Mengatasi trauma

Sunday, October 30, 2011

Bicara trauma, dari pengalamanku sendiri adalah trauma jalan-jalan di mall... kalo inget lucu banget. Waktu itu aku sempet jalan dengan cowok jomblo, setua ini dimana temen lain rata-rata anaknya udah duduk di bangkuu SMP, dia gak mau nyamperin aku, janjian ketemu dimana gitu. Trus makan di suatu rumah makan ngobrolnya lamaaaa banget. Kursi lain udah ganti orang beberapa kali kita masih duduk, nambah minum.

Beberapa kali pertemuan yang kekanak-kanakan, sama sekali tidak dewasa berakhir dengan perpisahan tidak dewasa juga. Orangnya ngilang, gak mau dikontak blas. Akhirnya aku dengar dari orang lain, bahwa dia merasa terteror oleh aku... #hah.

Waktu itu aku trauma ke Galeria Jogja, trauma ke Ambarrukmo Plaza. Aku nyobain ke sana sendirian dengan gamang. Aku melihat ke sekitar dengan hampa, pandangan buyar. Waktu di Galeria aku tidak tahan untuk melihat Wendy's memilih memutar jauh dari pintu masuk, soalnya ada kursi yang dulu kita duduki berdua dan tiap kali kulihat kursi itu dadaku serasa ditusuk-tusuk, kepalaku berputar, ingin pingsan. Dada rasanya sesak dan menyakitkan, air mata berkaca-kaca, dan sampai duduk di air mancur menutup mukaku dengan tangan. Kalo di Ambarrukmo Plaza seakan melihat dia dimana-mana sedang berjalan mendatangiku. Sambil berdzikir aku mencoba mengatasi traumaku berjalan-jalan di pertokoan besar di Jogja ini.

Sekarang sih sudah cuek banget. Ngeliat bangku dipojokan Wendy's nyantai saja. Ke Ambarrukmo Plaza juga lingkungannya sudah bersahabat denganku. Aku belajar relaksasi, sambil mendengarkan gelombang alpha (sisipan dari buku Quantum Ikhlas karanga Erbe Sentanu) membayangkan bersimpuh di pelataran Ka'bah. Kuserahkan jiwaku pada Allah. Konon petunjuknya adalah aku mesti membayangkan kejadian yang aku harapkan terjadi sedetil-detilnya, bersyukur secara mendalam lalu menyerahkan semua pada Allah.

Temenku yang bijak tempat aku berkonsultasi, mengatakan padaku bahwa di dunia ini juga ada neraka dan surga. Surga adalah tempat orang yang merasa hidup, berjiwa besar, mampu mentertawai hal buruk yang menimpa dirinya. Sedangkan neraka adalah tempat orang yang memelihara sisi gelap dalam hidupnya. Punya trauma akan sesuatu tapi memilih menghindar untuk mengatasinya. Salah satu cara adalah dengan hipnoterapi, tapi relaksasi dengan mendengar gelombang alpha adalah cara untuk menghipnoterapi diri sendiri. Ustad Abu Sangkan sendiri pernah bercerita ada testimoni seorang penderita psychophrenia yang Subhanallah sembuh dengan rutin shalat khusuk. Ustad Abu Sangkan menjelaskan bahwa menangis saat shalat bukanlan tangisan sedih, tapi tangisan keharuan.

Aku juga sempat trauma untuk ke Bogor, terakhir menjelang puasa bulan ini aku diantar oleh kakakku sulung datang ke Bogor. Orang yang pernah mengirimi aku SMS dengan kata-kata teror. Aku gak berani ke sana sebetulnya, trauma banget, tapi memaksakan diri ke sana soalnya mesti ada yang diurus. Aku hanya di luar rumah, kulihat kakakku ngobrol dengannya, dia pake kain sarung, seakan akan sudah berubah, padahal belum pernah aku mendapatkan ucapan penyesalan dan permintaan maafnya. Gak nyadar apa ya kalo aku trauma dengannya gara-gara semua kelakuannya yang menurutku menyakitkan hatiku dan keluargaku. Atau dia sama sekali gak menyadari perbuatan menyakiti hati itu dosa jadi enteng saja melakukan semuanya.

Kata orang kita mesti berprasangka baik pada orang, tapi gimana dong, orang ini sama sekali tidak pernah menunjukkan penyesalan. Aku belum sanggup berhadapan langsung dengannya, aku hanya bisa mendoakan semoga Allah menunjukkan jalan yang benar padanya dan seluruh keluarga besarnya. Eeeeehhh... ternyata aku masih punya trauma juga, hahaha... Tapi sejauh ini aku merasa bahagia sekali, belum pernah bahagia seperti ini di kehidupanku. Karena aku sedang belajar agar bisa masuk ke surga, dan bisa membayangkan betapa indahnya surga itu. Wanita sholehah dapat pria sholeh, tidak ada yang jomblo. Saling menyayangi, saling menghargai, bicara hanya yang baik-baik saja, selalu menebarkan salam kasih sayang. Hanya membayangkan suami yang penuh cinta di surga saja aku sudah merasa jatuh cinta. Soal apakah di dunia dapat pasangan lagi, kuserahkan sepenuhnya pada Allah, paling tidak aku tau ternyata masih ada cinta di akhirat...

6 comments

  1. tak semua orang mudah menghadapi traumanya mbak

    ReplyDelete
  2. tergantung tingkat traumanya mbak.

    ReplyDelete
  3. trauma kadang akan menghambat untuk bisa lebih baik ke depannya ya, karena kerap menghantui.
    Sebuah sifat lupa perlu disyukuri dan diterpkan untuk menghilangkan trauma ini,, :D
    Melupakan trauma

    ReplyDelete
  4. wadoh, kemarin aku dari puncak bogor, enak adeem banget sumuk di jakarta terus. hehehehehe

    ReplyDelete
  5. wach selamat ya traumanya mulai hilang... aku juga pernah mengalami hal serupa....

    semoga dapat pasangan yang soleh ya...

    Semangad

    ReplyDelete
  6. pernah trauma juga kalo mau nyebrang, soalnye pernah ketabrak motor, tapi Nay paksain buat ilangin rasa traumatik itu ;)

    ReplyDelete