Thursday, August 4, 2011

Memiliki empati

Pernah aku ngobrol dengan seorang teman menceritakan kegelisahanku tentang sesuatu hal. Dijawab oleh temenku, sederhana katanya, udah gak usah dipikirin. Bukannya tambah merasa nyaman ngobrol dengannya, malah tambah kesel. Aku terusin ngobrol hanya untuk basa-basi aja, ucapan selanjutnya gak aku dengerin lagi, saran-sarannya lewat gitu saja, lagian sarannya juga menurutku masih banyak gak benernya, solusinya gak sesuai dengan yang aku butuhkan.

Seorang psikolog, pasti sebelum kasih solusi berusaha mendengarkan kliennya dan memberikan empati. Sudah beberapa kali aku berkonsultasi dengan psikolog untuk menyelesaikan masalahku. Para psikolog ini sudah terbiasa mencoba memberi solusi untuk masalah orang lain, jadi mereka ini sudah terlatih, sudah mempunyai jurus-jurusnya. Memang kenyataannya tidak mudah untuk mendengarkan masalah orang lain kalo tidak terbiasa, ada yang terbawa emosi sampai gak bisa tidur misalnya. Atau ada juga yang mengganggap enteng masalah orang lain, dengan santainya komentar, udah, lupakan saja.

Menyelesaikan masalah memang butuh proses. Kadang proses itu tidak menyenangkan. Misalnya seorang istri yang sering dipukuli suami pasti mengatakan, saya menderita lahir batin, tapi saya tidak bisa meninggalkan suami saya, nanti saya makan apa, saya juga malu dengan pendapat orang lain. Mengenai masalah suami istri, bila ditinjau dari ajaran Islam, dari saran Mama Dedeh, seorang istri mesti memperbaiki ibadahnya, banyak berdoa, bersikap baik pada suami, bila sudah berusaha intropeksi sedemikian rupa suami tetap bersikap zalim, lebih baik ditinggalkan, kecuali masih sanggup untuk sabar. Bila istri sudah sakit-sakitan, menderita depresi, sudah selangkah lagi menuju rumah sakit jiwa, lebih baik untuk berpisah saja (daleeem ya, pengalaman pribadi soalnya). Bagaimana tidak, sudah depresi, tapi seorang suami tidak mensupport malah tambah menekan dan meneror, lebih baik kembali kepada keluarga, dan lebih mendekatkan diri pada Allah.

Untuk bisa menolong orang lain yang jiwanya tertekan memang tidak mudah. Kalo bukan seorang profesional, cenderung diremehkan. Kalo terbawa emosi sampai kebawa di pikiran serahkan semuanya pada Allah, soalnya kita hanya bisa membantu, keputusan untuk mau berubah ada pada yang bersangkutan. Kalo bisa diajak untuk sama-sama berdo’a dan memperbanyak sedekah. Kalo orangnya merasa gak nyaman dengan saran kita padahal maksud kita baik, dibantu dengan do’a…

Allah berfirman:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'du : 28)

No comments: