Aku dan kerudung

12 comments
Aku paling suka pake kerudung warna putih. Khusus kerudung putih aku punya beberapa, dibanding warna lain. Salah satu kerudung putihku warna putih dengan KW1, kebetulan gak sengaja nemu di mal dengan harga 5 kali lipat dibanding KW2 dan lagi ada uangnya. Ciri-cirinya jelas, gak ada merek, bahan halus, pinggiran rapi. Tapi herannya di grosir pasar penjual nekat nulis bahwa kerudungnya KW1 padahal sudah jelas bukan, nekat banget, itu namanya membohongi publik, padahal penjualnya Islam.

Penganut salafy bajunya gamis lebar bahan tebal dan kerudungnya lebar sampai ke perut. Waktu kuliah pernah berteman dengan beberapa perempuan penganut salafy. Soalnya waktu bulan Ramadhan ikutan di pesantren kilat, yang kiainya ternyata penganut salafy. Terus terang pemahaman Islam waktu itu gak nyantol blas. Kalo hati belum kebuka memang kebenaran yang penuh kedamaian malah sepertinya mikir model Islam fanatik, lebih nyaman dengan versi Islam kebanyakan. Ternyata Islam banyakan malah model Islam KTP yang Islamnya sekedar bisa shalat tanpa merasa perlu belajar lagi.

Aku dengar kabar mbak-mbak yang aku kenal dulu menikah dengan laki-laki yang belum pernah dikenalnya. Cukuplah berada dalam pengajian, lalu kiainya yang mencocok-cocokkan. Karena hidup untuk benar-benar mengharap keridhoan Allah, mencoba lurus, jadinya apapun yang didapat dijalani, termasuk ditunjukkan jodohnya oleh kiainya.

Semua orang pasti punya seseorang yang jadi panutan. Sejauh ini salah satu panutanku adalah Bapakku almarhum. Beliau orang yang begitu sabar, tidak banyak bicara, dan hatinya mudah tersentuh untuk menolong orang lain. Cenderung fokus sebagai akademisi. Waktu salah satu bagian rumahku dijadikan kantor oleh pak Amien Rais, akhirnya mendirikan partai, sempat ditawari ikut berkecimpung di bidang politik, Bapakku menolak karena merasa bukan bidangnya. Nafkah dari dosen sudah cukup untuk hidup, tidak perlu bermewah-mewah. Dan akhirnya di didirikan sekolahan dari yayasan yang didirikan pak Amien Rais satu pekarangan dengan rumahku yang aku tinggali sekarang.

Bapakku bukan penganut salafy, bersahabat dengan beberapa mantan pemimpin Muhammadiyah, seperti pak AR Fakhrudin dan pak Amien Rais. Makanya aku selalu mengikuti aturan Muhammadiyah saat penetapan hari raya, tidak menyelenggarakan tahlilan setelah Bapak meninggal, dan bila pengajian acaranya adalah tafsir Al Qur'an bukan yasinan. Masih membolehkan bersalaman tangan walau bukan mahram antara laki-laki dan perempuan. Walau hanya kalo ada pertemuan yayasan lebih banyak yang tidak bersentuhan tangan antara lawan jenis.

Kayaknya soal kerudung aku masih longgar, di rumah aku gak pake, padahal banyak karyawan laki-laki. Aku masih baru pemahaman kerudung dipake bila keluar rumah. Gak tau ya ntar kalo ada pemahaman baru. Suatu ketika aku gak sengaja lupa pake kerudung langsung pake helm naik motor. Sampe di parkiran mall baru sadar aku gak pake kerudung, kadung telanjur, aku masuk ke mall. Dengan memakai celana panjang, jaket longgar, tanpa kerudung rasanya tidak ada tatapan birahi ditujukan padaku. Malah aku melihat ada wanita menggunakan kerudung tapi mencolok banget, warnanya bajunya kayak spotlight aja, dengan legging, kaos ketat, hak tinggi, make up tebal, dan wangi parfumnya hmmm... dari jauh sudah tercium. Aku rasa aku yang memakai baju warna netral tanpa kerudung lebih tidak diperhatikan dibandingkan yang berkerudung tapi warnanya spotlight, ketat, dengan make up tebal. Aku tidak ada keterpaksaan memakai kerudung, karena aku bangga memakainya sebagai identitas muslimah. Tapi aku tetap lebih menghargai wanita tanpa kerudung dengan akhlak baik dibandingkan dengan kerudung tapi caper, genit, matrek #uuups. Semoga Allah menunjukkan hidayah bagi mereka semua termasuk buatku.

