Sunday, January 29, 2012

Apakah boleh seorang wanita sholehah belajar dan berkarir?

Membaca tulisan di suatu grup Facebook pemikir, ada yang menulis tentang wanita sholehah akan masuk surga. Terus ada komentar "wanita sholehah tempatnya hanya di dapur, tidak bermanfaat bagi orang lain". Males berdebat, gak aku komentari.

Di suatu situs Islami ada postingan yang berjudul seorang istri akan mendapatkan banyak pahala bila berada di dapur. Lagi-lagi dapur. Kayak pepatah Jawa, tugas istri hanyalah macak, masak, manak.

Aku jadi ingat Khadijah radiallahu anha beliau adalah seorang pedagang. Siapa yang meragukan bahwa Khadijah radiallahu anha yang pandai berdagang ini bukan wanita sholehah? Atau Siti Aisyah radiallahu anha, beliau cerdas dan hapalannya sangat kuat, terutama mengingat yang dilakukan dan diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat beliau mendampingi sebagai istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bila memang seorang wanita mendapat penghasilan yang mencukupi dari suami, dan memang lebih suka tinggal di rumah untuk merawat rumah tangga dan mengurus anak tentunya semua itu ladang pahala. Tapi aku juga sering melihat wanita sosialita yang tidak bekerja, sehari-harinya hanya sibuk jalan-jalan di mall membeli baju dan aksesori desain terbaru, anaknya digendong baby sitter, pokoknya ibu gaul banget dah. Kalo ketemu selalu wangi, bajunya ganti-ganti dengan model terbaru, make up yang halus di kulit yang mulus. Salon sekarang sudah berani memberikan perawatan suntik agar kulit lebih putih dan kenyal.

Di sisi lain ada ibu yang bersusah payah bekerja untuk menambah pemasukan karena gaji dari suami masih belum mencukupi. Sampai di rumah masih menyempatkan membersihkan rumah, mencuci baju, menyetrika, dan pekerjaan rumah lainnya.

Di desa, banyak wanita bekerja menanam padi. Di pabrik banyak wanita bekerja di usaha misalnya garmen. Atau kisah wanita yang sampai meninggalkan negeri ini menjadi TKW agar bisa mengangkat ekonomi keluarga, meninggalkan anak dan suaminya.

Menyatakan bahwa wanita karier bukan wanita sholehah bukanlah hal yang bijaksana. Di sekolah tempat aku kerja PAUD terpadu Islami ini, bekerja sama dengan psikolog anak, dokter spesialis anak, dan dokter gigi anak. Psikolog, dokter, dan dokter gigi semuanya wanita, mereka sangat Islami dan sangat perhatian pada anak dan suaminya walaupun sangat sibuk. Yang menjadi dokter spesialis anak tidak mau menerima pasien bila anaknya ujian, dan rajin berpuasa. Putra-putranya tumbuh menjadi anak yang cerdas tidak banyak masalah walaupun sering ditinggal.

Menjadi seorang ibu dari anak-anak dan istri sekaligus ingin bermanfaat bagi masyarakat tidaklah mudah. Menurut ajaran Islam, tentunya semua butuh kesabaran, keikhlasan, merasa kecukupan, selalu bersyukur, tawakkal, bertakwa, menjaga diri dari godaan laki-laki iseng, dan seterusnya sesuai ajaran Islam. Kalo milih jadi ibu rumah tangga malah jadi gaul, belanja baju terus, ke salon untuk dirawat habis-habisan, BBMan tanpa henti ujung-ujungnya guyonan jorok dengan lawan jenis, ahhh... Godaan dunia memang tanpa henti menjerumuskan kita yang dicekoki acara tivi bahwa wanita sukses adalah yang cantik, seksi, gaul, kaya raya. Allah tidak memandang seseorang dari wajah atau hartanya, tetapi dari hati dan amal ibadahnya...

3 comments:

  1. wanita boleh bekerja mbak, tapi harus bisa membagi waktu antara karir dan keluarga

    ReplyDelete
  2. Salam Kenal Mbak, kunjungan perdana.
    ^_^ ILU FULL your Blog

    ReplyDelete
  3. Baguslah Mbk wanita berkarir seperti yang Mbak sebutan itu
    Salam kenl

    ReplyDelete