Wednesday, June 15, 2011

Tabungan shalat

Waktu aku ikut pengajian di sahabat tetanggaku, pembicaranya cerita tentang tabungan shalat. Beliau cerita ada seseorang pulang umroh terus menyatakan sudah punya banyak tabungan shalat karena shalat di Masjidil Haram itu 100 ribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain. Sedang shalat di masjid Nabawi 1000 kali lipat, dan di Masjidil Aqsa 500 kali lipat.

Terus kata pembicaranya, sebetulnya shalat di Makkah adalah pemicu agar bisa shalat dan ibadah di tanah air lebih baik lagi. Kalo itung-itungan pahala kok enak ya jadi orang kaya bisa mondar-mandir umroh jadi pahalanya banyak.

Masalahnya itu, hidup adalah untuk mencari keridhaan Allah bukan untuk itung-itungan pahala. Pernah aku juga itung-itungan pahala. Pada beberapa orang yang nyakitin atiku banget (dulu, sekarang udah gak gitu lagi) dan aku sudah ingatkan tentang ajaran Islam yang benar, aku bilang nih, kuambil pahalamu, kalo udah abis ambilah dosaku.

Soalnya ternyata pahala itu bisa ditransfer kayak uang di rekening. Jadi orang yang bolak-balik umroh, sering shalat di Masjidil Haram, kalo dia menyakiti hati orang lain maka pahalanya diberikan pada orang lain. Parahnya lagi kalo nyakitin hatinya keseringan sampe banyak orang, pahalanya bisa defisit, dan di rekening kebaikan kosong. Malah numpuk dosa di rekening keburukan. Ngomongin orang lain aja dosa. Membicarakan kejelekan orang biarpun itu benar dosa, apalagi mengada-ada, jadinya fitnah. Manusia itu tidak luput dari dosa.

Ada temenku yang masa mudanya suka berkelahi, insting dan intuisi perkelahian tajam, selalu lolos katanya. Setelah kepala 4 dia masih sering menyelesaikan masalah dengan marah-marah, kalo gak marah gak akan selesai katanya. Dan dia ngomong ke aku kalo dia dilindungi Allah, nyatanya hidupnya selalu selamat walaupun suka marah-marah dan menyakiti hati orang lain. (Ustadzku bilang boleh kasih contoh cerita asal untuk diambil hikmah dan tidak menyebut nama).

Di Al Quran, dinyatakan bahwa manusia beruntung adalah manusia yang mencari keridhaan Allah. Pahala adalah janji Allah, tapi manusia yang sudah berserah diri sepenuhnya pada Allah tidak akan mempermasalahkan itungan pahala itu (yaaaah, aku sendiri masih suka itung-itungan).

Soal temenku yang suka marah-marah, tidak ada tuh di Al Qur'an dinyatakan bahwa orang yang suka berantem dilindungi Allah. Yang ada hanyalah kalimat yang menyatakan Allah bersama orang yang sabar.

Andai kita mampu untuk berangkat umroh ataupun haji, shalat di Masjidil Haram dengan kemuliaan yang begitu tinggi, setelah pulang tetaplah rendah hati dan sabar. Supaya Allah selalu bersama kita dan pahala yang kita kumpulkan tidak sia-sia...

5 comments:

Anonymous said...

from Mundi :
kalo cuma ngitungin pahala itu sih masih bagus mbak... daripada cuma ngitungin uang di rekening bank....

Ami said...

@ ngitung rekening di bank hasil nipu orang, korupsi, proyek fiktif, berapa banyak tuh yang dirugikan... Naudzubillah min dzalik...

Rizkyzone said...

jadi inget sama bang madid, setiap amal perbuatannya di catat sendiri, bahkan saya pernah dengar juga unt6uk mencapai surga cukup dengan membayar uang 4 juta, ada2 aja, masak surga di beli pakai uang

Fermy said...

Kuwi ide pahala iso ditransfer koyo rekening wae hasil diskusi sms karo sopo hayo,...mestine ditulis sumbere lho Tante,...hahahaha

Ajeng Sari Rahayu said...

Kok ya sempat2nya lho orang ngitung pahala sholat.
semestinya yang namanya kebaikan meskipun untuk kita sendiri atau orang lain ya ndak usah diingat. Itu nasehat Ibuku mbak :)

lebih baik memikirkan hal2 lain yang patut untuk dipikirkan.