Friday, February 4, 2011

IHYA' 'ULUMIDDIN (menemukan jalan menuju kebahagiaan sejati)

Aku tidak asing dengan buku Ihya' 'Ulumiddin, karena waktu di Bogor tahun 2008-2009, aku pernah belajar tentang kebersihan qolbu yang dibimbing ustadz lulusan Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Cerita tentang pengajian ini aku tulis di postinganku berjudul Bogor dan penyambungan tali silaturahmi dan Niat membuka Facebook untuk amar ma'ruf nahi munkar.
  
Dari harian Republika Jum'at, 4 Februari 2011. Tentang ringkasan buku Ihya' 'Ulumiddin 1 karangan Imam Al-Ghazali

Dimanakah kebahagiaan itu berada? Pada harta, kedudukan, atau kemewahan? Lalu mengapa banyak di antara orang yang berlimpah harta sering kali terkena stres? Atau mengapa pula para pejabat dan pengusaha yang mempunyai karier dan kedukan bagus terpuruk dalam kenestapaan?

Harta melimpah, rumah megah, mobil mewah , kedudukan tinggi, dan beragam kesenangan dunia lainnya, sering kali oleh kebanyakan orang diposisikan sebagai sumber kebahagiaan. Tak heran bila seluruh daya upaya, dari pagi hingga malam, dikerahkan untuk mewujudkan semua kesenangan tersebut tergenggam di tangan.

Beragam cara dilakukan, beragam upaya diusahakan. Semua dikerahkan dengan satu tujuan, merengkuh kesenangan dunia yang diyakini dengan semua kebahagiaan akan diraih. Di sisi lain, kemiskinan, ternyata juga menjerembapkan kebanyakan manusia pada kehidupan gelap penuh maksiat.

Banyak di antara mereka menghalalkan segala cara atas nama perut dan cari makan. Waktu seperti terbalik, malam merayap siang terlelap. Lalu dmana sesungguhnya bahagia itu berada? Kecenderungan menomorsatukan kehidupan dunia dan menomorduakan kehidupan akhirat selalu muncul di sepanjang zaman.

Tak terkecuali di masa al-Ghazali, seorang pemikir yang banyak mewarnai perkembangan ilmu keislaman. Ia yang dikenal sebagai hujjatul Islam (pembela Islam) ini menilai, saat kehidupan akhirat dinomorduakan, hal itu merupakan pertanda pemahaman agama umat sedang merosot dan mandek.

Keadaan ini menggerakkan al-Ghazali menyusun sebuah karya yang kemudian ia beri nama Ihya' 'Ulumiddin atau Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama. Dalam buku yang kemudian menjadi karya masterpiece al-Ghazali tersebut, dibahas empat tema besar.

Tema-tema itu mengenai ibadah, urusan dunia, atau pekerjaan sehari-hari, kejahatan yang merusak atau perbuatan yang membinasakan, dan kebaikan yang membangun atau perbuatan yang menyelamatkan, al-Ghazali menempatkan pembahasan seputar ilmu yang masuk dalam tema ibadah diuraikan di awal.

Ia berkeyakinan, ilmu merupakan alat dan sarana pokok untuk menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupan, baik dalam mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Pembahasan mengenai ibadah diuraikan dengan sangat terperinci , termasuk tentang adab ibadah.

Selain itu, dijelaskan juga apa saja yang disunahkan, hikmah perintah ibadah, serta dilengkapi dengan pengalaman para ulama dalam mengamalkannya. Di dalamnya juga ada bahasan soal ilmu, adab guru dan murid, rahasia dan keutamaan shalat, rahasia dan keutamaan zakat dan lainnya.

Pembahasan kedua, tentang urusan duniawi. Dalam pembahasan ini, diuraikan hikmah hubungan antar manusia, liku-liku yang menghiasinya, apa saja yang disunahkan dalam urusan duniawi, serta memelihara diri dari pengaruh yang berlebihan dalam setiap perbuatan.

Bagian dari pembahasan itu adalah adab makan dan minum, adab berteman, adab mengasingkan diri, dan yang lainnya. Pembahasan ketiga, berkisar kejahatan yang merusak. Ada penjelasan mengenai akhlak tercela juga definisi dan hakikat serta batasan akhlak yang tercela.

Tak ketinggalan juga uraian mengapa akhlak menjadi tercela, apa saja yang melatarinya, bahaya apa yang mungkin ditimbulkan oleh akhlak buruk, dan tanda-tanda yang bisa dilihat untuk mengenali gejala-gejalanya secara dini. Pun cara-cara efektif mencegah maupun mengobati jika akhlak kita menjadi buruk.

Di antara yang dibahas adalah keajaiban jiwa, bahaya marah, bahaya perut, dan nafsu seksual. Dalam pembahasan keempat, yaitu kebajikan yang membangun, dijelaskan perihal akhlak mulia, lembut, dan sangat diinginkan siapa saja. Selain itu mengenai batasan akhlak terpuji, hakikatnya, dan apa saja yang mengantar kita ke arah itu.

Diuraikan pula manfaat yang bisa dipetik oleh mereka yang berakhlak mulia, tanda-tanda mereka yang sudah meraihnya, berikut keutamaan yang sanggup mengantarkan kita menuju jalan serta keridhaanNya. Bagian dari pembahasan keempat itu adalah tobat, sabar dan sikap dermawan, serta sikap pasrah.

Menggapai kebahagiaan sejati
Menelusuri bab demi bab Ihya' 'Ulumiddin kita diingatkan oleh al-Ghazali bahwa kesenangan dunia bukanlah kesenangan yang pantas diburu dengan sepenuh tenaga. Ia meyakinkan, kesenangan dunia hanya mendatangkan kebahagiaan semu dan sementara. Seolah membahagiakan, tetapi kenyataannya jauh panggang dari api.

Melalui bukunya ini, al-Ghazali menuturkan, kesenangan pada kehidupan akhirat justru akan membuahkan kebahagiaan abadi dan sejati. Untuk itu, al-Ghazali mengajak kita berusaha sungguh-sungguh menjalani aktivitas akhirat. Juga membingkai aktivitas dunia dengan nilai-nilai akhirat sehingga aktivitas kita selama di dunia bisa menjadi bekal menghadapi kehidupan akhirat. Oleh karena itu, meski Ihya' Ulumiddin disusun ratusan tahun lalu, tetap relevan dijadikan referensi untuk zaman sekarang. Atas dasar itulah, Republika Penerbit berupaya menghadirkan kembali mahakarya ini untuk pembaca.

Dengan harapan, buku di dalam edisi Indonesianya akan diterbitkan dalam delapan jilid ini bisa menjadi teman dalam setiap usaha menggapai kesenangan kehidupan di akhirat.

No comments: