Wednesday, January 4, 2012

Meninggal dengan akhir yang baik

Waktu bulan puasa tahun lalu, aku mencoba untuk mengikuti tafsir Al-Qur’an saat sahur. Pembicaranya Quraish Shihab. Kadang ketiduran juga sih, tapi pokoknya berusaha untuk mendengarkan dan memahami. Postinganku di blog ini jadi lancar banget saat itu, misalnya kata beliau “ada sekelompok kecil manusia menjadi pembawa peringatan, semoga kita seperti itu”. Atau “Islam mengajarkan untuk optimis”.

Dari pengajian di rumahku tentang tafsir Al Qur’an Ali Imron ayat 190-191 ternyata asbabun nuzul mengisahkan bahwa seorang mukmin (muslim yang beriman, bukan Islam KTP) seharusnya hidupnya tetap tenang walaupun banyak cobaan mendera. Bila seorang mukmin sudah meningkat menjadi muttaqin (seorang yang bertakwa) maka akan mendapat rejeki tak disangka-sangka. Rejeki itu akan dimudahkan bila banyak bersedekah ikhlas dan selalu menyambung silaturahmi dan ukhuwah. Silaturahmi sebetulnya adalah hubungan persaudaraan karena darah dan keturunan. Tapi sesama mukmin adalah bersaudara. Apapun perbedaannya, tetap akan merasa dekat dan saling memahami.

Kenyataannya, buatku pribadi tidak mudah untuk mencari teman mukmin yang sehati. Beberapa laki-laki yang banyak bicara Islam seumurku akhirnya ketahuan mereka itu termasuk kelompok keong racun. Ilmu agama yang diomongkan ke aku hanya untuk menarik perhatianku saja. Aku sampe mikir lamaaaa, heraaaan, barusan mereka bicara soal ayat ini, ayat itu di Al Qur’an, pemahaman tapi masalah hawa nafsu dijadikan pembenaran. Kebanyakan alasannya karena darurat pengen banget… hahaha… (ups sori, jadi ketawa). Sampe aku pernah bilang, pas menyalurkan kondisi darurat trus mati gimana?

Masalah jilbab juga, Quraish Shihab banyak penentangnya. Menurut Quraish Shihab jilbab bukan wajib menurut Al Qur’an tapi dianjurkan. Yang dimaksud menjulurkan jilbab sampe dada adalah menggunakan baju yang tertutup bagian dada, dan baju tidak ketat, tidak terlalu tipis atau menerawang. Jaman jahiliyah dulu orang menggunakan kerudung tapi diikat ke belakang, sehingga kelihatan sebagian dada dan perhiasannya.

Barang kali aku juga akan ditimpuk sandal dengan penulisan ini. Yang aku tangkap dari maksud jilbab bukan sesuatu yang wajib adalah, kita tidak boleh memaksa wanita lain untuk menggunakan jilbab dengan alasan masuk neraka, atau bukan muslimah yang baik. Kondisi ini berlaku di Indonesia yang kalo kita berjalan keluar rumah tanpa jilbab tapi bajunya sopan dan bersikap santun bukan hal yang membangkitkan birahi. Berbeda bila ke Mekah dan Madinah yang bila tanpa kerudung maka orang-orang banyak berteriak haram. Bandingkan dengan yang menggunakan jilbab tapi dengan jins ketat dan kaos sepinggul, ketat lagi. Belum lagi cewek berjilbab yang pacarannya heboh, kalo boncengan lengket kayak jadi tas ranselnya.

Kisah ibu mertua kakakku menegaskan hal ini, seumur hidup beliau hidup sederhana, bekerja keras mencari nafkah karena suaminya sakit-sakitan. Dan setauku beliau tidak menggunakan jilbab. Tapi Allah menurunkan hidayah menjelang beliau meninggal dengan berkerudung saat naik haji di Mekkah. Aku rasa, dalam masalah akhlak aku masih di bawah beliau, belum lagi beliau telah menjadi tulang punggung keluarga.

Ada kisah seorang pelacur yang memutuskan memberi minum seekor anjing yang hampir mati, ternyata masuk surga. Atau seorang pembunuh yang sebelum meninggal hatinya ingin bertaubat, dalam perjalanan menuju ke kampung dimana banyak orang beriman. Di perjalanan meninggal, setelah ada perselisihan antara malaikat Malik dan Ridwan, akhirnya malaikat Ridwan yang membawa roh pembunuh ini ke surga. Manusia diberi kesempatan bertaubat sampai nyawa ada di tenggorokan.

Bicara masalah jilbab, walau aku sudah komit menggunakan jilbab, tapi aku masih sangat menghargai wanita tanpa jilbab yang berakhlak baik. Aku sendiri belum yakin untuk bisa masuk surga, dosa-dosaku masih banyak, dan aku selalu berusaha untuk sering-sering istighfar. Bisa jadi yang belum menggunakan jilbab akhirnya mendapat hidayah dari Allah saat di akhir hidupnya, meninggal dalam keadaan khusnul khotimah karena akhlak yang begitu baik. Hal yang lucu adalah diplomasi wanita tanpa jilbab “kok gak pake jilbab” jawabnya “aku ingin menjilbabi hatiku”. Itu jawaban hanya untuk menghentikan pertanyaan. Tapi bila ditanya lebih lanjut “maksud dari menjilbabi hati itu apa”, aku rasa mereka ini tidak tau jawabannya.

Meninggal dengan akhir yang baik adalah kita berusaha untuk banyak beramal shaleh, dan bisa jadi ada satu amalan shaleh yang membuat Allah ridho dengan amalan itu sehingga diberi kesempatan khusnul khotimah. Almarhum bapakku meninggal saat shalat Subuh dengan wajah begitu tenang padahal beliau mempunyai kumis dan tidak berjenggot. Apa iya sih surga hanya untuk laki-laki berjenggot?

Menurut Quraish Shihab, bisa meninggal dengan khusnul khotimah adalah dimana hati kita sering berada. Dari blogku yang lain, tulisan spektakuler paling banyak pembacanya adalah postingan berjudul “video dangdut telanjang”. Kira-kira bagaimana nasib para laki-laki yang hatinya selalu tertaut dengan video porno? Bahkan seseorang yang beribadah walau mulut mengucap karena Allah tapi hati untuk pasangan, ibadahnya tidak diterima oleh Allah karena tidak ikhlas lilahita’ala. Barangkali perbuatannya membuat pasangannya tenteram dan mengagumi “keshalehannya” tapi kenyataannya tidak akan membuatnya masuk surga.

Akhir yang baik bisa didapatkan ada petunjuknya di Al Qur’an. Mereka yang hatinya bergetar bila mengingat Allah, bershalawat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga saat mendengar ayat-ayat Al Qur’an dibacakan. Berusaha istiqomah dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah sepenuh hati…

No comments:

Post a Comment