Sunday, July 17, 2011

Gak setuju dengan "swarga nunut, neroko katut"

Ada pepatah Jawa menyatakan "swarga nunut, neroko katut" atau terjemahan bebasnya dalam bahasa (Indonesia) "surga numpang, neraka ikutan". Ditujukan tentang istri yang akan ngikutin suami kemana aja, sampai ke surga dan neraka di akhirat.

Di Islam, ada seorang wanita sholehah yang dia menjadi penghuni surga sedangkan suaminya penghuni neraka yaitu Aisah dan Fir'aun. Aisya menjadi istri Fir'aun dalam keadaan diancam. Ada hadis yang menyatakan bahwa wanita sholehah masuk SURGA 10 ribu tahun lebih dulu dibanding suaminya, bila mau membantu suaminya dalam hal agama.

Bisa jadi seorang wanita menjadi sholehah, sedangkan suaminya tidak tertarik untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Kemungkinan lebih buruk lagi suaminya menjadi dzalim, sering tidak jujur, selingkuh, bahkan suka menganiaya istri baik secara mental atau fisik. Sudah jelas bahwa istri akan tidak bahagia bila suami menganiaya secara mental atau fisik. Bila usaha sudah dilakukan, istri sudah berusaha memperbaiki diri tapi suami tetap dzalim, maka perpisahan akan disarankan oleh para psikolog. Karena untuk memperbaiki suatu perkawinan hendaknya dari kedua belah pihak. Bila satu didzalimi terus-menerus, dikhawatirkan jiwanya terganggu dan masuk ke rumah sakit jiwa.

Jadi tidak benar wanita selalu ndompleng suami, bahkan sampai di akhirat nanti. Ada kemungkinan Istri bisa masuk surga, dan suami masuk neraka. Semoga bagi yang sudah menikah, selalu menjaga keharmonisan rumah tangga, ini bukan dari satu pihak saja, tapi juga dari dua pihak, istri dan suami...

8 comments:

NuellubiS said...

dari postingan ini, keliatan kalo mbak punya pendirian... ga udah percaya dan setuju begitu aja. khususnya sama ajaran agama. yup ajaran agamanya kadang ada juga yang kontranya. :)

Ami said...

@ Nuel, yang aku tulis ini pepatah Jawa. Ortu nasehatin ikut aja apa yang diinginkan suami. Ini berlaku hanya pada suami yang jalankan ajaran agama secara benar. Kalo suami dzalim, dan istri secara kejiwaan tdk sanggup sampai sakit-sakitan, maka perpisahan adalah jalan keluar terbaik. Bila istri masih sanggup hadapi dg memperkuat keimanan dan ibadah, maka istri ini masuk surga dan suami dzalim masuk neraka. Memang surga neraka terserah pada Allah, tapi kelihatan kan dari perbuatannya siapa yang baik dan siapa yang jahat...

Anonymous said...

jgn hanya menterjemahkan dg makna bahasa.. wlopun hanya sepatah kata, tp pasti maknya sangat panjang. klo dlm banner ikalan ada tulisan *syarat dan ketentuan berlaku.

From hamba Allah

Suharto K said...

Maaf kalau penafsiran saya berbeda, budaya Jawa itu identik dengan pasemon, kiasan atau bukan arti yang sesungguhnya. Swarga nunut neraka katut lebih merujuk pada suami adalah imam sedangkan isteri adalah makmum. Kalau imamnya salah boleh saja makmumnya mengingatkan. Maka dari itu sudah menjadi takdir bahwa Rusa yang bertanduk adalah rusa jantan, demikian juga gajah yang bergading adalah gajah jantan untuk melindungi betinanya. Perhatikan pula semua deretan para nabi dan rasul adalah pria.
Swarga Neraka lebih diartikan kehidupan didunia ini, kalau suaminya jadi camat maka istrinya dipanggil ibu camat, tinggal nunut dan katut saja. Tapi sebaliknya kalau ibu Megawati jadi presiden tidak mungkinlah pak Tufik Kiemas dipanggil pak presiden.

Anonymous said...

menarik sekali pepatah ini namun ada yang menambahkan "Swargo nunut neroko emoh katut", kalo menurut saya sih surga itu kebahagiaan dan neraka itu kesengsaraan ( masih dalam taraf hidup di dunia ) jadi apakan apabila suaminya dalam keadaan sengsara si istri tidak mau ikut sengsara dan membantunya atau sebaliknya apabila si istri sengsara apa si suami tidak mau merasakan kesengsaraan dan membantunya.

apakah cuma mau enaknya saja tapi tidak mau merasakan sengsaranya bersama ?

hidup itu khan ada pasang surutnya, ya fenomena sekarang banyak perempuan memang menginginkan calon suami atau hidup yang mapan bahkan mungkin ekonomi atas.

Jadi kalo saya tidak menerjemahkan sejauh itu sampai masuk neraka istri ikut masuk neraka.

Matur Nuwun

Ratnawati Utami said...

Keterbatasan saya dan pengalaman pribadi membuat istilah "swarga nunut, neroko katut" jadi mentah. Tapi itu memang terjemahan bebas dari saya.

Jaman dulu bisa-bisa saja ibu-ibu menasehati anak perempuannya dengan kalimat ini kalo anaknya gak belajar Islam kan persepsinya jadi beda.

Saya sendiri merasakan persis bagaimana rasanya berada dalam neraka pernikahan, tidak diberi nafkah oleh suami dan mertua tidak membolehkan makan walau satu rumah.

Setelah akhirnya diteror sms oleh mantan bahkan diancam disiram air keras oleh mantan, berdasarkan pengalaman itu saya menulis ini. memang subyektif.

Tapi coba deh perhatiin kalimat SURGA NUNUT NEROKO KATUT... bayangkan saja tanpa embel-embel maksudnya penjelasannya adalah...

Anonymous said...

Itu adalah istilah di masyarakat
tentang eratnya hubungan suami
istri. Hubungan itu tidak saja di
dunia, bahkan bisa sampai akhirat.
Maksud dari pernyataan itu adalah
bahwa setiap laki-laki / suami memiliki tanggung jawab besar
terhadap perempuan / istrinya. Para
suamilah yang yang menjadi
pemimpin dalam rumah tangga.
Merah putihnya nasib keluarga juga
menjadi tanggung jawab seorang kepala keluarga.
Karena tugas suami memang
membimbing si istri menuju jalan
yang diridhoi oleh Allah SWT.Di
dalam al-Qur’an, Allah SWT
berfirman: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan sholat dan
bersabarlah dalam mengerjakannya. (Qs. Thoha: 132). Kalau suaminya mendidik istri dan
anaknya dengan baik, mengajak
mereka beribadah, sehingga anak
istrinya ikut beribadah maka istrinya
akan ikut suaminya masuk surga.
Jadi surganya istri katut nunut suami.
Sebaliknya kalu sang suami tidak
bisa mendidik istri, bahkan dia
berbuat munkar, lalu si istri ikut-
ikutan tingkah laku suami yang
tidak bagus, maka si istri pun bisa katut masuk neraka bersama
suaminya. Namun bila si istri tidak
mengikuti perilaku suaminya yang
jelek, maka sang istri bisa masuk
surga, istri tidak katut suami yang
masuk neraka. Oleh karena itu, seorang istri yang punya suami
kurang baik, semampunya
mengingatkan suaminya. Y a
mudah-mudahan kita semua
dijadikan suami istri yang ahli surga.
Masuk surga bersama-sama.

Anonymous said...

Terbalik . Itu pepatah untuk suami sebagai imam.istri salah suami ikut salah. Suami salah adalah salah suami. Untuk itulah terkesan suami punya hak lbh dari istri. Namun sesungguhnya terbalik. Istri ditempatkan dalam tempat tg jauh lbh tinggi dari suami. Suami diminta pertanggung jawabannya mengatur anak dan istri. Jika gagal dan seluruh upaya sdh dimaksimalkan.berpisahlah untuk menghindari kezoliman. Itu maknanya. Mohon maaf untuk kalimat yg tidak berkenan