Friday, August 19, 2011

Hidayah, bagaimana mendapatkannya?

Ada temenku mengatakan aku dapat hidayah dari Allah. Aku sampai sekarang masih sulit menjelaskan apa itu hidayah. Aku hanya bisa menjelaskan tiba-tiba aku begitu tertarik untuk memahami firman Allah untuk dijadikan referensi dari topik-topik tulisanku.Masih perlu banyak bertanya pada yang lebih paham, juga dengan mendengarkan banyak ceramah ustad di tivi, membaca tulisan tentang pemahaman Islam di internet. Masih dalam tahap belajar untuk memahami, dan semua aku tuliskan di blog.

Melihat ekspresi beberapa teman saat kuceritakan yang aku rasakan, bahwa mereka belum bisa merasakan yang aku rasakan, aku juga bisa merasakan aku pernah berada di posisi mereka. Aku membuat blog dengan judul Mengharap ridho Allah, tadinya aku tidak tahu apa maksudnya ridho Allah itu apa, aku hanya ikut-ikutan dengan kalimat ustad di Bogor saat aku belajar Islam tahun 2008. Jadi kata yang aku search untuk memulai tulisanku di Google adalah ridho, aku tulis begitu saja walau masih belum paham. Ternyata setelah kata ridho ada kata ikhlas, lalu kebalikannya adalah riya' dan 'ujub. Lalu semuanya berjalan begitu saja.

Seorang temenku yang dididik oleh orang tuanya secara kental dengan kejawen, bertanya apa iya kalo shalat bisa menangis, soalnya sejak lahir sampai dia pernah jadi teman baikku (sekarang tidak lagi), dia hampir tidak pernah shalat karena tidak pernah dididik orang tuanya untuk shalat. Tadinya temenku ini mengatakan padaku bahwa dia akan berusaha shalat, berhubungan cukup intens denganku, sering telpon-telponan lewat YM semalaman lalu hubungan ini berakhir dengan tragis (buatku). Dia tidak mau menerima telpon dari aku lalu menyampaikan pesan lewat temenku yang lain kalo dia sudah ilfil padaku. Lebih parah lagi, dia mundur dari suatu komunitas temen SMP seangkatan saat aku aktif di situ, lalu setelah banyak orang di komunitas ini ilfil denganku lalu aku tidak mau datang ke komunitas ini lagi dia jadi aktif di sana. 

Temenku yang lain berkomentar tentang ceritaku mengatakan, kok sulit membayangkan betapa indahnya rasa beribadah. Walaupun berbeda pandangan tentang ibadah, dia tetap berusaha bersikap baik denganku, masih berjiwa besar.

Menurut Quraish Shihab, untuk memahami firman Allah adalah membuka hati dengan tulus, itu saja. Untuk membuka hati dengan tulus mudah diucapkan tentu saja, tapi proses yang menyertainya bisa berbeda-beda. 

Aku sendiri masih jauuuuh dari paham, baru tahap belajar. Aku hanya bisa mengatakan, mencoba cari tau walau awalnya tidak mengerti, tidak paham, dan tidak bisa merasakan. Bila bisa merasa iri dengan manusia yang shaleh, bukan penganut hedonisme itu adalah tahap awal yang baik. Begitu seringnya aku dijauhi orang, sampai-sampai ada beberapa blogger (tidak hanya satu loh) yang aku mencoba kontak tidak mau menjawab, aku sampai berpikir, ternyata proses untuk memahami firman Allah aku mesti merasakan bagaimana rasanya dijauhi orang-orang agar aku lebih fokus mengharap ridho Allah bukan mengharap ridho dari orang lain. Walau aku sekarang begitu sensinya sampai bila ada orang yang tadinya akrab lalu menjauh bikin aku menangis sesaat, hanya sesaat saja untuk mengatur kembali langkahku. Jangan sampai kegalauan menyurutkan keinginanku untuk mendapat posisi lebih baik saat di akhirat kelak...

1 comment:

Ajeng Sari Rahayu said...

Amin, saya malah salut sama mbak Ami. update terus, dan sekarang tulisannya beragam nggak cuman di Agama saja...macem2 yang dibahas. semangat terus ya mbak