Tiap Selasa sore di rumahku ada pengajian Bapak-Bapak, salah satu pembicaranya adalah Pak Munichi, dosen UII Yogyakarta yang keturunan KH ...

Ormas Islam yang aku ikuti

4 Comments
Tiap Selasa sore di rumahku ada pengajian Bapak-Bapak, salah satu pembicaranya adalah Pak Munichi, dosen UII Yogyakarta yang keturunan KH Ahmad Dahlan. Memang lingkunganku kental dengan nuansa Muhammadiyah, dulu Ibuku bersahabat dengan ibu AR. Fachruddin, sekarang sudah seperti saudara dengan Ibu Amien Rais yang keduanya adalah istri dari mantan ketua Muhammadiyah.



Aku sendiri gak terlalu mempermasalahkan label Muhammadiyah atau tidak, aku tidak punya kartu anggota Muhammadiyah. Dengan sahabat baikku, aku sering diajak ke Pengajian Srengenge dengan ustadz Anant, dulu penyanyi rock di kafe dengan kemampuan vokal mengagumkan, sekarang lagu-lagunya sangat relijius. Aku dan sahabatku sepakat kita di jalur Islam saja deh. Menjalankan Islam sesuai hadits dan Al Qur'an saja sudah banyak keteteran.

Barangkali ada ormas Islam yang punya tradisi konon melakukan hal di luar yang dilakukan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di jamannya. Aku dulu pernah mengenal dekat dengan keluarga seperti itu di Jawa Barat, Ibu di sana semangat banget melakukan selametan (bahasa Jawa) atau bahasa Sundanya hadiahan. Begitu hari Raya Qurban, tidak ada uangnya. Walau hidup berkecukupan, tidak merasa bersalah menerima pembagian daging dari kampungnya. Ibu ini tidak sadar telah melewatkan pahala begitu besarnya kalau berqurban, bahkan setiap tetesan darah dan bulu dari hewan yang diqurbankan untuk Allah, ada pahalanya. Dan pendapat beliau merasa berhak merawat sepasang anak kembar yang merupakan cucu beliau dibanding Ibu kandung anak kembar itu, yang berarti telah menyakiti hati Ibu kandungnya, menunjukkan bahwa beliau lebih mengutamakan ego mencari pembenaran dibanding kebenaran sesuai ajaran Islam. Itulah yang damaksud dari makna fitnah lebih kejam dari pembunuhan, fitnah dalam hal ajaran Islam. Mengarang aturan sendiri seenaknya tanpa mau berpijak pada Al Qur'an dan hadits, dengan mengorbankan hati orang lain yang berusaha mengamalkan ajaran Islam yang benar.

Konon ada ormas non Muhammadiyah yang cenderung bisa kontak dengan gaib. Sekarang begini deh, aku berada di lingkungan Muhammadiyah tapi bila membaca profil Sunan Kalijaga aku bisa membayangkan kehidupan beliau, cara berpikir beliau. Bila aku berada di masjidnya barangkali getaran itu lebih kuat lagi. Bila aku punya kesempatan berkunjung ke masjid beliau, hanya untuk belajar dari perjuangan beliau bukan terus minta ini itu, kalo gitu dimarahin malah. Minta hanya pada Allah kayak ada peringatan seperti itu. Seorang Wali, mendapat keajaiban dari Allah berupa karomah, bila seorang Nabi berupa mukjizat, selain dari Nabi dan Wali adalah ilham.

Kalo aku sedang emosi, muncul kisah Nabi Yunus 'alaihi sallam yang bertaubat di perut ikan karena marah adalah perbuatan menzalimi diri sendiri. Pesan dari kisah ini adalah jangan marah, tidak hanya di perbuatan tapi juga di hati. Bila aku merasa sedih kehilangan barang, atau jauh dari anggota keluarga, maka muncul kisah Nabi Ayyub 'alaihi sallam yang tetap beribadah walau hartanya habis. Dan banyak kisah-kisah Nabi yang lain. Tapi paling dominan adalah Nabi Muhammad shalallallhu 'alaihi wa sallam. Hidup beliau dalam tekanan kaum musyrik, berperang untuk pembelaan diri. Jadi kalo ada yang menekan aku ngatain aku yang gak bener, terakhir dikatain seneng dikelilingi laki-laki yang lebih muda (padahal hanya di blog), atau dijudesin blogger yang tadinya akrab karena tidak sepaham (terutama berkaitan dengan masalah Islam) aku belajar dari kehidupan Nabi Muhammad 'alaihi sallam yang keras, tapi hati beliau tetap lembut dan suci, telah dicuci oleh malaikat Jibril saat beliau masih kecil dan menjelang Isra' Mi'raj.

Dengan adanya beberapa ormas Islam di Indonesia, semoga saling menghargai. Janganlah sesama Muslim saling terpecah belah. Lakukan tradisi hanya bila mampu, bila tidak lakukan sesuai ajaran Islam. Semoga kaum Muslim di Indonesia dan dunia bisa saling menghargai, ya Allah...


4 comments:

  1. yah asal gak menebar kebencian aja mbak. :)

    ReplyDelete
  2. tentu harus saling menghargai, yang lebih penting harganya pas atau tidak.

    ReplyDelete
  3. Yups... salam sahabat; saya juga pengagum Muhammadiyah, Buya Hamka hingga saat ini masih tetap idola saya.

    ReplyDelete
  4. Saya sudah sering ke sini, Jenk. Lihatlah bulan september lalu... setiap habis baca artikelnya, saya langsung rekom dengn tekan +1. Check aja...

    ReplyDelete