Semoga bisa hijrah menjadi manusia yang lebih baik di 1 Muharram 1433 H

1 comment
Membaca kisah shitlicious yang aku baca dari link seorang teman membuatku menangis. Sungguh. Aku teringat anak-anakku. Apakah aku belum cukup berjuang agar bisa mendapatkan mereka kembali? Semua di luar kemampuanku. Si Alitt yang sudah jadi selebbloger ini menceritakan mamanya yang seorang penjual jamu keliling ini linknya Mamaku seorang penjual jamu .

Aku mencoba membaca kisahku yang kutulis saat inspirasi tentang mereka muncul jelas, ini linknya Aku berdo'a bisa berkumpul lagi dengan anak-anakku Safira dan Safitri (mereka sekarang berada di Sudirman 56 Bogor) . Waktu liburan 1 Muharram 1430H  atau  2009 M aku mengunjungi mereka di Bogor. Saat itu aku berteriak-teriak di teras rumahnya, saat mantan suamiku mendekat "Aaaaaaaaaaaaa!!!!". Terus teriak lagi "Ini orang yang meneror di hapeku mau memenggal leherku aku gak mau dekat-dekat".

Butuh berbulan-bulan untuk menenangkan diri. Ditambah lagi teman-temanku menjauhi aku. Tapi aku dapat banyak penampakan, salah satunya aku menangis karena seperti melihat dan mendengar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sedang bicara di suatu majlis dan aku mendengarkan di belakang. Saat itu gunung Merapi sedang meletus. Menurut pandanganku, ucapan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam getarannya menembus alam semesta ini. Semua malaikat sangat menghormati beliau, hanya saja masih saja ada iblis atau suruhannya setan yang mencoba menyusup lewat orang-orang terdekat beliau. Salah satu yang menegangkan saat beliau hanya sebentar saja bicara karena wajahnya yang biasanya teduh agak cemas, sambil bersabda "aku baru saja melihat surga dan neraka di belakang tembok ini".

Semenjak itu aku sering membaca hadits dalam keadaan menangis. Setelah itu aku sering mendapatkan penampakan Nabi yang lain, dan aku tidak berani bicara apa-apa hanya bisa menundukkan kepala saja sambil menganggukkan kepala. Misalnya Nabi Ayyub 'alaihi sallam yang mengajarkan untuk sabar. Atau Nabi Yusuf 'alaihi wa sallam yang membuat wajahku memerah karena begitu gantengnya, beliau pernah terpisahkan dengan ayah tercinta sejak kecil. Walau ganteng sedemikian rupa, kebijaksanaan beliau ternyata lebih luar biasa, bisa mengartikan mimpi dan bisa menahan diri dari rayuan wanita cantik. Karena Nabi Yusuf 'alaihi sallam lebih takut pada Allah sehingga bisa menahan diri, dan Allah memberi kekuatan itu.

Nabi lain yang pernah muncul adalah Nabi Yunus 'alaihi sallam. Beliau mengajarkan supaya bisa menahan amarah dan tidak ngambeg. Kisah-kisah Nabi yang lain juga sangat merasuk di hatiku, walau tidak langsung paham, dari merekalah hatiku diajarkan untuk selalu mendekat pada Allah. Tidak ada yang lebih menentramkan dekat dengan para penghuni surga, dan aku kadang-kadang merasa berada di dekat mereka, surga yang lebih dari sekedar damai, tapi membuat hati serasa berbunga-bunga.

Serasa bertemu dengan para Nabi membuatku menganggap bahwa hidup di dunia tidak ada artinya lagi, lebih penting berusaha untuk menggapai akhirat. Ayat-ayat Al Qur'an kucoba pahami, dan kutulis pemahamannya di blog ini. Banyak sekali kesalahan yang telah aku lakukan di dunia ini.

