Friday, October 7, 2011

Mengikhlaskan dengan senyuman

Waktu Bapakku meninggal akhir tahun 2008 yang lalu, Ibuku seperti mendapat bisikan, agar mengikhlaskan Bapak dengan senyuman.Ini link tentang berita kepergian Bapakku Mengenang almarhum Bapak Daruslan (16 Februari 1932 - 27 Desember 2008).  Akhirnya suasana pelayatan tidak ada isak tangis, wajah sedih, karena pengaruh tuan rumah yang banyak tersenyum, sehingga hati semua orang jadi enteng. Saat aku datang dari Bogor, dan ingin menangis dilarang oleh Ibu, dan hatiku langsung tenang saat itu juga, walau setelah itu kadang menangis bila ingat Bapak, tapi tidak sampai terbawa berlarut-larut.

Almarhum Bapak memang meninggal dengan sangat tenang, sedang shalat Shubuh berjamaah berdua dengan Ibu, saat berencana siangnya akan berangkat ke pernikahan putra adiknya Ibu. Biasanya rumah yang sepi, saat itu banyak orang. Mobil sudah dipanaskan, gerbang pagar rumah sudah dibuka, ternyata mobil ini dipakai untuk membawa Bapak ke UGD. Rumah sakit terdekat tidak jauh dari rumah hanya beberapa menit saja, dan tidak lama kemudian Bapak sudah dinyatakan meninggal.

Alasan bahwa karena meninggal dengan tenang dan wajah seperti tersenyum membuat hati Ibuku sangat tenang. Walau beberapa kali aku mendengar isak tangis Ibu saat shalat Shubuh, tapi sehari-harinya Ibuku tetap lebih banyak tersenyum bila mengenang Bapak. Apa arti Bapak untukku, semua orang bilang bahwa Bapak memberi perhatian khusus untukku dibanding saudara-saudaraku yang lain. Bukan berarti karena Bapak tidak adil, tapi karena Bapak menganggap akulah yang paling membutuhkan pertolongan. Saat masalah menderaku bertubi-tubi dan aku sudah tipis menuju ke rumah sakit jiwa, dengan pandangan kosong dan pikiran yang tidak nalar lagi selama belasan tahun.

Kadang hidup tidak seindah seperti yang dibayangkan orang. Seperti cerita Cinderella, akhirnya sang Putri cantik bertemu Pangeran tampan semua ingin akhir cerita seperti itu. Tapi apakah putri-putri jaman sekarang mau bersikap sabar seperti Cinderella yang melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa mengeluh? Putri-putri jaman sekarang inginnya punya baju bagus, makan enak, punya fasilitas canggih dan dapat pangeran ganteng yang kaya. Halah...

Kasus ditinggalkan karena masalah hati lain lagi. Setelah aku pindah ke Jogja dan kedekatanku dengan beberapa orang yang suka curhat malah menyeret ke hal-hal lain. Gara-gara telanjur curhat ini itu, seorang teman di komunitas alumni malah membuatku dijauhi komunitas ini. Dimulai dari seseorang yang malas lagi melihat aku tapi masih ingin bergabung dengan komunitas ini secara gak langsung mempengaruhi yang lain agar tidak berteman denganku lagi. Berlanjut curhatan seseorang di komunitas lain. Biarpun satu kota, tapi saat ada pertemuan aku tidak mendapat kabar apa-apa.

Masalah hati memang runyam, tidak semua orang bisa berjiwa besar mampu memaafkan orang lain, mampu bertemu dengan orang yang telah telanjur dicurhati. Dan akhirnya menyeret satu komunitas alumni untuk tidak memasukkan namaku di daftar undangan bila ada acara. Islam mengajarkan untuk menghindari permusuhan, apalagi sesama Muslim agar saling menjaga kebersamaaan. Mesti berjiwa besar untuk memaafkan, masalahnya tidak semua orang bisa berjiwa besar. Seandainya semua teman-teman di komunitas alumni ini berjiwa besar, sanggup memaafkan pasti aku tetap diterima di komunitas alumni ini.

Masalah hati karena kedekatan emosi juga bisa mebuat hal yang rumit. Saat seorang sahabat maya yang pernah chat hanya beberapa kali memutuskan untuk menjauhi juga bisa membuat hati remuk redam. Malah ada penulis yang merasa jatuh cinta dengan penulis lain (yang tidak tau wajahnya hanya mengenal tulisannya) memutuskan akan menikah dengan seseorang yang jauh di atas umurnya. Saat penulis yang tulisannya membuat hatinya rontok menuliskan di blognya telah jatuh cinta pada orang lain.

Menghilangkan bayang-bayang seseorang memang tidak mudah, bahkan bila kita menyukai seseorang karena sesuatu hal tanpa orang itu menyadari. Bila kita sudah bicara ikhlas, ikhlas dan ikhlas tapi tetap menangis berarti belum ikhlas betul. Ikhlas itu seharusnya menyerahkan semua hati kita pada Allah dan kita akan menjadi tenang. Aku juga sedang belajar tentang ikhlas ini, hanya karena dijauhi seseorang lalu berdampak ke satu komunitas yang membuat hatiku remuk redam. Juga seseorang blogger yang aku perhatikan tulisannya dan aku seperti bisa membaca perasaannya juga membuatku hatiku tertusuk-tusuk bila dia sedang sedih. Semoga aku bisa mengikhlaskan dengan senyuman...

6 comments:

Ejawantah's Blog said...

Walau terkadang bayangan itu telah hilang, namun hanya sejenak. Jadikanlah banyangan itu menjadi sautu kekuatan yang membuat diri kita selalu tersenyum untuk menggapai masa depan yang penuh dengan keberkahan. Amiiiin !

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Belo Elbetawi said...

mempelajari ilmu ikhlas emang kaga mudah.. kadang kalo belo mulai rapuh karna dijauhi sama teman, belo selalu inget ayat ini > Dan, berharaplah hanya kepada ALLAH (al insyirah :8) alhamdulillah...itu memberi ketenangan dan bisa bikin senyum lagi :)

NuellubiS said...

tetep semangaaat ajaaa... oh yah pasti berat yah mbak mesti ga nangis saat ayahnya meninggal?

Muhammad A Vip said...

ikhlas dengan manyun, hehehe

mabrurisirampog said...

sepertinya ikhlas itu sesuatu hal yang mudah, namun tetap saja dalam penerapaannya perlu perjuangan yang ga gampang..
namun selagi tetap ada usaha, insya Allah bisa......

r10 said...

aku juga merindukan meninggal dengan tersenyum (keadaan khusnul khotimah)