Friday, October 21, 2011

Kebenaran vs pembenaran untuk definisi Islam taat

Selama 2 tahun lebih aku belajar Islam di Jogja ini, aku ketemu banyak orang yang mengaku Islam taat versi masing-masing. Misalnya ada teman lama yang sempet chat sama aku, mengaku dia Islam taat dan dibesarkan dalam keluarga yang taat agamanya. Tapi ternyata aku terlibat dalam suatu perdebatan dengannya gara-gara dia nulis status di Facebok  "dapat uang 500 ribu dari pasien, katanya nadzar. Aku gak mau nerima tapi dipaksa, kusimpan kapan-kapan kukembalikan". Beberapa komentar dari status ini rata-rata gini "uangnya untuk aku aja, hehehe". Hanya aku sendiri yang lain komentarnya "uang nadzar diterima saja, berikan pada orang lain yang lebih membutuhkan". Biarpun orang ini dokter yang mengaku berjiwa sosial, bahkan menggambarkan dirinya sebagai Islam taat, penjelasanku tidak bisa diterimanya. Buntutnya... biasa, kalimat indah muncul "aku muak sama kata-katamu". Sekarang sudah tidak berteman di Facebook lagi.

Aku sendiri masih dalam taraf berusaha untuk menjadi Islam yang taat. Dalam pemahamanku, seorang Islam yang taat adalah yang mau belajar ajaran Islam yang benar dari Al Quran dan hadits lalu mengamalkannya. Kebanyakan orang merasa puas hanya disebut jadi orang baik. Setauku sih, orang yang disebut baik biasanya yang suka traktir temen-temennya, suka ngelucu hingga membuat teman-temannya tertawa. Atau kalo tidak suka mentraktir minimal omongannya suka ngebanyol sehingga teman-temannya jadi senang.

Bagaimana menurut ajaran Islam yang benar, traktiran yang bermanfaat untuk akhirat adalah mentraktir orang yang tidak punya uang untuk makan. Bicara yang bermanfaat adalah bicara tentang kebaikan untuk dunia akhirat. Jadi orang yang baik di kalangan teman-temannya, belum tentu dia orang baik menurut ajaran Islam. Sahabatku yang sering mengajakku untuk mengunjungi ke pengajian mengakui, bahwa bila dia menyebarkan SMS untuk makan-makan, cepet banget reaksinya dan kebanyakan menyanggupi untuk berangkat. Sedangkan bila menyebarkan SMS untuk acara pengajian, mendadak semua jadi sibuk.

Ada keluarga yang aku kenal baik di Jawa Barat bikin versi pribadi tentang Islam taat ini. Punya suami dari Sumatera yang berusaha mengajari istrinya Islam yang benar dengan belajar Al Qur'an dan membantu keluarga kesusahan. Setelah menikah beberapa belas tahun suaminya meninggal, muncullah jiwa aslinya. Membuat aturan Islam taat versi dirinya sendiri, banyak belanja baju, saat bulan Ramadhan sibuk membuat kue bertoples-toples siang malam. Hari raya Idul Adha hampir tidak pernah memotong hewan qurban, padahal menghabiskan puluhan juta untuk lebaran Idul Fitri. Sama saja seperti cerita di awal, pernah iseng mengatakan akan bernadzar menyembelih sapi kalo diberi umur sampai Idul Adha tahun berikutnya, ternyata tidak dilaksanakan padahal membeli furnitur baru untuk ruang tamu dari kayu jati senilai beberapa juta rupiah. Sudah jelas-jelas almarhum suami ini berusaha mengajari Islam yang benar, tapi setelah suami meninggal, Ibu ini sibuk berpesta dengan baju-baju baru dan makanan enak. Dulu aku pernah jadi anggota keluarganya, sekarang enggak lagi, karena berpisah dengan anaknya. Banyak tekanan, tidak hanya dari anaknya, tapi seluruh keluarga besar ini. Termasuk ide Ibu ini yang membuat aturan saat Ramadhan aku tidak boleh ikut berbuka untuk menikmati masakannya karena tidak menyumbang uang belanja. Inilah Islam taat versi seorang Ibu yang mampu secara materi, tapi salah kaprah karena uangnya banyak dipakai untuk membeli bajunya sendiri dan makanan enak untuk keluarganya sendiri, cape deh katanya mengikuti ajaran almarhum suaminya.

Karena tidak mau belajar Islam secara benar, banyak orang bikin versi sendiri menjadi orang Islam taat. Pengennya menjadikan dunia yang fana ini surga, memakai baju bagus, makan enak setiap saat. Fitnah terhadap agama seperti pengeboman oleh oknum Islam dijadikan alasan, gak mau jadi Islam fanatik, mending jadi Islam biasa-biasa saja #haduuuh. Sebetulnya orang Islam taat yang benar hidupnya akan dicukupkan oleh Allah, tapi janji Allah itu ternyata masih belum cukup bagi orang-orang yang mengaku sudah Islam taat tapi tidak mau belajar Islam yang benar sesuai Al Qur'an dan hadits.

Semoga kita bisa menjadi orang Islam taat yang benar, yang bertakwa, dicintai Allah, dan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat...

Allah berfirman
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. Al Baqarah : 212)

Allah berfirman
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran : 185)

Allah berfirman
Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. An Nisaa : 109)

Allah berfirman
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al A'raf : 51)

Allah berfirman
Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar Ra'du : 26)

Allah berfirman
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr : 3)

5 comments:

Dwi Wahyu Arif N said...

inspirasi pagi :)

Sadako Kenzhi said...

saya bersyukur akhir-akhir ini diberi pengetahuan dan belajar tentang Qana'ah, Zuhud, dan sabar...tetap semangat mbak Ami ^^

Ami said...

@ mas Dwi, tetap istiqomah berbagi kebaikan pada yang membutuhkan ya...

Ami said...

@ Sadako, semoga Allah mencintai kita dan memberi ketenangan hati dan kebahagiaan dunia akhirat. Amin

Muhammad A Vip said...

orang islam taat itu nggak ngaku-ngaku, orang beriman juga gak ngaku-ngaku. juga agama itu lelaku, menilainya tentu dari laku hidupnya bersama orang lain bukan dari omongannya.