapi. kita menapaki jalan yang sama tapi selalu saja beradu kata. itulah kenyataannya, jangankan kelompok besar seperti syiah dan suni, antara orang perorangan saja sudah seperti ini... :-)

diskusi yuk! twitter: @ARZP_7

chuwey said...

Hihi.. Setuju mbak Ami..
yang menyatakan jilbab itu wajib dari hukum Allah padahal manusia juga loh..
Al Quran, yang langsung dari Allah SWT, itu menyatakannya:
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab: 59)

Bagian mana yang menyatakan itu wajib? Nabi aja cuma diminta: Katakan.. bukan perintahkan..

Allah maha pengampun lagi maha penyayang. :)

Dan saya pribadi juga percaya, karena dianjurkan, tentunya Allah lebih menyenangi perempuan yang menuruti anjurannya. Bukan berarti membenci atau melaknat perempuan yang belum mampu menuruti anjurannya.

Sekali lagi, Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Salam.


yanti galib said...

Hmm lagi2 tentang jilbab.Jilbab itu personality sekali.Yang wajib utama sholat 5 waktu.Mengenai jilbab,ketika menjadi istri seseorang,kadang jilbab tdk dianjurkan karena utk menyenangi suami.Pasti saudara2ku yang sdh menikah tertawa mengenai hal2 ini.Tapi memang kejadiannya benar,suamiku tdk suka aku berjilbab,tapi menyukai aku berselendang,berbaju longgar,menutup leher,tangan dan sampai ujung kaki.Sholat 5 waktu harus tepat waktu,mengaji,puasa sunnah,sedekah,senyum,sopan,sabar,ikhlas serta empati pada orng sekeliling.Yang penting menyenangkan suami dulu dengan segala arahannya.Mengenai jilbab aku fine fine saja.Karena yg penting ridho suami,berarti ridho Allah.Saya juga ingin bertanya,saya selalu jumpa sama sesama muslim,berjilbab panjang banget dan kadang2 bercadar,tetapi mereka sepeerti melecehkan orng2 yang lain dari mereka.Kesannya eksklusif,seolah2 mereka benar,orng lain tidak.Urusan apa menjudge manusia lain?Apa mereka tahu amal ibadah manusia lain?Sehingga menjudge orang seperti itu?Satu lagi yang berjenggot dan becelana panjang agak2 pendek gitu(namanya apa ya).Setau ku ada cerita kenapa dipendekkin,karena dulu dlm zaman nabi orang arab waktu itu sangat pongah dan sombong.Jadi kalau diliat dr celananya terlalu dalam mereka akn semakin jumawa dan merasa punya uang utk membelinya.(harap koreksi kalau salah)Jenggot itu kan kenyaman masing2 diri.Nabi katanya berjenggot tapi tak berkumis.Kalau nyaman ya syah syah saja mengikuti,tapi kalau tak nyaman dan merasa tak bersih mukanya,boleh donk tidak berjenggot.Itu saja.Saya baru belajar menulis.Jadi agak amburadul kata2nya.

Anonymous said...

Hendaknya manusia memisahkan halal dan haram. Haram tetap haram spt minum khmer haram, mencuri haram, berzina haram, buka aurat juga haram (bkn utk akwat sja, ikhwan juga nmun dgn btas aurat yg tlh ditentukan).
Sdh tdk ada perdebatan wajib dn tidak, hijab itu wajib, bkn saja qola rasulullah namun qola allah. Semua hukum yg ditetapkan Allah swt dan Rasulullah saw pasti memiliki hikmah dan nilai tersendiri. Jd tdk usah dicari lagi dalilnya utk membenar2kan yg haram. Muslim indonesia sdh trkena subhat Sekuler dan liberalisme, yg muslimah mengatakan tdk wajib hijab, pamer buah dada dan paha sja skalian, krn iman mu lemah, hijab saja diingkari.

Ratnawati Utami said...

@Anonymous, contoh orang yang sibuk ngurus orang lain. Kalimat kenapa gak sekalian pamer buah dada dan paha... pengen ketawa. Sementara laki-laki juga disibukkan ngeliatin buah dada dan paha...

Begini, hidup itu proses. Tidak perlu menghakimi wanita muslimah yang belum berjilbab, mending mengingatkan anggota keluarga dengan kalimat yang baik, gak pake kasar.

Kalo sibuk ngurusin orang lain tentang halal haram, wajib, sunnah, mubah... baiknya pake kacamata kuda aja

Anonymous said...

Wah...... Kotor bgt tuh kata ' pamer dada' ? Pengen ngliat tah? Klo pingin liat yg porno, salah masuk pak, masuk situs porno gih sana..!!

Masalah jilbab itu urusan hati masing2, masalah ibadah, itu hubungan vertikal dgn Allah, manusia gk bisa memutuskan sapa2 aja yg masuk surga atau neraka.

Ojo benere dewe, orang lain salah kabeh. Terlalu bernafsu dan ego besar jika merasa seperti itu.
Yg bilang jilbab itu wajib, knapa gk pake ndiri aja skalian hoy????




ikhwan said...

buat yang gak suka penerangan ayat Al-Quran dari pak quraish atau siapapun coba lakukan penelitian sendiri atas ayat tersebut. coba teliti bahasa arabnya. teliti baik2x. jujur pada diri sendiri bahwa ini untuk mencari kebenaran bukan emosi dan nama baik semata. Allah Maha Pemberi Pentunjuk

kalau boleh saya bantu inti yg perlu diperdalam ada 2 hal yaitu

1. definisi jilbab
2. definisi aurat

sedikit berbagi penenang

bukankah Allah Maha Mengetahui yang ada di hati ? dan bukankah Allah Maha Pengampun ?

jangan terlalu bersemangat menghakimi orang. apalagi secara pribadi kita belum meneliti ayat tersebut.
gak mau terjebak dalam paradigma liberalisme tapi gak mau juga terjebak kebingungan mana islam mana arab. ya mudah2xan mencari kebenaran tujuannya,

Islam itu Lembut kan ?

tetap semangat buat mba pemilik blognya, semoga keberkahan diberikan kepada kita semua amiiiiiiiiiiiiiiin

Anonymous said...

Guru saya selalu mengingatkan, jangan menyalahkan pengajaran ulama sezaman.. Saya dalam banyak hal sependapat dgn apa yg disampaikan beliau, krn dalam menjawab pertanyaan, beliau mengumpulkan banyak pendapat dan tidak menyalahkan salah satu pandangan walau beliau juga memiliki pandangan sendiri. Dan krn pendapatnya beliau di sangkakan penganut syiah. Pdhl Jangan kita menilai/melabeli seseorg pdhl hal itu belum tentu kebenarannya.. Apakah yang bersangkutan dengan jelas kepada khalayak kalau beliau syiah? Toh kalaupun beliau berbohong
.biarlah itu menjadi tanggung jawab beliau kepada Allah SWT.

Kembali ke jilbab..
Buat saya, tidak perlu menghakim dan merasa dirinya paling baik atau paling pintar. Jalani saja. Hal2 yg berkaitan dgn ibadah urusannya lgs ke Allah. Dan antar manusia harus tetap baik tanpa prasangka dan justifikasi. Buat para istri,ridho suami adalah ridho Allah..

Oya, td di metro tv acara pas sahurnya pak qurai shihab lo. Ada yg tanya gimana kalo ada suami yg tdk izinkan istrinya berjilbab. Beliau menyebutkan semua pendapat orang, dan di akhirnya beliau berkata : lebih memilih menjaga keutuhan keluarga SELAMA MASIH ADA DALIL/PENAFSIRAN yg berkaitan dgn hal tsb krn,walupun boleh, perceraian itu dibenci Allah. Meskipun menurut saya (beliau) sangat aneh jika ada suami yg tidak mengizinkan untuk berbuat baik.sangat tdk bijak jk ada suami yg melarang utk berbuat baik. Jawaban pak qurai shihab mnurt sy bijak dan tidak memecahbelah pihak lain. Beliau tdk memaksakan pendapatnya,memganggap pendapat pribadinya yg plg benar smntr yg lain salah. Kita (saya) masih hrs belajar dr beliau terutama dlm berpendapat. Dan menurut sy, drpd berselisih dan menghakimi org krn kejilbaban seseorg, mending di doain yg baik2 saja org tsb.. Makasih

ayu (@ayuanissa - www.naeimwiwisaenggag.wordpress.com)

Koleksi Informasi said...