Sekarang ini sudah terbayang persiapan Nabi Muhammad 'alaihi sallam untuk hijrah dari Mekah ke Madinah. Tahun baru Islam adalah saat Nabi Muhammad 'alaihi wa sallam hijrah bukan hari saat kelahiran Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, agar beliau tidak dikultuskan. Manusia memang perlu sering bershalawat karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang jadikan kita contoh untuk beribadah dan pengamalan kehidupan sehari-hari. Tapi pada Allah kita menyembah dan memohon pertolongan. Mencoba menulis lagi tulisanku yang lama tentang Hijrah yang aku kutip dari harian Republika

Secara bahasa, hijrah berarti berpindah, meninggalkan, berpaling, dan tak mempedulikan lagi. Hijrah mempunyai beberapa pengertian. Pertama, kaum Muslim meninggalkan negerinya yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan kafir. Kedua, menjauhkan diri dari dosa. Ketiga, permulaan tarikh Islam.

Hijrah dalam sejarah Islam biasanya dihubungkan dengan kepindahan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Dalam hubungan ini, hijrah berarti berkorban demi Allah, yaitu memutuskan hubungan dengan yang paling dekat dan dicintai demi tegaknya kebenaran, dengan jalan berpindah dari kampung halaman ke negeri orang lain.

Hijrah seperti ini seperti ini telah menjadi pusaka para rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan terbukti telah menjadi babak pendahuluan bagi kebangkitan perjuangan. Dalam menjalankan tugas kerasulannya di Makkah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berhadapan dengan masyarakat jahiliah, yakni masyarakat pemeluk nilai-nilai warisan Nabi Ibrahim 'alaihi sallam, yang telah mereka selewengkan dari bentuk yang sebenarnya. Inti warisan itu adalah pengesaan terhadap Allah. Pada saat itu, penyembahan terhadap berhala dan perbuata syirik lainnya telah merusak ajaran tauhid.

Nama Allah, meskipun masih ada dalam kepercayaan mereka, telah tenggelam dalam nama-nama dan sesembahan lainnya. Kepercayaan semacam ini telah mengundang banyak pemeluknya untuk datang ke Ka'bh, demi menunaikan ibadah haji sambil berdagang. Sehingga, Makkah menjadi pusat perdagangan yang ramai dikunjungi para pengunjung.

Akibatnya, suku Quraisy, terutama para penguasa dan pemukanya, menjadi kaya. Ka'bah dan kepercayaan dipandang sebagai sumber utama kekayaan mereka pada akhirnya.Ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memulai tugasnya dengan menekankan aspek keesaan Allah (tauhid), mereka segera membangkitkan sikap permusuhan terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersama para sahabatnya mendapat perlakuan buruk dan kasar dari orang-orang Quraisy yag masih kafir. Umat muslim dikejar-kejar dan dianiaya. Ketika melihat kondisi Makkah tak lagi aman bagi umatnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan sebagian pengikutnya untuk mencari keamanan di negeri Abessinia (Ethiopia), yang penduduknya beragama Nasrani, dan rajanya yag bernama Najasyi (Negus), yang dikenal adil dan bijaksana.

Pasca wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib, ruang gerak Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berdakwah di Makkah semakin sempit. Saat itu sudah sudah memasuki tahun ke-10 kenabian. Untuk menyelamatkan diri dari kekerasan dan kekejaman kafir Quraisy, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam Tha'if (sekitar 65 km dari Makkah). Namun, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam justru mendapatkan perakuan yang lebih buruk dan dilempari hingga terluka.

Setelah Perjanjian Aqabah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menyiapkan Hijrah ke Yatsrib secara matang. Sebab, target utama kaum musyrik Makkah adalh menggagalkan hijrah kaum muslim. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menyiapkan bekal, kendaraan, penunjuk jalan, strategi, dan rute yang akan ditempuh. Beliau juga meminta Abu Bakar ash-Siddiq dan seorang pemandu jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqit untuk menemaninya

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan rumah pada malam hari di 27 Shafar tahun ke-13 kenabian, atau bertepatan dengan 12 atau 13 September tahun 622 Masehi. Perjalanan awal keluar Makkah justru menempuh jalan yang berlawanan dengan jalan menuju Madinah. Hal ini dimaksudkan untuk mengecoh para pengejar. Gua Tsur adalah tempat tujuan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.Di gua ini, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bermalam selama tiga hari. Kaum musyrik Quraisy sempat mengejar, tetapi keberadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar di dalam gua tidak diketahui mereka.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam akhirnya tiba di Yatsrib pada Jum'at 12 Rabiul Awal di tahun yang sama. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam disambut penduduk Madinah dengan meriah.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete