Ditunggu saja dulu

Friday, June 3, 2011

Dulu aku pernah ngobrol dengan temenku yang suka membantu orang lain di Surabaya dengan hipnoterapi. Terus waktu sahabatku perempuan ultah di L'Cost, aku dipijat dengan cara dipegang punggungku. Sarannya, aku mesti ikhlaskan anak-anakku dirawat di Bogor.

Terus aku ketemu seorang lagi yang suka bantu nyembuhin orang bermasalah di Depok, direkomendasikan temenku yang indigo. Aku nelpon cerita masalahku, kata beliau aku mesti tunggu dulu. Kayaknya emang beresiko tinggi kalo aku maksain ke Bogor. Sarannya sama kayak temenku yang hipnoterapis di Surabaya, kalo belum menunjukkan penyesalan mendalam jangan nemuin dulu.

Aku ngeliat anakku di Bogor menangis minta tolong. Sebetulnya secara fisik mereka memang tidak menangis. Ada sisi batin mereka yang menangis, karena dulu waktu aku mengasuh Safira dan Safitri, aku mengajari mereka doa sehari-hari dan membaca iqro'. Ayahnya sendiri tidak bisa membaca huruf Arab, sudah ketauan kan didikan dari neneknya seperti apa. Seringnya membaca yasin dari bahasa Arabnya yang sudah diIndonesiakan. Kayaknya keluarga di Bogor ini belum sampai pemahaman bahwa membaca Al Qur'an dari huruf Arab pahalanya sangat besar, bahkan dihitung tiap huruf.

Ngomongin orang terus aku ya... (ada yang bilang asal bisa diambil hikmahnya gak pa-pa). Nyengir dulu...

Mantan suami memang idenya mengerikan, mau menyiram mukaku pake air keras. Soalnya gak rela kalo aku nikah sama laki-laki lain. Dan idenya ambil anakku Safira dan Safitri yang sudah kuasuh 5 tahun, diambil 3 tahun yang lalu, adalah agar hidupku merana dan menderita akhirnya mengemis-ngemis padanya. Siapa yang mau balik sama dia, kalo di tangannya ada air aki siap disiramin ke wajahku buat ngancem aku.

Nenek Safira dan Safitri tidak mau terima anaknya dikatain jahat. Kata beliau sms terornya hapusin semua. Udah aku hapus, cuman kan ada beberapa saksi yang pernah ngebaca smsnya, termasuk temen SMPku yang rumahnya deket radio Geronimo Jogja.

Jadi ingat istri Nabi Nuh 'alaihi sallam yang tidak mau ikut bahtera suaminya, dan ada anaknya yang ngotot merasa pandai berenang. Mereka semua kena banjir besar, dan hanya manusia beriman yang selamat dari azab Allah. Apa hubungannya tuh, hubungannya kakek Safira dan Safitri berusaha hidup lurus dan menjalankan Islam secara benar. Berusaha meluruskan istrinya yang lebih suka mengamalkan ilmu gaje dari ortu. Baca amalan inilah, amalan itulah, tapi berat membaca apalagi mengamalkan Al Qur'an dan hadits.

Ayahnya Safira dan Safitri juga bermasalah, ngerasa kakeknya yang di Cariu sakti, makanya dia nemuin penasehat spiritual. Sama penasehat spiritual ini dibacain amalan-amalan sambil tubuhnya dibungkus kain kafan kayak pocong. Dan dia ngerasa bangga bisa cerita sukmanya bisa memisah dari raga, jalan-jalan ke istana pajajaran yang katanya pintu gerbangnya ada di kebun raya Bogor. Aku pernah ngeliat dia kesurupan, aku rasa suatu saat jin yang membantu dia jadi 'sakti', bisa menjawab semua pertanyaan sebagai google manusia, akan minta imbalan tumbal. Naudzubillah min dzalik...

Jadi, sementara ini aku akan menunda ke Bogor, karena resikonya terlalu besar untuk ke sana. Selain itu, tugasku saat ini mendoakan dan mengingatkan. Kalo gak mau terima... Ya sudahlah yang terjadi terjadilah, kita tunggu aja...

2 comments

  1. insya allah 4 tahun lagi bertemu safira dan safitri mbak..... amin

    ReplyDelete
  2. @ Mas Rio, sebetulnya itungan saya juga sekitar 6-7 tahun. Selama itulah orang tua saya kehilangan saya. Tapi bisa jadi lebih cepat. Urusannya panjang. Saya ngeliat keluarga mereka kolaps. Karena banyak yang menjalankan amalan tidak jelas. Memang ditunggu tidak usah memaksakan diri...

    ReplyDelete