Tapi kalo ada orang-orang liberal beranggapan tidak perlu menggunakan kerudung kecuali di acara pengajian, aku rasa itu gak bener. Mereka orang liberal ini beranggapan manusia itu punya kebijakan universal, kecuali dalam hal ibadah tentu saja. Penganut salafy tentunya sangat menentang Islam Liberal. Belakangan ternyata ahlus sunnah wal jamaah juga menentang Islam Liberal. Karena pentolan Islam Liberal di indonesia itu pendidikannya tinggi, bahasanya pinter, semua pake referensi. Hanya saja referensinya tentunya kaum barat, sama sekali tidak menganggap tulisan mendalam tentang Islam dari ulama besar jaman dulu.

Aku suka mikir, kenapa di Islam sendiri pemahaman bisa berbeda-beda. Tentunya karena faktor kenyamanan masing-masing. Ada yang menganggap kerudung pendek tidak sesuai syariat. Bahkan ada yang beranggapan celana panjang juga tidak sesuai syariat. Aku waktu balik ke Jogja dari Bogor pertengahan 2009 benar-benar minus. Ada bantuan tak terduga aku gunakan untuk beli banyak baju, sebagian besar celana panjang jins dengan macam-macam warna. Prioritas untuk baju kerja. Sekarang sudah males beli banyak baju lagi. Uangku aku gunakan untuk hal lain. Belum bisa drastis merubah gaya berpakaian lagi dengan banyak belanja baju.

Sejauh ini aku memakai baju yang aku punya aja, seadanya. Mosok mesti nekat ngutang sana sini agar dikatain menggunakan baju muslimah sesuai syariat. Kadang pake kerudung yang pendek juga. Bukan termasuk penggemar fashion yang kalo baju di muka umum selalu ganti-ganti.

Aku masih berpendapat memang budaya di tiap negara berpengaruh dengan cara memandang laki-laki terhadap lawan jenisnya. Seorang ustadz yang kadang bicaranya suka bercanda pernah bilang agar mahasiswi di salah satu Universitas Islam swasta di Jogja buka saja kerudungnya untuk menutupi pantat yang kelihatan kalo duduk, soalnya pake celana model hipster sepinggul kaosnya juga sepinggul. Aku juga sering ngeliat celana dalem dipamerkan cewek yang duduk tampak dari belakang. Lebih penting mana nutupin pantat yang terbuka atau nutupin rambut? #pertanyaanasaljeplakgakusahdijawab

Ada aturan di Islam rambut jangan disambung, jangan dicat warna hitam, alis jangan dikerok habis. Tapi kalo yang pake kerudung tentunya gak mikirin soal hair extension atau pengecatan rambut kan. Kecuali masalah alis, banyak yang pake kerudung alisnya dikerok trus digambarin kayak bulan sabit, menurutku kok aneh, sementara mereka merasa cantik dengan alis bulan sabit.

Kesimpulan, bagi yang sudah berjilbab jangan merasa lebih baik daripada yang belum pake jilbab. Bisa jadi karena akhlaknya yang belum pake jilbab lebih baik, di akhir hidupnya dapat hidayah dari Allah, bisa meninggal dengan akhir yang baik. Semua karena faktor hati yang merasa nyaman dengan penampilan seperti apa. Yang dilihat oleh Allah adalah hati. Hati yang baik, lembut, tulus, ikhlas, Insya Allah akan dimudahkan Allah mendapat hidayah, walau belum pake jilbab sekalipun. Asal jangan hati sok baik malah ngajak jadi Islam Liberal. Sedang yang pake kerudung masih suka emosional, kufur nikmat, berprasangka buruk, sombong, malah menjadi muslimah berkerudung dengan hati yang sakit. Karena masalah hidayah, surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah, serahkan semua pada Allah. Semoga kita dimudahkan dalam urusan dunia dan akhirat...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

12 comments:

  1. Setuju, manusia dinilai dari amal dan budinya, bukan dari atribut/status yg melekat...

    ReplyDelete
  2. menurutku wanita itu kalau berpakaian hendaknya yg memudahkan dirinya sholat, jadi ga perlu ribet lagi berpergian musti bawa mukena

    *maksudnya biar kayak lelaki, tinggal sholat saja

    **banyak loh masjid yg tidak punya/kekurangan mukena jadi akhirnya wanita itu tidak sholat, sayang sekali

    ReplyDelete
  3. salam kenal mbak Ami..
    saia suka sekali ini, 'Lebih penting mana nutupin pantat yang terbuka atau nutupin rambut?'
    dan menurut saia itu bukan asal njeplak hehe..
    saia juga gak ngerti kenapa yang begitu masih aja ada.

    ReplyDelete
  4. Pada dasarnya Allah itu tidak memerintahkan para muslimah untuk menggunakan jilbab. Allah itu memerintahkan para muslimah untuk menutup aurat mereka. Jilbab adalah salah satu bentuk pelaksanaan perintah ini.

    Dengan begitu dapat kita katakan bahwa mengenakan jilbab tidak selalu berarti menutup aurat. Jadi wajar saja bila ada muslimah yang menggunakan jilbab tapi masih menggunakan pakaian ketat atau sejenisnya. Dalam kondisi seperti ini, jilbab tidak lebih dari selembar kain yang digunakan untuk menutup kepala.

    Akan tetapi, kondisi di atas tidak serta-merta "membenarkan" para muslimah untuk tidak menggunakan jilbab. Membenahi hati itu memang penting, tapi menutup aurat pun penting. Menurut saya, usaha untuk melakukan keduanya perlu dilakukan pada saat yang bersamaan. Seiring proses memperbaiki akhlak (hati), setiap muslimah pun sebaiknya menyegerakan menutup aurat mereka.

    Itu saja pendapat saya untuk saat ini. Semoga kata-kata saya tidak menyinggung perasaan penulis. Sebagai tambahan referensi, saya rekomendasikan satu tulisan singkat namun cukup mengena terkait hal ini: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17744/buat-apa-berkerudung-kalau-kelakuan-rusak-benarkah/

    ReplyDelete
  5. @Kenni, Allah melihat seseorang dari hati dan ama ibadahnya, itu menurut ajaran Islam

    ReplyDelete
  6. @Rio, kalo niat mau shalat, ya kemana-mana bawa mukena. Mukena sekarang bisa dilipat sampe kecil sekali kok. Ini masalah niat mau rajin shalat apa enggak aja

    ReplyDelete
  7. @Rosh, kayaknya memang perlu disebarluaskan penggunaan baju yang lebih Islami

    ReplyDelete
  8. @Amir, terima kasih atas komentarnya. Saya hanya bisa bilang saya lebih menghargai yang tanpa kerudung sebagai teman saya. Mereka yang belum memakai kerudung tapi akhlaknya baik. Dibanding memakai kerudung tapi suka menggosip dan ngomel-ngomel, gak terima kritikan.

    Tentunya kita hanya bisa menyarankan tapi tidak bisa memaksa.

    Terus terang saya juga sebel dengan yang pake celana congklang, pake jenggot tapi mata jelalatan. Belum lagi bisanya mengkafir-kafirkan non golongannya. Kalo bikin blog isinya cuman marah-marah ngomong kasar pada sesama muslim yang berbeda pemahaman. Dan malah genit kalo sama cewek gak pake kerudung.

    Model dakwah eksklusif model begitu kapan bisa tersampaikan pada yang masih Islam KTP. Bergaul aja milih-milih...

    ReplyDelete
  9. Terima kasih atas responnya, Mbak Ami. Untuk paragraf pertama, saya maklum kok. Terlepas dari memakai kerudung atau tidak, saya sendiri sulit berteman dengan orang yang suka ghibah dan mengumbar amarah. Kalau untuk dua paragraf terakhir, saya sepakat. :)

    ReplyDelete
  10. entah itu org pke krudung/gak mereka pst punya sisi buruk, aku gk bs ngejudge mereka gemana2..aku aja msh bnyk kurang, kdg mungkin masih suka gak terima kritikan atau dendam sama org..

    bisa jadi aku ini lebih buruk dari org yg gk pke jilbab..

    pke jilbab/gak itu pilihan, nutup aurat itu keharusan..

    knp jadi org yg pke jilbab kalo ngelakukan kesalahan/ pny keburukan seolah jadi lebih jelek dari yg gak pke jilbab? bkn'a semua org itu punya kejelekan..

    oiya mba..font'a ganti dong, terus agak gedean dikit..aku rada keder baca'a,hee..

    ReplyDelete
  11. nanggepin komen mba yg diblogku, maap ya mba, komen'a gk aku approve soalnya out of topic, but aku simpen kok

    thanks ya mba jawaban'a..insyaAlloh jadi manfaat buat aku :)

    ReplyDelete
  12. yup, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya dan belum tentu yg tertutup itu sempurna bahkan paling baik. semua dinilai adalah hatinya

    ReplyDelete