Mungkin lebih tepatnya...yg diwajibkan berhijab itu adalah wanita mu'min...

seperti halnya puasa ramadhan...itu wajib bagi orang2 mu'min...

Ratnawati Utami said...

Kita di Indonesia, yang sebelum Islam masuk budaya Hindu masuk duluan. Sedangkan di Arab sejak dulu mereka memang menutup kepala. Butuh proses berkaitan dengan budaya kita. Yang penting saling menghormati proses itu

Anonymous said...

Wah debatnya dari jan 12 sampai sekarang belum kelar2 【ツ】

Anonymous said...

Yang saya tangkap penulis postingan ini hatinya sangat berjilbab. Betul, Kita nggak bisa menjudge seseorang dari fisik.. Masalah pakai jilbab/tidak berjilbab itu urusan masing2. Batas aurat pun tidak ada di ayat Al-Quran..

Saya jadi tersentil nih, masih suka nggosip, ngurusin orang ga jelas, bicara tidak diatur. Itu dulu saya harus memperbaiki diri sendiri ketimbang repot mikirin busana orang. Thanks Mbak postingannya sangat mencerahkan

chumin El habsye said...

lebih baik kita membaca alquran dan pahami arti dan maknanya...semoga kita selalu mendapat petunjuk dari ALLAH...

Anonymous said...

ALLAH HANYA MENGUTAMAKAN HATI, MAKANYA FIRMANNYA BERKATA JAGALAH HATIMU.

Anonymous said...

Yang pake jilbab benar
Yang ga pake jilbab juga benar
Yang salah itu yang ga pake apa apa

Enny Law said...

wekekek, entah kenapa wajib enggaknya jilbab menjadi sesuatu yang rancu.

padahal kalau mau memahami dalil2 dan menggesampingkan nafsu maka udah jelas maksudnya.

tapi terserah orang2 mau bilang apa. lebih baik memperbaiki diri dulu biar orang mencontoh sambil berdakwah dari pada koar2 tapi diri sendiri tidak mengaplikasikannya.

AvivaZayn said...

Perdebatan mengenai kewajiban memakai jilbab memang tak pernah habis, dan saya rasa itu yang selalu dijadikan senjata oleh para pembenci islam untuk memerangi, dan untuk mempengaruhi wanita muslimah.Mengutip dua ayat Al-QUr'an ttg anjuran memakai jilbab, memang tidak ditemukan dalam hal ini anjuran wajib seperti anjuran Al-Qur'an untuk MENDIRIKAN SHOLAT, bukan menjalankan sholat.Tiang agama Islam yang paling kokoh adalah Islam, dan lagipula dlam Al-Qur;an jg kita smw wkt SD pasti pernah dan sering mendengarkan perkataan bahwa, di alam kubur nanti, apa pertanyaan mendasar yg ditanyakan oleh malaikat ? SIAPA TUHANMU, dan BAGAIMANA SHOLATMU,bukan BAGAIMANA HIJABMU.Buat saya jilbab memanglah sesuatu yg sangat baik, mengingat wanita memang bisa mengundang syahwat lelaki.Kalau bicara mengenai ketertarikan, kita ambil logika sedikit, AL-Qur'an menganjurkan bahwa menutup jilbab kecuali wajah dan tanganmu.Bagaimana dengan wanita yang berparas sangat cantik ??apakah "hanya" dg wajahnya yg menawan itu tak mampu meimbulkan ketertarikan lelaki ? jawabannya tentu saja SANGAT MAMPU.Namun, di Al-Qur'an tak pernah menuliskan untuk memakai cadar atw sesuatu yg menutupi wajah, itu hanya murni BUDAYA ARAB dimana iklimnya yg sangat panas dan dikelilingi gurun pasir, yg sewaktu2 bs terjadi badai pasir.Katakanlah jilbab wajib, namun saya sekiranya lebih memilih memperbaiki SHOLAT, karena bukankah dg sholat kita akan semakin menemukan hidayah, ketenangan serta ketetapan hati utk senantiasa mengikuti tak hanya yg wajib, namun juga yg fardhu dan sunnah.Dan menyerukan MENDIRIKAN SHOLAT adalah yg utama, krn itu cerminan bagaimana qt begitu MENCINTAI ALLAH

AvivaZayn said...

Sepertinya sesuatu yg JELAS WAJIBNYA itu adalah SHOLAT.Kenapa semua memperdebatkan masalah kewajiban memaki jilbab, bila ada ibadah yang justru inilah yang PALING UTAMA yg menjadi ciri khas seorang muslim, SHOLAT.Begitu utamanya sholat, sampai2 ada riwayat bila kita nanti berada di alam kubur, maka pertanyaan utama malaikat adalah : SIAPA TUHANMU ? BAGAIMANA SHOLATMU ?, kenapa kita tidak menyerukan kewajiban SHOLAT, baru setelaah itu JILBAB.Begitu pentingnya SHOLAT, hingga itu diyakini adalah TIANGNYA agama islam, bisa dibayangkan bagaimana bila para muslim tak MENDIRIKAN SHOLAT bukan ?? orang yang mukmin, sholatnya pasti baik dan berjilbab, namum org yg berjilbab belum tentu MUKMIN dan sholatnya baik.Saya lebih suka menyarankan orang, atau menyarankan diri saya untuk MENDIRIKAN SHOLAT, daripada berdebat panjang lebar ttg JILBAB, krn itu yg PASTI, itu yg WAJIB, dan SHOLAT lah yg mencerminkan kecintaan kita pada Allah, dan mengapa SHOLAT itu JELAS hukumnya dibanding JILBAB yg masih simpang siur menimbulkan pro kontra perdebatan ? Karena sholat sumber dari seluruh keikhlasan hati untuk menjalankan syariah islam berikutnya, baik itu yg wajib, fardhu, maupun sunnah.Perbaikil saja SHOLAT kita dlu, SHOLAT, SHOLAT, SHOLAT :)))

thepinkyboy said...

Islam itu agama damai tdk pernah ada pemaksaan dan penghujatan, termsk jg dlm cara berpakaian . Soal yg pk jilbab dijamin msk surga dan yang tdk pk jilbab pasti masuk neraka Itu berarti pemaksaan kehendak secara halus... Bertentangan dgn HAM. Yg pasti yg bs membuat seseorang masuk surga atau neraka Tergantung dari Pahala dan Dosa yg diperbuat dan Bukan dari Busana yg dipakai. Tp ya seyogyanya kalau seorang wanita pakailah pakaian yg sopan jgn pakai yg sexy sexy. Krn selain tdk sesuai dgn adat Ketimuran dan juga bs mengoda Iman seseorang utk berbuat hal hal yg negatif yg bs merugikan diri wanita tsb. Hidup adalah Pilihan ...

azurymint said...

Saya setuju dgn post mbak penulis.
Setahu saya (mohon dibenarkan jika salah) memang tidak ada kata "wajib" atau "masuk neraka" bagi perempuan tidak berhijab dalam Al-Qur'an.
Jujur saya justru jadi tidak respek dengan orang yg merasa lebih paham agama membuat perumpamaan wanita dgn hijab vs tidak berhijab itu seperti permen atau makanan lain antara yg dibungkus dan tidak... kemudian dilempar ke tanah dan laki2 tentu lebih memilih yang terbungkus. Astagifirullah... itu menurut saya justru merendahkan wanita sekali, tidak semua wanita yg tidak berhijab menggunakan pakaian ketat, terbuka, provokatif dan mengundang nafsu kan. Justru ketika wanita2 jaman skrg yg menggunakan hijab dgn berbagai aksesori dan model yang aneh2 lebih mengundang perhatian bukankah menggeser tujuan dari hijab itu sendiri? Waullahualam... Semoga kita semua dalam lindunganNya.

Anonymous said...

jika engkau berjilbab dan ada orang yg mempernasalahkan akhlaqmu, maka katakan pada mereka antara jilbab dan akhlak adl 2 hal yg berbeda, berjilbab adl murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yg telah baligh tanpa memandang akhlaqnya baik atau buruk. Sedangkan Akhlaq adl budi pekerti yg tergantung pada pribadi masing2, jika seorang wanita berjilbab melakukan pelanggaran/dosa, itu bukan karna jilbabnya,namun krn akhlaqnya. Yg berjilbab belum tentu berakhlaq mulia, yg berakhlaq mulia sudah pasti berjilbab. Wallahu 'alam

Ratnawati Utami said...

Saya tidak akan menghakimi bahwa seorang yang berakhlak mulia sudah pasti akan berjilbab.

Saya punya saudara yang hatinya setau saya selalu tulus melakukan kebaikan tanpa pamrih. Seumur hidupnya tidak berjilbab. Meninggal dunia dalam keadaan berjilbab saat menunaikan haji di Mekah.

Bahkan masih ada kemungkinan saudara kita berakhlak baik yang tidak menggunakan jilbab saat hidupnya diberi kesempatan oleh Allah meninggal dunia dalam keadaan berjilbab dan menyebut kalimat syahadat.

Konon pencapaian terbesar seorang mukmin adalah meninggal dunia dalam mengucap syahadat sebelum meninggal. Mudahkah itu dilakukan.

Banyak wanita berdalih mau menjilbabi hatinya sebelum menjilbabi rambutnya, saya percaya dengan niat baik itu. Tapi konsekuensi menjilbabi hati adalah belajar Islam secara benar dan mengamalkan.

Saya masih percaya yang hatinya benar-benar baik dan beribadah dan menolong orang lain karena Allah, diberi oleh Allah kesempatan untuk meninggal dunia khusnul khotimah bahkan saat sewaktu hidupnya tidak berjilbab sekalipun, dan di akhir hayat menutup aurat dengan sempurna.

Mempunyai akhlak yang baik itu jauh lebih sulit daripada hanya sekedar menjalankan rukun Islam.m.

Bila seseorang bisa menjalankan sholat karena Allah, dan membuatnya bisa menghindari maksiat, itu sesuatu banget.

Saya sudah menutup kepala saya dengan jilbab bahkan masih kadang sholat pikiran kemana-mana dan sehari-harinya masih suka ngomongin orang. Walaupun kita lihat niatnya ngomongin orang itu apa, karena kebencian atau untuk mencari hikmah.

Tidak usahlah kita menghakimi yang belum pakai jilbab itu akhlaknya buruk, saya beranggapan wanita berakhlak baik walau tanpa jilbab dalam hidupnya masih berkesempatan meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah dan berjilbab...

Anonymous said...

membaca argumen2 sesama muslim yang mengarah ke perdebatan membuat saya sebagai muslim sedih, akan sangat indah apabila perbedaan itu menjadi sebuah informasi dan tambahan untuk memahami orang lain dengan hati yang lapang...tentunya islam akan kuat dengan cinta damainya.
saya dulu blum memakai hijab,usia kepala dua baru memakai hijab,bukan hijab tapi kerudung...menurut saya sekarang,masih pakai celana ketat atau pun atasan membentuk badan.Semakin saya ingin mempelajari hijab dan belajar dengan orang yang saya rasa lebih paham ,semakin saya merasakan banyak kekurangan dan ingin merubahnya.saya hanya muslimah yg banyak kekurangan pengetahuan tentang agama,dan saya juga hanya seorang manusia yg banyak berdosa,tapi dari belajar dari hari ke hari megenai hijab saya sebagai muslim meyakini bahwa hijab itu wajib sesuai surat yang di sebutkan dalam Al Quran dan menurut saya itu adalah firman Allah yang harus saya taati.kepada saudara sesama muslimah saya hanyak bisa menyampaikan pengetahuan yang saya dapat tanpa bisa memaksa mereka untuk menyamakan pemahaman ini, karena ini kembali ke masing masing pribadi untuk dipertanggungjawabkan langsung kepada Alloh SWT.saya meyakini mereka yang berhijab syari bahkan sering di cerca "aneh" adalah benar,akan tetapi saya pribadi belum bisa untuk seperti mereka (smoga Alloh meringankan langkah saya menuju kebenaran).sangat benar sekali pendapat penulis blog, blum tentu yang tidak berhijab lebih hina dibanding yang berhijab bisa jadi akhlaknya lebih terpuji.dan yang berhijab blum tentu berakhlak lebih sempurna,karena manusia adalah tempatnya segala kekurangan.namun menurut saya,pertanggungan akhlak adalah pertanggungan pribadi kepada Penciptanya,sedangkan untuk hijab adalah kewajiban yang sudah saya yakini harus saya lakukan sebagai seorang muslimah yang banyaak sekali dosa saya kepada Sang Khaliq.kewajiban kepada Illahi inilah yang saya yakini menjadi salah satu kunci untuk saya bisa diperbolehkan masuk surga meski di lapisan terendah dikarenakan dosadosa saya yang tentunya lebih banyak,sholat blum khusuk,puasa masih punya hutang,zakat yang mungkin masih kurang ,dan banyak kekurangan2 lainnya.
smoga Alloh mengampuni dosa- dosa saya dan saudara muslim lainnya dan smoga Alloh slalu memberi petunjuk kepada saya dan saudara mmuslim lainnya untuk lebih baik dari hari kehari menuju naungan surgaMu.
Ya Alloh smoga saudara sesama muslim yang telah memberikan pengetahuan yang benar karena mereka berjuang dijalanMu mendapatkan pahala yang setimpal.
Ya Alloh smoga saudara sesama muslim yang diberikan pengetahuan Engaku lapangkan hatinya dalam menerima maupun menolak pengetahuan tersebut,dan hanya kepadaMu lah segalanya dikembalikan.
Smoga perbedaan ini tidak menjadikan saudara muslim terpecah,tapi menjadi petunjuk untuk lebih bersama sama mengejar jalan kebenaran Alloh .

Anonymous said...

Mengenai soal hijab dan persepsi saya sebagai laki-laki dan seorang penikmat sejarah. Saya ingat sebelum tahun 2000an sedikit sekali wanita yang berhijab. Namun tidak lantas kebanyakan wanita banyak memakai rok mini dan you can see gitu juga. Dan kita orang timur dan sejarahnya indonesia telah terpengaruh budaya-budaya asing sejak dulu. Namun indonesia tetap punya filosofi dan kearifan lokal dalam bentuk norma. Sebagai lelaki, dalam konteks saya, wanita tetap bisa anggun dalam berhijab jika tujuan dan prakteknya sesuai, selain itu, dia bisa jadi cuma "menjalankan perintah" tanpa tahu sebenarnya untuk apa. Namun setiap orang boleh punya pendapat pribadi. Kalau dilihat dari sejarah, sepertinya memang cukup masuk akal mengapa nabi dan rasul diturunkan di area yang sekitar-sekitar itu saja. Mengapa? Bangsa di sekitar area itu hampir tidak punya filosofi dan kearifan lokal. Sedangkan agama pasca hindu budha (apapun itu) masuk ke indonesia dihadapkan ke masyarakat yang sudah punya filosofi dan kearifan lokal. Merujuk pada islam yang disebarkan oleh walisongo di pulau jawa, disebarkan melalui asimilasi dan sinergi dengan filosofi dan kearifan lokal. Dan hal ini membuktikan satu hal bahwa islam disebarkan dengan sinergi. Saya ambil contoh, sebenarnya tidak ada dalam islam acara seminggu, setahun, seribu hari dlsb dalam islam saat ada orang meninggal, namun kearifan lokal mengajarkan kalau orang yang baru saja kehilangan perlu dukungan agar kuat dan terkadang dukungan itu perlu berkali-kali agar yang ditinggal bisa move on. Oleh karena itu, ada acara 1000 hari dlsb. Kalau mungkin dulu acaranya adalah upacara, bakar menyan, sesajen dlsb, saat islam masuk diganti dengan doa bersama. Saya rasa itu adalah pemikiran yang genius dan win win solution. Keluarga yang ditinggal mendapatkan dukungan dan saya tidak melihat sesuatu yang "diharamkan" dengan mendoakan orang yang sudah meninggal agar diampuni dosa-dosanya.

Dari uraian diatas, Jujur saya memang bukan seorang pria muslim yang tahu banyak tentang islam. Namun terkadang dari debat kusir tentang hijab yang sering saya baca di media sosial, saya jadi tertarik mempelajari filosofi dan "arti"-nya.

Saya pernah menanyai teman saya mengapa berhijab. Dia bilang dia adalah sebuah "harta" dan ingin melindungi dirinya dan seandainya dia ingin menunjukkan "hartanya" adalah hanya untuk suami dan muhrimnya. Saya tanya lagi kok barusan aja berhijabnya kalau niatnya kayak gitu? Jawabannya singkat : harus konsekuen dengan hijab yang dikenakan. Walaupun klise, tapi Saya kira tujuan berhijab dia cukup mulia. Namun ada teman lain juga yang menyatakan kalau dia berhijab karena wajib...

Dari pendapat 2 teman saya itu saya jadi berkesimpulan, terlepas dari perdebatan wajib atau tidaknya berhijab, seorang wanita harus siap terlebih dahulu, namun kita yang disekitarnya juga harus memberikan dukungan agar dia juga bisa siap. Karena ketidaksiapan berhijab itu justru menurunkan arti hijab itu sendiri.

Nah ini saya jadi malah ingin menanyakan sesuatu yang menggelitik : kalau berhijab itu tidak wajib, apa masih mau pake?... Hehehe maaf kalau sedikit nakal.

Abdul Malik said...

السلام عليكم ورحمه الله وبركاته
Menanggapi komen2 seblmnya, saya cuma bisa tersenyum, alangkah baiknya jika memahami kata bijak yg saya dpt dari guru saya ini. Bahwa sesungguhnya Wanita berjilbab blum tentu ahlaknya baik dan sebaliknya wanita yg berahlak baik pasti berjilbab

Anonymous said...

@abdul malik ... gak juga ah... banyak juga kok wanita yang berakhlak baik tapi gak berjilbab.... guru anda berkata begitu kan karena dia cuma belum bertemu saja ... sama kayak dulu ketika orang hanya menganggap bumi itu datar.... makanya mas.. sarankan guru anda untuk lebih bertemu banyak orang...jangan hanya berkumpul dengan "komunitas"nya saja... dunia itu luas... ada 6 Milyar manusia dibumi.... :)

Anonymous said...

" Yang menulis komentar ngotot bahwa jilbab itu wajib disertai dalil-dalil tidak akan diloloskan, cape deh. Mending bertoleransi menguatkan ukhuwah daripada menghakimi jilbab itu wajib berarti yang tidak pake jilbab masuk neraka semua..." Gimana mau berkomentar kalau masalah urusan agama "berjilbab" tidak didasari dengan dalil Quran ataupun hadist. Yang jelas2 menjadi tuntunan pedoman hidup kita. Jilbab diwajibkan memang terbukti dalil2ny "Jilbab itu wajib yang tidak pakai masuk neraka semua" itu sih mungkin pendapat si penulis aja yang menjudge kepada org2 yg berjilbab. Maksud si penulis ini sebenarnya kemana ya arahnya. Menjelaskan secara gamblang wajib tidaknya berjilbab apa menyudutkan kaum tertentu dengan berpandangan negatif...

Ratnawati Utami said...

Mau nanya nih, kalo ketemu wanita muslim tanpa jilbab terus rese sibuk menasehati gitu?

Ini postingan sudah diedit ke sekian kalinya. Dan banyak komentar tidak diloloskan karena hanya emosi membawa dalil dalil.

Kalo beranggapan jilbab wajib, cukup doakan supaya yang belum berjilbab suatu saat pake jilbab.

Kalo beranggapan bahwa bukan wajib karena faktor budaya, juga mendoakan supaya tidak terkotak-kotak Indonesia yang kaya budaya saling menghargai tidak saling menghakimi

Anonymous said...

Saya setuju sama yang nulis blog. Rukun islam itu ada 5, yaitu syahadat, solat, zakat, puasa, dan naik haji. Ga ada tuh tentang jilbab bagi wanita. Klo segitu sakleknya ga pake jilbab pasti neraka, ga pake jilbab = bukan muslimah, mestinya tambahin tuh rukun islamnya jadi 6. Surga itu luas, tidak untuk dimonopoli satu golongan saja, sedang Allah saja menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.. masak kita mau paksakan menjadi satu golongan. Capek deh.. saling menghormati ajalah.

Yola

Anonymous said...

Ilmu itu ada silsilahnya, berpendapat boleh tapi perhatikan juga martabat ulama/imam. Kita ini makmum, dalam hal akidah, fiqih bahkan ilmu keruhaniannya ada otoritasnya masing2. Itulah mengapa Allah SWT berfirman "tanyakan pada ahlinya", "Ulama adalah pewaris Nabi", "kutinggikan beberapa derajat kedudukan para ulama". Untuk hal yg sensitif seperti ini berhati hatilah dan ikuti pendapat mayoritas.

Ratnawati Utami said...

Menggunakan jilbab itu memang sangat disarankan untuk muslimah. Sebagaimana Qurban saat Idul Adha. Melaksanakan Qurban tidak wajib.

Ada prioritas yang mesti umat Islam lakukan dalam Islam, seperti tidak boleh menghakimi orang lain, tidak boleh mengatakan kafir, bahkan tidak bisa menetapkan seseorang masuk neraka. Surga dan neraka itu ridho Allah bukan banyaknya pahala.

Walau penjahatpun, bila di akhir hayatnya bertaubat, masih berkesempatan masuk surga. Jadi semua butuh proses, tidak bisa kita menghakimi orang tanpa jilbab itu tidak bisa masuk surga. Bila menjelang akhir hayatnya ada perbuatannya yang membuat Allah ridho, bisa saja dia masuk surga.

Makanya pemahaman kita, adalah hidup adalah bukan karena kepengen surga, kepengen punya istri bidadari banyak. Surga itu tak terbayangkan oleh manusia, dan itu dicapai bila kita berusaha melakukan yang Allah ridhoi, banyak kemungkinanannya.

Manusia yang benar-benar beriman akan lebih banyak intropeksi diri daripada menghakimi atau menyalahkan orang lain, atau membuat orang lain gak nyaman.

Lebih baik mengajak dengan cara yang menyenangkan, misalnya memuji, tambah cantik loh kalo berjilbab dibandingkan kalo gak pake surga masuk neraka....

Siapa sih wanita yang gak mau disebut cantik. Lagian kesadaran itu lebih penting daripada paksaan...

Ardiyani Rahmi Widodo said...

Dari hadist yng membahas ttg hijab, saat ayat tersebut turun saat itu para wanita langsung mengambil kain panjang dan saat itu jg mereka menutup auratnya ada yg memkai gordyn dan selimut, itu tnda atw bukti bahwa berhijab adalah wajib dan semua yg ada di qur'an adalah wajib di ikuti karna Allah menyuruh kita berpegang teguh terhadap Quran dan hadis, penjelasanya ada di hadis2.
Banyak muslim dan muslimah yg lupa stelah kewajiban solat dan menutup aurat ada kewajiban selanjutnya yaitu belajar Islam mengkaji ayat-ayat quran dan hadist.Seperti yg kita tahu hkum wajib yaitu dilakukan mendapt pahala bila tidak dilakukan mendapt dosa sehingga para muslim dan muslimah yg tidak mengkaji Islam akan mendptkan dosa tidak beljar / melecehkan ketetpan yg telah
allah buat di dalam Quran.
Beriman meliputi 3 hal yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan di lakukan dengan seluruh anggota tubuh/diaplikasikan ayat2 tsb kepda kehidupan kita. Inilah yg membedakan orang beriman atau tidak? orng beriman saat mengetahui ayat2 quran dan hadis akan taat tnpa tapi.
Saya tidak menghakimi atau sok tahu ttpi hanya mengingatkan, dimana kepuasan hati akan didapat saat orang tsb mencari atau mengkaji Islam lebih jauh. Terkait dgn jilbab syar'i "Atas dasar apa atau dalil apa yg bs membuat para muslimah memakai hijab syar;i ?" ini yg harus coba di cari oleh para musllimah yg mengaku Islam, karena setlah belajar ttg hijab akan berlanjut trus ke bagaimana Islam mengatur cara wanita berpakaian, apa hukum mengunakan parfum,perhiasan dan make up berlebihan? itu semua erat kaitanya satu sama lain.
Kalo saudara berdalil dengan kata hendaklah bukan merupkan suatu kewajiban, lalu bagaimna dengan Iqro yg berarti bacalah !!! disitu tidak ada kata2 untuk semua umatku wajib membaca, karena semua kata2 yg ada di Quran akan diperjelas oleh hadis2 pendukungnya dimana hadis2 tsb diriwayatkan oleh para sahabt2 nabi yg hidup pada zaman nabi dan melihat bagaimana istri nabi berpakaian.
Bnyak di youtube yg membahas ttg kewajiban berhijab contoh para ustad Adul Hakim, ustad abu qotadah dan ustad firanda (ustad firanda adlh pengajar di salah satu universitas di Mekah)
Maaf apabila ada kata2 yg menyakiti..
Semoga Allah membuka pkiran kita untuk lebih giat belajar ISlam.

Ratnawati Utami said...

Hidayah itu hanya bagi Allah kehendaki. Dan jilbab adalah sarana mendekatkan diri pada Allah.

Kalo jilbab itu wajib, berarti tidak menggunakan jilbab itu haram.

Saya rasa perlu mensikapi dengan bijaksana, lakukan sesuai keyakinan masing-masing dan saling menghargai tidak menghakimi.

Komunitas yang beranggapan jilbab itu wajib tidak akan menerima wanita tanpa jilbab.

Saya memilih berbaur saja, tidak akan menghakimi siapapun. Bahkan yang belum pake jilbab masih berkesempatan masuk surga kok... taubat adalah sebelum nyawa di tenggorokan

Anonymous said...

Assalamu'alaikum, ana jadi pengen comment nih heheh
Ketahuilah saudara saudariku, islam itu adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan.
hanya saja , kita sebagai manusia yang lemah ini terkadang membuat adanya kesulitan kesulitan itu.
Untuk itu, marilah kita membenahi keimanan kita.
Mengoreksi, dari hal hal pokok/ dasar dalam islam.
dari thaharah ,shalat kita, akhlaq kita, dan ibadah ibadah lain yang telah di perintahkan Allah swt dan dicontohkan oleh rosulullah saw.
Intinya "perbaiki dan koreksi keimanan kita dari hal hal dasar serta selalu mempelajari apa apa yang menimbulkan keraguan dihati, insyaallah biiznillah akan ada hidayah bagi kita"
#bukan menggurui, ana juga baru lulus sma yg belum punya ilmu . Senang sekali melihat argument2 diatas.
Wassalam

Anonymous said...

Dear All,

Mohon maaf, ikut berkomentar, menurut saya, hijap itu hukumnya wajib, sudah tau sendiri kan di Al-Qur'an dan hadist atau sunnah Baginda SAW. Semua wanita itu sama, bukan dilihat dr pakai hijap atau tidak, tp Allah mengukur dr Iman, taqwa , aqidah dan ahlaqnya... Tp yg pasti jelas, sedari dulu hijap seperti ciri khas wanita islam, entah dia alim atau tidak. Perubahan zaman, keadaan cuaca, dan budaya sebagai bumbu-bumbu dalam Islam. Saya belum berhijap, tp saya tau, saya yakin dan sudah jelas bahwa hijap itu wajib hukumnya. Hanya saja mgkn saya blm terpanggil, atau iman saya kurang, atau saya blm dapat hidayah. Tapi saya sudah punya rencana akan berhijap. Saat ini saya masih memperbaiki ahlaq saya , iman saya , agar saya tidak membuat malu hijap saya. Doakan saya ya. Mudah2an Allah memberkati kita semua. Tp satu kata kunci, bahwa sungguh Hijap itu hukumnya wajib! Tidak bisa kita ragukan jika sudah tertulis di Al-Qur'an, sebab ini sudah jelas, orang bisa menafsir tp untuk hal ini rasanya anak kecilpun bisa menyimpulkan bahwa hijap itu wajib, tinggal kita yg berfikir , surga dan neraka jg bukan karna hijap atau tidak, semua ada dlm hati kita. Salam

Anonymous said...

ini sama permasalahannya dengan aturan memakai helm ketika berkendara sepeda motor..kadang2 kita tidak menggunakan helm ketika jarak yang kita tempuh itu dekat..ah ngapain pake helm,,dekat kok...padahal bukan masalah dekat,tapi ini masalah keselamatan kita..dan sebagai polisi,, mereka berhak menghukum pengendara yang gag pake helm...karena memakai helm itu wajib....saya rasa jilbab itu bukan karena tradisi..tetapi mengacu kepada anjuran untuk mejaga aurat bagi wanita...kewajiban memakai jilbab sangat terasa pada zaman sekarang..dimana pakaian wanita sekarang semakin mini....bukan masalah wanita yang berpakaian mini belum tentu masuk neraka atau moralnya buruk..tetapi dampak yang ditimbulkan....mana yang lebih mengundang nafsu,,gaya pakaian girlband atau kelompok pengajian???....ALLAH Maha Tau apa yang akan dilakukan Umatnya...Wanita pake jilbab tapi centil,mubazir...itu kan individu masing2..walaupun begitu wanita itu udah mengikuti anjuran...banyak juga kok wanita berjilbab tp moralnya juga bagus...jadi bagi saya untuk di zaman edan sekarang...wanita memang wajib untuk berjilbab...jilbab sebagai alat untuk meninggikan harkat martabat dan derajat kaum wanita....

Anonymous said...

Saya sih gak tahu jilbab itu wajib apa gak, tapi yang saya tahu menutup aurat itu wajib.

Anonymous said...

masalah masuk surga atau neraka itu urusan Allah, yg jelas sebagai umatNya harus berusaha menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Insya Allah said...

Yakinilah apa yang engkau anggap benar, dan janganlah saling menyalahkan apa yang kau anggap tidak benar. sungguh tidak akan ada habisnya berdebat, karena setiap orang memiliki ilmunya dan pandangannya masing-masing. hormatilah setiap perbedaan yang ada.

Insiana Darmika said...

Asslamualaikumwr,wr.wb
mbak Ami yg dIRahmati ALLAH SWT. sy pun menghargai.menghormati dan malah setiap Ramadhan sy selalu menanti jam2 tayang beliau di Metro TV.krn sy sangat menyukai tausyiah2 dan cara2 beliau mentafisiri ayat2 AL QUR'AN.
Tapi akhir2 ini sy dikagetkan dengan komen2 temen2 mengenai beliau,trutama tentang hukum brjilbab.mangkanya sy terusik membuka link ini.
Mentafsiri ayat2 ALLAH SWT tidak bisa dan sangat2 tidak bisa atas Pemkiran dan Hawa Nafsu sendiri/ sekelompok orang sj.
Hukum tentang jilbab di AL QUR'AN sangat jelas WAJIB dan ini suatu KEPASTIAN.dan Hadist2 yg menjelaskan bagaimana yg sesuai syariatnya / diridhoi ALLAHnya.
Jadi bukan didasarkn kemauan sendiri,budaya,ikuti mode.waktu dan tempat dst.dan jangan dikaitkan oknum pelaku.jd perlu di garis bawahi:
WAJIB BERJILBAB BUKAN BUDAYA ARAB.
tapi sungguh sangat sungguh2 di sayangkan mengenai pernyataan beliau sebagai Pentafsir menyatakan:
JILBAB ITU HUKUM NYA TAK WAJIB.
Ini sungguh dan sangat sungguh2 FATAL,ancaman Hukumannya sangatlah LUAR BIASA.
ROSULALLAH sj diancam ALLAH ,dgn ancaman dipotong2 urat nadinya dan siapa yg akan dapat menghalangi hukuman ALLAH SWT(QS AL HAQQAH 38s/d47).
jadi di sini topik permasalhannya adalah pernyataan beliau itu, bukan ke sipelakunya.beliau itu yg ucapan dan tingkah lakunya akan dijadikan acuan rujukan jkamaahnya karena beliau seorang ULAMA dan AHLI TAFSIR. salah memberi kan pernyataan maka itu td akibatnya jamaah heboh.
apakah mbak ndak prihatih dengan beliau.wlkm slm wr,wb.

Sabar said...

Terimakasih kepada Penulis Artikel ini, karena telah mau meluangkan waktunya untuk berbagi pandangan mengenai jilbab....

Soal jilbab, awalnya saya juga masih belum yakin betul. Seringnya mendengar bahwa "Jilbab itu wajib...", tetapi pada kenyataannya banyak hal yang saya lihat kok malah salah. Contoh kasus, mereka yang telah berjilbab malah "memojokkan" saudaranya sesama muslim yang belum berjilbab. Bukankah Hal itu melahirkan peluang untuk seseorang bersikap sombong dan tidak sabar, padahal Allah juga memerintahkan Kita untuk bersabar, berbuat baik, serta jangan sombong, bahkan untuk ketiga perintah itu redaksinya (yang tertulis di Al-Qur’an) jelas adalah sebuah perintah, "...Bersabarlah..", "dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong...", dan "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan berbuat kebaikan...", bukannya "Hendaklah Kamu bersabar..." atau "Hendaklah Kamu jangan sombong…..", atau "Hendaknya janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong….." dsb.

Menutup aurat (untuk pria dan perempuan) adalah perintah Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an, jadi tidak mungkin salah. Bersabar, berbuat baik dan jangan sombong juga perintah Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an. Perintah menutup aurat dan perintah sabar, berbuat baik dan jangan sombong tertulis dalam Al-Qur’an dengan redaksi berbeda, silahkan dibaca sendiri, tetapi semuanya bersumber dari Allah. Lalu, kenapa Kita mesti mengagungkan salah satunya dan mengabaikan yang lain? Dan, apakah Kita berhak men"cap" mereka yang belum berjilbab sebagai pribadi yang tidak baik? Atau apakah amal mereka (yang belum berjilbab) tidak diterima Allah? Bukankah bersabar itu jauh lebih baik bagimu. Bersabarlah menuntun mereka yang belum berjilbab, tunjukkan kemuliaan hati Kita sebagai seorang muslim, Insya Allah Kita mendapat rahmatNya dan ditunjukkan jalan yang lurus.

Jika jilbab itu wajib, saya masih bertanya2, mengapa pada QS 33:59, tidak terdapat kata-kata "Anak-anak perempuan mukmin...", melainkan hanya istri Nabi, anak perempuan Nabi, dan istri orang mukmin. Kiranya hal itu berkaitan dengan sebab turunnya QS 33:59 itu (silahkan dicari sendiri). Saat Kita membaca QS 24:31, maka jangan juga lupakan ayat sebelumnya QS 33:30, karena keduanya saling berkaitan. Teman bisa membaca tafsirnya di link ini:

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-An-nur/an-nur-ayat-30-31.htm

Saya yakin tidak ada pertentangan atas apa yang Allah turunkan dan sesungguhnya Allah telah jelas menciptakan sistemNya untuk Kita manusia.

Saya sangat senang karena ternyata seruan untuk berjilbab banyak didengar dan akhirnya dipatuhi, sehingga saat ini sangat mudah menemui perempuan muslim berjilbab dibandingkan yang tidak. Coba bayangkan, jika seruan untuk bersabar (QS 3:200), tidak sombong (QS 17:37), berbuat adil dan berbuat kebaikan (QS 16:90), mencari rizki yang halal (QS 2:168) dan lain sebagainya, kepada umat muslim juga berdampak sama layaknya seruan berjilbab, maka sungguh sangat nikmat Kita menjalani kehidupan ini, bebas dari konflik, saling tolong-menolong, korupsi sangat kecil atau mungkin gak ada, pokoknya mantap deh.....

Allahu A'lam

Anonymous said...

Saya sependapat dengan Quraish Shihab dan Anda (Mba Ami)

Saya juga tidak serta merta setuju dengan apa yang dikatakan Quraish, meski sebelumnya Saya memang suka akan nasihat2nya.

Saya mencari sendiri jawabannya di Al-Qur'an, baca sana, baca sini, lalu berpikir bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu hingga akhirnya Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa jilbab memang tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan oleh Allah. Nah, mengingat Dialah pencipta manusia, maka Dia paham benar bagaimana dan seperti apa mahluk ciptaanNya itu. Oleh karena itu, sebaiknya (bukan seharusnya) perempuan menutup "perhiasan"nya, jangan ditampilkan kecuali yang biasanya tampil.

Mengenai apa yang biasa dan tidak biasa tampil itulah yang kemudian dimaknai dengan sebutan aurat. Apakah rambut perempuan aurat? Apakah betis perempuan aurat? Lalu, apakah aurat pria hanya sebatas perut ke bawah sampai lutut? Batasan tentang aurat tidak dijelaskan dengan pasti di Al-Qur'an. Kenapa tidak pasti? Karena Allah Maha Mengetahui bahwa umat Islam tidak hanya orang Arab. Ada orang Jawa yang tidak risih rambutnya terlihat, ada juga orang Cina yang rasanya juga tidak masalah jika betis perempuan terlihat dan lain sebagainya.

Kita mengenal adanya budaya yang muncul dari aktivitas akal pikiran manusia. Akal pikiran itu bukankah juga merupakan pemberian Allah? Lalu, apakah berbudaya menjadi salah? Tentu tidak, bukan? Itulah mengapa dalam firmanNya mengenai menutup perhiasan yang tidak biasa tampil tidak diwajibkan layaknya Sholat ataupun puasa, tetapi sangat dianjurkan. Dan, aurat tidak dibataskan secara pasti dalam Al-Qur'an, apakah itu rambut atau betis atau mungkin bahu? Karena, umat Islam tidak hanya bangsa Arab tetapi juga orang-orang bangsa lainnya yang memiliki budaya berbeda dengan bangsa Arab. Pada masing-masing budaya itu terdapat perbedaan mengenai apa yang biasa dan tidak biasa ditampilkan. Dan, perkembangan budaya bisa sangat luas seluas pemikiran manusia. Al-Qur'an membatasi pada apa yang biasa dan tidak biasa tampil, tergantung dari tiap-tiap budaya.

Mengenai kejahatan seksual yang bisa terjadi (yang dianggap) karena tidak menutup aurat (padahal sudah menutup aurat pun belum tentu terhindar dari tangan-tangan jahat) bisa dilihat lagi pada QS 24:30-31, bahwa pria dan perempuan keduanya harus menjaga pandangannya dari apa-apa yang bisa menimbulkan (maaf) syahwat. Bagi siapa yang melanggarnya tentu saja berdosa, apalagi sampai berbuat jahat karena tidak menjaga pandangan. Dan, mengenai penilaian itu kita serahkan saja sepenuhnya ke Allah, karena Dia lah Yang Maha Adil.....

Kiranya itu yang bisa disampaikan...

Wallahu A'lam

nurul huda said...

seandainya nggak ada revolusi islam Iran, apa aku kini berjilbab ya ??

Anonymous said...

remajaislam.com/islam-dasar/pojok-muslimah/204-25-alasan-enggan-berjilbab.html

Buka deh dia memojokan orang yg non jilbab masa. Wanita berpikrian sempit





Mikhail said...

Mengapa sekarang mudah sekali bagi seseorang utk langsung memvonis pendapat yg berbeda dari saudaranya (sesama muslim) bahwa hal itu adalah sesat atau bahkan mrk kafir!!! Berkacalah saudaraku.. kebenaran itu milik "Allah" bukan milik anda yg merasa paling suci!!! Belum tentu juga anda benar khan? Jadi jangan menzolimi pendapat orang lain karena ke"fanatikan" Anda!!!

dr. Abimanyu Sp.B said...


II Visit http://dokterabimanyu.blogspot.com/


Tafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31 : jilbab tidak wajib dan punahnya budaya Indonesia


"Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut pembawaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."

Al Isra 17 84

Sebuah firman yang mengatur , membolehkan setiap orang berpakaian sesuai adat tradisinya masing2 . Penjelasan kata PEMBAWAAN diatas sudah sangat jelas , yaitu adat istiadat yang dibawa dari sukunya .

Sekarang kita dapat memahami , ketika para sahabat Nabi , Khulafaurasyidin yaitu Abu Bakar, Umar, Usman , Ali bin Thalib menundukkan Negara Iran/Irak (dulu kerajaan Persia) tidak mewajibkan jilbab , walaupun wanitanya berpakaian adat RAMBUT TERLIHAT seperti pakaian kebaya kita . Karena berpedoman pada ayat An Nur 31 , RAMBUT adalah anggota badan YANG BIASA TERLIHAT. Bukti ini dapat dilihat pada lukisan - lukisan kuno , yang berfungsi sebagai fotografi saat ini, yang memotret kondisi sesungguhnya saat itu, dimana dulu para khalifah tidak mewajibkan jilbab.

Ulama TEKSTUAL biasanya mengatakan wajibnya jilbab karena di Al Ahzab 59 ada disebutkan kata kata /teks JJILBAB sehingga ayat ini dimaknai sebagai ayat yang mewajibkan jilbab. Tapi ulama KONTEKSTUAL berdasarkan asbabun nuzul (sebab sebab turuny a ayat ini ), sesuai sejarah saat itu , wajib jilbab dimaknai diwajibkan SAAT ITU SAJA untuk berpakaian jilbab , dikarenakan terjadinya suatu insiden, diganggunya istri Nabi karena dikira budak. Budak saat itu , seperti halnya orang2 tidak mampu (miskin) jaman sekarang, adalah obyek yang rentan pelecehan secara hukum. Hal ini karena para budak itu tidak ada yang melindungi , belum ada sistem hukum modern , seperti undang2 , polisi, hakim, jaksa dsb, yang melindungi siapa saja. Jilbab hanya dipakai oleh para bangsawan dan wanita merdeka yang tentu saja kedudukannya sangat kuat sebagai istri /keluarga/Bani yang secara finansial kuat dan berkuasa, sehingga tidak ada yang berani mengganggu. Itulah penggalan terakhir Al Ahzab 59 : " Itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak mudah diganggu".

Peraturan BUDAK dilarang memakai jilbab dan jilbab hanya dipakai oleh para wanita bangsawan dan wanita merdeka akibat masih berpengaruhnya undang2 wajib jilbab oleh negara Assyria /kerjaan penyembah berhala. Kejadian ini mirip dengan NAD atau propinsi Aceh yang mewajibkan SEMUA wanitanya memakai jilbab, karena memandang jilbab suatu yang Islami . Undang2 yang diterapkan oleh kerajaan nenek moyang mereka kerajaan Assyria 1075 SM, atau 1700 tahun sebelum datangnya Islam ini , dapat di misalkan seperti aturan di kerajaan - kerajaan Indonesia ratusan tahun yang lalu, yaitu : keturunan kerajaan diwajibkan memakai gelar Raden, Raden Mas, Daeng, Teuku...dan lain sebagainya . Semua peraturan ini masih terasa pengaruhnya sampai jaman ini. Demikian pula, peraturan kerajaan Assyria ( Negara Iran/Irak sekarang) itu , masih terasa pengaruhnya di jaman Nabi .

Lebih dari itu semua , mana pilihan anda, harus dipahami , bahwa islam agama damai , dan kita hanya mengucap wallahu a'lam bishawab.....hanya Tuhanlah yang mengetahui jawab yang sebenar benarnya. Wassalam.

Selengkapnya anda dapat membuka blog saya : Blog Dokterabimanyu bagi wanita Indonesia jilbab tidak wajib, benarkah? Dan punahnya budaya Indonesia. Dan , blog Dokterabimanyu tafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31 jilbab tidak wajib.

pinka pangestu said...

Aku lupa denger kata2 ini dari siapa, 'hijab itu standard berpakaian tapi bukan standard hati' dan ya kalo aku jujur yang aku alami sekarang, pacar temen aku sndiri menggenakan hijab, bahkan finalis miss muslim atau apalah itu (semacam miss world tp muslim) namun banyak yang menilai, perilakunya cukup mencengangkan.

1) Selalu memakai kutek, dan sudah pasti dia tidak solat.
2) Make up selalu tebal.
3) Pakaian selalu up to date. Terkesan mubazir dengan pakain2 lama yg msh layak pakai.
4) Sepatu harus ganti minimal satu bulan sekali.

Walau aku tau banyak wanita berjilbab yang berlaku baik, namun wanita berjilbab yg berlaku tidak baik skrg2 ini malah membuat jd galau.....

dr. Abimanyu Sp.B said...

Salah paham Tafsir Al Ahzab 59 dan An nur 31 . Sebenarnya Jilbab itu tidak wajib bagi wanita indonesia.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak mudah diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha Penyayang.” ...( suatu kalimat Sejarah yaitu suatu kailmat yang berhubungan dengan situasi kejadian saat itu yang menimpa umat Islam .pen ) (QS 33 Al-Ahzaab : 59)

Ulama TEKSTUAL biasanya mengatakan wajibnya jilbab karena di Al Ahzab 59 , disebutkan kata kata / TEKS JILBAB sehingga ayat ini dimaknai sebagai ayat yang mewajibkan jilbab. Tapi ulama KONTEKSTUAL menafsirkan ayat ini berdasarkan asbabun nuzul (sebab sebab turuny a ayat ini ), sesuai sejarah saat itu . Sehingga wajib berjilbab dimaknai hanya SAAT ITU SAJA.
Penyebab dari turunnya ayat ini dikarenakan terjadinya suatu insiden, yaitu DIGANGGUNYA istri Nabi karena DIKIRA BUDAK. BUDAK saat itu , STATUSNYA seperti halnya orang2 tidak mampu (miskin) jaman sekarang. Mereka adalah obyek yang rentan pelecehan secara hukum. Hal ini karena para budak itu tidak ada yang melindungi , belum ada sistem hukum modern , seperti undang2 , polisi, hakim, jaksa dsb . Perangkat hukum modern ini melindungi siapa saja.
Jilbab hanya dipakai oleh para bangsawan dan wanita merdeka . Status ini tentu saja mempunyai kedudukan yang sangat kuat . Sebagai istri bangsawan yaitu istri para saudagar /keluarga/Bani yang secara finansial kuat dan berkuasa, TIDAK ADA SEORANGPUN , LELAKI ISENG YANG BERANI MENGGANGGU. Demikian juga bagi wanita merdeka , statusnya lebih terhormat dibanding budak yang bisa diperlakukan apa saja , karena hidup mereka sudah dibeli. Itulah penggalan terakhir Al Ahzab 59 : "ITU MENJADIKAN MEREKA LEBIH MUDAH DIKENAL , SEHINGGA MEREKA TIDAK MUDAH DIGANGGU" .

Peraturan ini, BUDAK dilarang memakai jilbab dan jilbab hanya dipakai oleh para wanita bangsawan dan wanita merdeka , akibat masih berpengaruhnya "undang2 wajib jilbab " oleh negara Assyria /kerajaan penyembah berhala. Kejadian ini mirip dengan NAD atau propinsi Aceh yang mewajibkan SEMUA wanitanya memakai jilbab, karena memandang jilbab suatu yang Islami . Undang2 yang diterapkan oleh kerajaan nenek moyang mereka , yaitu kerajaan Assyria 1075 SM, atau 1700 tahun sebelum datangnya Islam ini , dapat di misalkan seperti aturan di kerajaan - kerajaan Indonesia ratusan tahun yang lalu. Sebagai misal keturunan kerajaan diwajibkan memakai gelar Raden, Raden Mas, Daeng, Teuku...dan lain sebagainya . Semua peraturan ini masih terasa pengaruhnya sampai jaman ini. Demikian pula, peraturan kerajaan Assyria ( Negara Iran/Irak sekarang) itu , masih terasa pengaruhnya di jaman Nabi .

Selengkapnya anda dapat membuka blog saya : Blog Dokterabimanyu bagi wanita Indonesia jilbab tidak wajib, benarkah? Dan punahnya budaya Indonesia. Dan , blog Dokterabimanyu tafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31 jilbab tidak wajib.

Anonymous said...

Saya suka dengan jawaban2 Mbak Ami. Begitu santun, cerdas, dan tulus. Saya tumbuh dan dididik dengan ajaran Islam yang seperti itu. Namun ketika saya tunjukkan kepada istri saya (yang baru mualaf) tentang blog Anda ini (khususnya perihal hijab), dan melihat komen2 yang ada, istri saya jadi berkurang lagi antusiasnya. Seharusnya kita menghargai mereka yang berhijab dan tidak berhijab. Tidak ada sama sekali kata2 "WAJIB" pada ayat Al-Ahzab 59, seperti wajib pada puasa, sholat, ataupun zakat. Lebih jauh lagi dari asbabun nuzul, saya menangkap bahwa hijab semata2 membuat wanita lebih sopan, dan terpisah antara budak dan yg merdeka. Sekali lagi, saya setuju dengan pendapat2 Mbak Ami. Salam hormat, wassalam...

Siti Masruroh said...

saya setuju dengan pak Qurais Sihab, karena beliau adalah penafsir Alquran, dimana semua yang dibahas berdasar Alquran, kalau hijab itu sendiri adalah pakaian longgar,jadi bukan jilbab, sebenarnya sangat tidak perlu saling menghujat antara yang berjilbab dengan yang tidak berjilbab, karena di mata Allah, yang dinilai adalah taqwa, sepanjang tidak ada unsur kesengajaan maka pakaian yang longgar itulah yang diperintahkan

Marthy said...

Setuju dengan pernyataan pak Quraisy Shihab dan mba Ami juga..

IMO.. Kesholehan seseorang dan menyebabkan seseorang masuk syurga itu bukan semata-mata karena pakaiannya yang panjang lebar dan ibadahnya saja.. Itu semata-mata hak Allah..

Islam itu rahmatan lil alamin.. bener mba Ami.. kita harus bisa membaur dengan siapa pun agar siapa pun termasuk teman-teman non muslim dimanapun bisa merasakan indahnya Islam..
Islam itu penuh kasih sayang.. mengajak dan mengingatkan orang lain mengenai kebaikan hendaknya dengan cara yang baik.
Bukan dengan menakut-nakuti "Kafir dan masuk neraka kalau tidak melakukan yang wajib"

Bukankah Allah itu sangat luas Rahmat dan Rahimnya? dari Asmaul Husna pun sudah bisa kita simpulkan, Allah itu memiliki banyak nama-nama yang baik..

Saat mengingatkan atau ingin mengajak kebaikan hendaknya pelan-pelan, tidak terlalu saklek, yang ada orangnya kabur, hehehe..
Meskipun menjalankan tetapi karena takut ancaman neraka..
Coba kalo kita menjalankan segala sesuatu karena cinta kepada Allah bukankan itu lebih indah daripada karena takut akan murka dan nerakaNya?

Saya kenal beberapa teman yang memiliki pemahaman spiritual yang tinggi..
Cara bicaranya santun dan terkesan biasa, tidak pernah menunjukkan bahwa beliau paham lebih banyak dari yang lain, padahal sebetulnya bisa saja dengan mudah membalikkan perkataan orang yang tidak sepaham.

Jika melihat dari pakaian dan penampilannya, sangat biasa, tidak memperlihatkan bahwa dia itu muslim yang taat dan tidak selalu up to date juga, hehehe.. sangat membaur ke semua kalangan.

Menginspirasi orang lain dengan kata-kata sederhana dan menyenangkan. Membuat disukai banyak orang dan memiliki banyak teman.
Saya rasa itu salah satu contoh muslim yang Rahmatan lil Alamin.. Wallahu a'lam bishawwab..

Bambang Haryadi said...

Makna Jilbab. ...menurut saya.Adalah menutupi pikiran Dan hati Dari sifat. Iri hati ,pencabulan, dusta, dendam, Pembunuhan, culas, kebodohan, malas, tidak setia.kenajisan Dll. ( Jilbab ROHANIAH. )
Yg dilihat ALLAH Bukan ibadah Badaniah,,Allah Maha tau...Dia tidak sudi menerima IBadah Dari orang orang munafik..IBadah yg diterima Allah bersumber Dari hati , Dari Keiklasan seseorang untuk Beribadah,..Bukan IBadah yg berasal Karena Ditakut takuti tidak diterima Amal IBadahnya Karena tidak berjilbab, Ikut Ikutan Karena trend . Takut dikucilkan Dari pergaulan.takut dikatakan tidak sholehah
.Jilbab tidak akan mengurangi Apalagi menyelamatka Dari penghakiman Akhir. .
Allah tidak Bisa ditipu, disuap Dengan Penampilan orang munafik...Jadi jgn merasa Senang menganggap telah menyenangkanAllah Dengan berjilbab .
Akan Lebih Bernilai di mata ALLAH apabila kmu Mempunyai Kelemah lembutan, Pemaaf, murah hating, setia, mengasihi sesamamu, tenggang rasa, Mau Berkorban untuk sesamamu, tidak egois, Mau Berbagi, Mau melayani ,jangan membeda bedakan sesamamu manusia,
,,pertanyaan. .
KASIHAN SEKALI ORANG TUA 2 KITA DULU IBADAHNYA TIDAK DITERIMA Klu hukumnya tidak memakaiJilbab IBadahnya tidak diterima ALLAH..
Apa orang 2 kuwait, emirat, bahrain, tidak lebih taat dan paham masalh ilmu agama dari kita kok masyarakat tidak semua memakai jilbab.
Iran sebelum qommeni berkuasa..masyarakatnya tidak harus berjilbab.
Apakah bangsa kita ini lebay, apa bodoh,munafik, apa sok sokan ya..melakukan sesuatu tanpa dipelajari segi historiya, maknanya, maksudnya,
Cukup dengan kata ini, kata itu, dan ditakut takuti dengan membawa nama Allah. Semua menurutinya. ...
Apakah ini bukan bentuk penjajahan budaya atas nama agama?
Dimana tanggung jawab kita sebagai bangsa dalam menjaga dan melestarikan ciri khas / KHARAKTER bangsa indonesia..

Anonymous said...

Suka sekali sama kalimat mba ratna yg ini: Yang pake jilbab tidak perlu teriak-teriak yang belum pake jilbab masuk neraka. Dan yang tidak pake jilbab tidak usah berargumen banyak pake jilbab masih seksi, celana stretch, kaos ketat. Lalu yang pake cadar cuman sibuk ibadah dan merasa paling mulia tidak mau berinteraksi dengan non golongannya.