Saturday, December 10, 2011

Menjadi narasumber mahasiswa untuk tugas bertemakan kelompok marjinal

Kemarin sore memang unik banget. Aku ketemu beberapa mahasiswa yang mau nanyain suatu komunitas unik. Tema tugas yang diberikan dosennya adalah kelompok marjinal. Kelompok yang tersisihkan kira-kira begitulah. Akhirnya mereka memutuskan membahas tentang indigo, yang kebetulan tayang di Trans TV tiap Sabtu tengah malam.

Aku bilang, anggap aku pengamat, jangan nanya aku bisa apa. Aku selain bergabung dengan komunitas indigo, juga gabung dengan komunitas metafisika, membaca situs penghujat Islam, situs atheis, situs aliran kebatinan. Tapi paling sering membaca tulisan tentang pemahaman Islam. Walau tulisannya gak sesuai dengan cara berpikir kita, tetap dingin saja gak usah emosi. Pokoknya mesti meyakini apa yang kita yakini, gak usah terbawa arus pemikiran orang lain. Kalo ingin tau sesuatu, tanyakan pada yang lebih paham tentang spiritual.

Aku cerita bahwa seorang indigo sejati, bukanlah sekedar orang yang bisa melihat gaib, bisa berbahasa asing padahal tidak kursus, tapi mereka yang sudah pada titik kesadaran bahwa mereka menyampaikan pesan dari Sang Maha Pencipta agar manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Seorang indigo akan sangat cinta alam, karena dari matahari pagi, air terjun, laut, gunung, mereka akan merasa sangat kuat dan tenang. Indigo bahkan bisa menyerap energi dari alam.

Kenapa seorang indigo tersisihkan dari orang di sekelilingnya, karena orang sekitarnya gak ngerti dia ngomong apa. Indigo bicara dengan pemahaman yang sangat dalam. Misalnya menyarankan untuk sering berdzikir dalam keadaan tenang. Kenyataannya manusia yang tingkat spiritualnya belum tinggi merasa sangat tidak nyaman untuk berdzikir, pasti pikirannya ke arah macam-macam. Liat aja status di Facebook, isinya banyak tulisan "duh laper, belum makan". Jarang ada tulisan "bersihkan hati kita dengan menghilangkan hawa nafsu". Atau "hilangkan kemarahan, kesombongan, permusuhan, kegalauan, karena sesungguhnya apa yang diberikan oleh Allah karena untuk kebaikan sendiri, agar kita intropeksi diri".

Mario Teguh sering memberikan kalimat bijak, tapi masih sebatas universal saja. Karena memang tujuannya memotivasi untuk banyak orang tidak terikat satu agama. Sedangkan seorang yang belajar spiritual kayak aku tidak puas untuk menulis hanya kebijaksanaan universal, belum cukup untuk masuk surga. Di Al Qur'an dinyatakan, mau mencari kebahagiaan di dunia, maka hanya kebahagiaan di dunia yang di dapat, belum dapat tempat di surga. Jadi berusaha menulis untuk mengingatkan dari segi Islam agar dapat kebaikan dunia dan akhirat.

Barangkali seorang Mario Teguh bisa sangat populer, banyak rejekinya. Tapi para indigo bicaranya lebih mendalam lagi. Kadang suka keceplosan sesuatu rahasia yang dia ketahui dari seseorang, tapi itu biasanya kalo dia ditekan. Indigo yang jahil, bisa jadi sakit hati pada seseorang akan mengontak jin agar ngerjain seseorang jadi sakit. Atau bila ditolak cintanya membuat pengaruh agar yang ditaksir mau dengannya. Tapi tanpa sadar, bila terbawa nafsu melakukan hal ini, akan masuk neraka terbawah, karena punya ilmu tapi digunakan untuk hal jahat. Punya potensi masuk surga dengan mengamalkan pengetahuannya tentang spiritual, tapi bila digunakan untuk kejahatan melorot ke neraka terbawah.

Tidak mudah untuk jadi indigo, kadang sakit kepala berhari-hari karena sesuatu yang berkaitan dengan pergerakan susunan alam semesta ini. Orang non indigo suka bingung dengan ucapannya tentang hal yang sulit dimengerti misalnya membahas tentang alam gaib dimensi sekian. Apalagi bicara tentang pemisahan tubuh yang jadi dua, bahkan konon ada yang lebih. Orang yang tidak paham akan menganggapnya berkhayal, makanya dia lebih suka bicara dengan orang yang punya kemampuan sama, tidak terbuka, di komunitas khusus.

Perlu dibedakan indigo yang di jalan lurus, dan yang menyebarkan kesesatan, kemampuan lebih karena dibantu jin. Indigo bisa dicek warna aura dengan cara difoto secara khusus. Karena ada cara instan untuk mendapatkan "kesaktian" dengan minta bantuan jin.

Indigo adalah anugerah dari Allah, dan banyak yang kebingungan sendiri dengan kemampuannya. Terutama pemikiran agar bijak, selalu menolong orang, tidak boleh marah, kadang bertentangan dengan keinginannya. Kadang mereka bilang, kamu pikir enak punya kemampuan lebih. Sudah orang sekelilingnya gak ngerti dengan yang diomongin, juga berpotensi setan membisikkan kalimat pada orang-orang di sekitarnya agar dia putus asa, pengen jadi orang yang gak punya kemampuan itu.

Terus terang, walau aku hanya pengamat, tapi ternyata terpengaruh di suatu komunitas umum tidak disukai. Karena yang jelas di komunitas umum ada kecenderungan mereka menjauhi dengan berbagai alasan. Tapi sudah sunatullah, orang yang belajar spiritual dan nyaman dengan kelompoknya. Kelompok yang tidak sepaham hanyalah untuk basa-basi aja, sungkan kalo sudah diundang tapi tidak gabung.

Para indigo adalah PEMBAWA PESAN dari Allah. Indigo yang tingkat kesadaran tinggi paham betul dan ingin mengamalkan walau tidak mudah. Sedangkan indigo yang berilmu tapi masih suka kebingungan dengan pemahaman, mereka inilah yang sering galau, sehingga suka dianggap aneh. Semua memang butuh proses untuk menjadi DEWASA. Manusiapun yang bijak, banyak berbuat baik, itu disebut matang/dewasa/mature.

Kenyataannya di dunia ini banyak orang dewasa yang masih suka bermain-main, tidak mau belajar ajaran Islam yang benar. Termasuk membaca dan memahami tafsir Al Qur'an. Lucunya mereka tidak mau dikritik, sudah merasa cukup baik untuk masuk surga. Tapi seorang indigo akan tahu kesalahan mereka, berusaha menahan diri tidak bicara, dan akhirnya pecah bila ditekan. Itu juga faktor kenapa indigo banyak dijauhi, bikin acara gak asyik, kok sepertinya gak enjoy dengan sosialisasi. Tapi indigo yang sudah mencapai tingkat ketenangan cukup baik, masih bisa bersosialisasi. Kadang kagetnya karena orang sekitarnya yang dipercayai jahatin dia, seperti tulisanku di atas, setan menyusup ke orang-orang sekitar indigo agar mereka kemampuannya berkurang atau hilang.

(Insya Allah bersambung bila sudah ada pertemuan lagi)

No comments: