Sunday, January 22, 2012

Islam itu memudahkan asal jangan menyimpang ke maksiat

Ini pembahasan yang sebetulnya agak rumit buatku, tapi ada dorongan untuk menulisnya. Mencoba menulis semampunyalah. Mulai dari mana ya...

Semua tahapan dalam Islam pasti ada kemudahan. Misalnya begini, anak kecil belajar puasa mulai dari puasa bedug. Lama-lama kalo sudah kuat baru puasa sampai Maghrib. Puasa yang disarankan adalah puasa Dawud, tapi puasa Senin Kemis juga cukup baik. Bila kita bepergian, ada istilah namanya dijamak. Shalatnya boleh dirangkap dan dipersingkat. Karena dalam perjalanan kadang kecapekan, kesulitan mencari air, masjid dan seterusnya. Lalu bila tidak ada air boleh tayamum, berwudhu menggunakan debu, di dalam bis duduk dengan gerakan semampunya. Kakakku yang mengajari tayamum, karena dalam perjalanan menuju tanah suci, menggunakan pesawat yang terbangnya cukup lama, shalat wudhunya dengan tayamum dan tidak perlu menghadap ke kiblat.

Tapi kenyataannya, perbedaan pendapat dalam Islam membuat semuanya jadi dipersulit. Ada yang berpendapat pacaran itu dosa, nanti masuk neraka. Sebetulnya lebih bijak mengatakan, boleh kok kalo masih remaja naksir lawan jenis, asal ketemuannya rame-rame, jangan mojok.

Soal baju misalnya, seharusnya bahannya tebal, kerudung menutupi dada. Kalo pake baju muslim yang tidak syar'i nanti masuk neraka. Beneran loh... ibu mertua kakakku begitu baik hatinya, sehari-harinya sibuk mencari nafkah karena suaminya sakit. Sampe tidak sempat belajar Islam, belum lagi banyak masalah lain, kayak ditipu sana-sini. Akhir hidupnya meninggal dengan berkerudung saat berhaji, dibiayai anaknya.

Bapakku meninggal saat shalat Shubuh, dan itu pertanda baik. Soal Khusnul Khotimah itu hak prerogatif Allah, tapi kita mesti mendoakan semoga diterima amal baik dan diampuni dosa-dosanya. Bapakku sehari-harinya menggunakan celana normal dan berkumis, tidak pakai jenggot. Siapa sih yang memutuskan laki-laki tanpa jenggot masuk neraka? Aku berharap juga bisa meninggal saat sedang beribadah, sedang mengingat Allah, mengucapkan syahadat. Semoga aku mati dalam keadaan Islam, itu saja harapanku.

Bila saat bulan Ramadhan sedang hamil atau sakit, juga ada keringanan dengan membayar fidyah atau memberi makan fakir miskin selama sebulan. Ada perbedaan pendapat walau membayar fidyah mesti mengganti puasa, ada yang tidak perlu mengganti. Lakukan apa yang diyakini, jangan perbedaan pendapat itu dibesar-besarkan.

Mengamalkan ajaran Islam itu jangan memberatkan. Ada hal wajib, sunnah, makruh, mubah, haram, dan seterusnya. Nah, masalah yang wajib dan haram ini bisa menjadikan perbedaan. Kalo pake baju tanpa kerudung di hadapan bukan mahram haram, nanti masuk neraka, ini kata kelompok garis keras. Yang lebih longgar akan mengatakan budaya di Indonesia sudah terbiasa melihat wanita tanpa kerudung, jadi kerudung bukan wajib, tapi dianjurkan. Ada petinggi ormas Islam sudah almarhum (di suatu buku tertulis termasuk mendukung Islam Liberal), istrinya dan anaknya hanya menggunakan kerudung bukan jilbab tertutup sampai ke dada. Pendukungnya banyak fanatik mendukung benar atau salah kubela dengan nyawaku, mereka yang menggunakan celana congklang dan berjenggot. Alasannya apa, orang dengan kedekatan dengan Allah melebihi orang biasa dapat prioritas. Jadi mikir... seingatku Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam malah mesti berjuang melawan kaum musyrik di medan perang, gak dapat prioritas menghindari perang. Soal shalat juga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam rajin shalat malam, gak dapat priotitas untuk tidak shalat.

Saat ini yang dipuja-puja adalah bintang sinetron cantik ato ganteng, kaya raya, hidup mewah. Tapi menurut Islam, kaya miskin, cakep jelek bukan jadi hal penting di hadapan Allah, lebih penting amal ibadahnya. Boleh kok orang Islam jadi orang kaya, asal dari nafkah yang halal dan sebagian digunakan untuk beramal, setelah kebutuhan keluarganya dicukupi. Masalah kecukupan juga punya standar masing-masing, seorang pengusaha kakap supaya dipercaya klien wajar punya Mercy, asal sumbangan di bidang sosial juga besar dan karyawan-karyawannya diperjuangkan agar hidup layak. Kalo gak ada muslim istiqomah yang mau jadi pengusaha kaya soalnya takut nanti masuk surga belakangan terus apa kita membiarkan non muslim menguasai bidang usaha di segala bidang?

Orang-orang ini sibuk memikirkan detil-detil yang katanya bikin masuk neraka sampai melupakan hal-hal penting seperti, memutuskan silaturahmi masuk neraka, nah loh, ini lebih jelas hadits dan ayat Al Qur'annya dibandingkan muslimah pake kerudung pendek dengan sanggul mirip punuk unta masuk neraka. Saking takutnya masuk neraka mesti pake baju longgar bahan tebal, rambut diurai, kerudung sampai ke dada, tidak mau nonton televisi, ujung-ujungnya menghindari teman yang tidak mau memakai kerudung. Aku masuk surga karena pake baju muslim sesuai syariat yang tidak memakai kerudung masuk neraka semua. Tentunya pemahaman Islam tidak dipersulit seperti itu, Allah melihat seseorang dari hatinya. Hatilah yang mendorong seseorang menggunakan baju sederhana, tidak mencolok, tidak seksi. Bagi yang belum menggunakan kerudung janganlah dihakimi didoakan saja supaya hatinya terbuka. Sibuk dengan kostum surga neraka malah jadi sombong, sedangkan yang tadinya belum memakai kerudung malah dapat hidayah. Bisa kebolak-balik kan.

Waktu di dunia ini terlalu sempit untuk mengurus orang lain. Lebih baik intropeksi diri, dan bersikap baik pada semua orang. Perang hanya terjadi bila sudah ditekan, diusir, dizalimi. Makanya ada tahapan lebih dari sekedar pengen masuk surga dan neraka, yaitu tahapan mencari keridhoan Allah. Apa yang membuat Allah ridho, itulah yang kita lakukan. Tidak usah mempermasalahkan perbedaan-perbedaan dalam Islam, selama itu tidak mengajak untuk maksiat.

Hufff... selesai juga akhirnya nulisnya, sempet ragu apa bisa nulis postingan dari judul yang terngiang-ngiang di kepalaku...

1 comment:

  1. assalamualaikum sis,, pa kbr? dah lama ga kesini, template nya tambah keren,, aku suka...

    wah,, bahasannya mantaf ini,, cuma sayangnya aku ga terlalu punya ilmu tuk menanggapi, karena menurutku hidup itu hanya perlu berpikir positif, karena nya Islam itu mudah, hanya jangan di anggap mudah,,

    klo aku pribadi sih, beribadah itu hanya pada Allah, titik. Mengejar baik menurut Allah bukan menurut manusia, Semangaat... :)

    ReplyDelete