Thursday, August 25, 2011

Hati bergetar bila membayangkan berada di depan Ka'bah

Banyak tipe orang yang aku kenal semenjak aku merasa diberi kesempatan hidup lagi yang kedua oleh Allah, Juni 2009 lalu. Sepertinya aku melihat tubuh mereka transparan, tampak hatinya gimana. Keliatan mana yang tubuhnya penuh energi positif dan tidak. Awalnya sih aku gak tau, tapi akhirnya mereka sendiri yang menyatakan sikap. Lama-lama kerasa banget, dan sempat membuatku kebingungan ngoceh gak jelas, bahkan sakit karena ketularan energi negatif. Jadi aku mesti belajar untuk selalu menghilangkan energi negatif itu dengan rileks dan berdzikir mengingat Allah. Kalo saking sibuknya sampai jarang berdzikir, badanku bisa sakit, karena buatku dzikir memasukkan energi positif dalam tubuh.

Kalo baca tulisan dan komentar di komunitas Indigo, adik-adik yang masih muda-muda ini sedikit di atas 20 tahun atau di bawahnya lebih peka lagi. Mereka bisa melihat warna aura dari tubuh orang lain. Ada yang bisa menyerap energi matahari, bulan... wah, kayak Sailormoon saja. Sering ngikik aja membaca celotehan mereka. Pada dasarnya reaksi mereka kayak aku, bisa merasakan betapa gelapnya dunia ini, hanya ada beberapa orang yang bener-benar cemerlang. Mereka ngobrolin masalah telepati, mempengaruhi orang lain dengan vibrasi emosi, menggerakkan air dengan pikiran, dan membaca pikiran. Yang aku maksud dengan membaca pikiran bukan bisa tau kata perdetil yang orang lain pikirkan, tapi bisa merasakan niat dia baik atau tidak, jujur atau tidak. Andai sedang tidak fokus untuk merasakan kejujuran, nanti muncul suatu sinyal atau insting yang menyatakan orang ini tidak jujur.

Aku pernah menulis postingan yang berjudul "Apakah aku indigo?" karena aku kebingungan dengan semua yang muncul di benakku. Tentang UFO, reinkarnasi, aura, telepati, masuk ke dimensi alam lain, bertemu dengan sosok orang yang sudah meninggal, apa sebetulnya penjelasan dari semua itu. Ada yang kasih pendapat, jangan kasih tau ke orang lain, nanti mereka takut padaku. Tapi peduli apa, toh teman-temanku di dunia nyata banyak yang ilfil sama aku, istilah seorang komentar anonim di blogku yang bilang "semua orang ilfil sama kamu, kalo ketemu temen yang kamu omongin itu-itu aja. Tanya aja ke teman-teman blogmu, mereka juga ilfil sama kamu". Kayaknya orang ini tau persis soal aku, teman di dunia nyata, nyatanya dia bilang kalo ketemu temen-temen ngomongnya itu-itu aja.

Kalo sedang berada di mall ngeliat orang banyak gak masalah karena tidak kenal. Tapi paling sulit adalah berkumpul dengan teman-teman, ngomongin kekurangan orang lain serasa langsung ditampar, hei itu dosa ngejelekin orang lain. Ngomongin orang lain bisa kebaikannya, bisa kekurangannya. Cara ngomongin orang lain juga bisa berbeda bentuknya, misalnya gini, kita belajar untuk selalu banyak menolong orang lain dan sedekah, ingat gak si A susah untuk dimintain sumbangan, sebaiknya jangan dicontoh. Maka hawanya lain dengan kalimat, si A kok pelit amat ya padahal duitnya banyak, kayaknya dapet dari korupsi. Barangkali si A memang korupsi dan pelit, tapi ngomongin begitu disebut "ghibah". Mendengar cerita seperti itu akan ada hawa panas menampar mukaku, kayak hembusan dari neraka, dan aku sulit tersenyum dan enjoy kalo berada di kelompok yang sukanya ngejatohin orang dan ngetawain. Kata ustad Yusuf Mansyur, dosa yang ditimbulkan hanya bisa hilang kalo sudah menyampaikan permintaan maaf, terserah mereka mau menerima maafnya atau tidak.

Hawa paling adem adalah berkumpul di kelompok pengajian, ada bacaan ayat-ayat Al Qur'an yang dibacakan. Ada hawa sejuk yang menenangkan, seperti tiupan angin surga. Hawa inilah yang bisa membuatku melepaskan energi negatif dan memasukkan energi tubuh ke tubuh. Aku pernah nulis postingan tentang menghilangkan energi negatif dari tubuh. TERTULIS : Rileks, berdzikir, seakan-akan ada di gunung yang banyak pohon, mensyukuri semua ni'mat Allah. DRAFT : Rileks, berdzikir, seakan-akan ada di depan Ka'bah. Bila adik-adik indigo lain merasa nyaman dengan pohon, matahari, berbeda-beda ternyata, aku merasa nyaman membayangkan berada di depan Ka'bah. Getaran yang bisa dirasakan di dekat Ka'bah menurutku luar biasa, itulah kenapa banyak orang lain menangis saat berada di sana. Maunya bisa sering-sering ke Mekah ngeliat Ka'bah, tapi karena keterbatasan biaya ya sudahlah, bisa berangkat tahun 2019 sudah sangat Alhamdulillah.

Dengan ngeblog, aku merasa tidak sendiri lagi, banyak blogger yang peka terhadap kondisi kehidupan ini. Agak sensi kalo menjelang lebaran ini mulai ada undangan reuni. Sulit untuk tertawa saat reuni, soalnya orang-orang ini kebanyakan ngeliat kesuksesan dari kerja dimana, gelar, jabatan, rumah, mobil, bukan dari pendalaman spiritual. Minta petunjuk pada Allah sajalah, apa aku perlu datang ke sana atau tidak. Kalo situasi memungkinkan dan ada sahabat baik di sana, diusahakan datang. Tapi acara malem-malem milih gak dateng aja deeeh...

2 comments:

  1. benar mbak, sekarang ini lebaran cuma dijadikan ajang pamer kesuksesan duniawi... apalagi acara reuni, biasanya yang mau datang cuma yg udah kaya aja, kalo yg masih miskin pasti minder....

    ReplyDelete
  2. Temenku juga ada yg 'katanya' indigo. Tp yg aku heran kelakuannya sama dengan org yg tidak indigo. Dia bisa liat apa yg aku ga liat juga bisa ngerasain aura. Tp kan hal tersebut bisa saja bohong.

    ReplyDelete