Friday, January 6, 2012

Menghapus kenangan yang membuat galau

Waktu aku ke Bali, di perjalanan temenku nanya, gimana sih caranya menghilangkan galau kalo ngelewatin rumah mantan. Trus aku bilang, dihapus saja namanya di alam bawah sadar, bikin tidak menyakitkan lagi kalo inget. Bisa minta bantuan hypnotherapy, kan ada senior nawarin untuk terapi. Dan ambil hikmahnya, untung gak sama dia.

Aku juga cerita pernah trauma lewatin Wendy's, soalnya memorinya di sana. Butuh setahun untuk ngilangin gemeteran kalo nglewatin Wendy's. Seorang laki-laki seumuranku yang mengaku sayang pada keponakan-keponakannya, mengantar mereka sekolah, membeli kue kesukaan mereka. Ditambah ingin shalat yang rajin soalnya ortunya tidak pernah mengajari dasar agama. Untuk seumuranku tentunya wajar kalo sudah mempunyai anak.

Tau-tau dia ngilang. Lalu status di FBnya berkisar "ada perawan muda ngelirik aku, naksir ya". Pokoknya tidak jauh-jauh dari itu. Rasanya kayak dalam keadaan terkapar tertimpa banyak tangga. Aku barusan pindah ke Jogja pertengahan tahun 2009. Diambil buah hatiku tanpa ijin. Diteror lagi bakal dibunuh, disiksa, bahkan bakal masuk neraka kalo gak mau balik Bogor.

Kenangan yang membuat galau buatku banyak banget. Satu hal yang kupercayai, berprasangka baik pada Allah. Apa yang diberikan oleh Allah baik untukku. Titik. Aku anggap aku banyak melakukan dosa, jadi aku diperlakukan seperti itu untuk mengurangi dosa-dosaku. Ada lagi. Dengan semua kejadian ini aku dapat pemahaman tentang kehidupan. Aku berusaha untuk selalu menyerahkan diriku pada Allah, mensyukuri nikmat yang kudapat. Masih mempunyai kesehatan, bisa makan, keluarga menyayangi. Kenapa aku memikirkan hal yang menyakitkan yang tidak aku miliki padahal aku jauh lebih beruntung, masih banyak yang lain lebih kekurangan dibanding aku.

Walau begitu, masih banyak tugas yang mesti aku lakukan. Juga misteri di masa depan, kadang dapat firasat tapi belum bisa menterjemahkan. Seorang yang beriman dan bertakwa - aku sedang berusaha untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan - dijanjikan oleh Allah akan mendapat jalan keluar dari masalahnya dan rejeki yang tak disangka-sangka. Jadi manusia beriman dan bertakwa tidak takut akan masa depannya walau sepertinya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.

Masalah kenangan yang membuat galau, aku dimudahkan oleh Allah dengan tidak terkoneksi dengan masa lalu secara emosi. Belajar memaafkan mereka seberat apapun dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Hal lain yang aku yakini, bila sanggup merelakan secara ikhlas akan dapat ganti lebih baik.

Kita hidup di masa kini, masukkan memori dalam kotak. Kenapa mesti galau dengan kenangan. Bukankan semua hal yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah, mesti siap-siap bila yang ada di hati kita diambil oleh Allah. Bila mereka memilih untuk ke lain hati, secara teori kita tahu bahwa sebaiknya kita melupakan yang pernah nyangkut di hati kita, tapi prakteknya kok gak bisa. Usaha yang perlu dilakukan, cintai Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi cinta pada manusia lain. Maka Insya Allah hati kita akan lebih mudah menghapus kenangan yang nyangkut terlalu dalam masuk ke hati.

Bicara tentang surga, keikhlasan saat beribadah adalah bila hati ditujukan pada Allah. Bila hati nyangkut lebih kepada seseorang di masa lalu, kayaknya kok keikhlasan beribadah jadi meragukan. Allah tidak menerima ibadah seseorang yang hatinya ditujukan pada yang lain, bukan pada Allah. Jadi sama-sama kita berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah, supaya dimudahkan untuk meninggalkan kenangan masa lalu yang membuat galau...

2 comments:

  1. kalo saya mah dibiarkan saja mbak.. kalau sesekali ingatan itu datang, segera saya tepis dan langsung memikirkan hal lain.. alhamdulillah, berhasil.. :D

    ReplyDelete
  2. saya pernah mba kyak gitu..
    tiap kali inget hal itu bkin saya galau dan uring2an..

    kalo udh ky gitu saya gak berusaha menepis'a atau gemana, soalnya itu mlh bikin tambah sulit..

    jadi saya biarkan dan mohon supaya saya diringankan hatinya saat mengingat hal2 tsbt..

    yang tabah ya mba :)

    ReplyDelete