Setan kelas profesor

4 comments
Ini adalah pendapat ustadzah yang sering mengisi pengajian di tempat aku kerja. Kalo orang dengan agama kelas profesor, maka setannya juga kelas profesor. Dan setan kelas profesor ini tidak hanya merasuki orang yang beriman, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

Orang yang belajar Islam dan mengamalkan pasti akan dapat ujian. Ujian itu berkaitan dengan hal yang paling dicintai. Temanku yang sangat cinta pada istrinya, tiba-tiba istrinya meninggalkannya dan malah menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang lebih muda. Istrinya ini balik ke orang tuanya, dan orang tuanya laporan bahwa sekarang istrinya tambah shalehah, rajin shalat tahajud. Cerita yang cukup aneh, karena wanita shalehah itu mestinya menurut pada suami, bukan rajin shalat tahajud dan pacaran dengan laki-laki lain padahal statusnya masih jadi istri temanku ini.

Atau ada temanku yang kontraktor, berkali-kali ditipu, sampai milyaran rupiah. Hal ini membuat dia gelisah dan mencari guru yang bisa menghilangkan kegelisahannya. Dia ingin sekali bisa punya kemampuan untuk mengetahui kliennya pembohong atau tidak. Tapi walaupun kehilangan milyaran rupiah, dapat ganti lagi. Aku rasa dia sebaiknya bikin yayasan sosial, supaya dimudahkan oleh Allah baik dalam hal ketenangan hidup dan rejekinya.

Jangan tanya soal aku, hehehe... malu. Belum apa-apa sih. Paling dulu awal ngeblog sempet mimpi kehilangan beberapa teman blogger, awalnya sempet akrab, chatting, ketawa-tawa, lalu menghilang. Walau sudah dapat gambaran sebelumnya, tetap rasanya berat saat terjadi. Sempet error dan mencoba menanyakan pada yang bersangkutan. Tambah dibahas, tambah kacau urusannya. Akhirnya menyadari ini maksud dari mimpiku yang dulu itu.

Mengenai Islam di mataku, hal yang paling menakjubkan akhir-akhir ini adalah membaca tentang Islam membuat #jleb. Padahal dulu aku memutuskan menjadi seorang muslimah yang biasa-biasa aja. Sudah tau caranya shalat dan baca Qur'an sudah cukup. Dulu pikiranku lebih banyak ke anak-anakku, yang sekarang karena aku pernah depresi tinggal dengan ayahnya setelah perceraian yang menyakitkan.

Komentar-komentar di blog yang ditujukan padaku juga macem-macem. Ada yang hobi nyebut alat kelamin, baik punya laki-laki atau perempuan. Yang ngatain gila juga ada. Nyukurin aku dijauhkan dari anak-anakku juga pernah. Tentu saja bahasa kasar tidak aku tampilin di blog, kata temenku yang paham Islam bahasa kasar adalah bahasanya setan. Para penghuni surga (dan calon) menggunakan bahasa yang penuh dengan kasih sayang. Jadi komentar manusia berbahasa setan ini tidak akan ditampilkan di blog ini, udah gak ngaruh, gak penting.

Konon setan adalah golongan sesat, baik jin ataupun manusia. Kelasnya juga macam-macam, ada yang baru kelas mencuri sendal di masjid, atau anggota dewan yang sibuk ngurusin komisi dari proyek geje. Proyek anggota dewan kok sibuk memakmurkan diri sendiri yang sudah makmur, bukannya memakmurkan rakyat, heraaaan. Para setan ini adalah orang yang bangga bisa melakukan kejahatan, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Biarpun sudah masuk penjara, tetap ngotot merasa tidak bersalah. Malah penjaranya dijadiian salon dan spa, biar nyaman dan tetep cantik #kisahnapiperempuansuperkaya. Atau walau di penjara tetap disetor wanita cantik dan bisa mengendalikan bisnis narkoba. Bisa juga ala mahasiswa, ngakunya dipenjara, ternyata cuman nitip absen doang, orangnya sibuk jalan-jalan keluar negeri atau ke Bali nonton pertandingan tenis skala internasional.

Setan-setan yang tanpa wujud terus mencari mangsa supaya bisa merasuki manusia agar menjadi setan berwujud manusia. Hanya manusia yang ikhlas yang sulit digoda oleh setan, ini adalah janji Allah. Bagi setan berwujud manusia, peraturan adalah untuk dilanggar, ajaran agama adalah untuk dibolak-balik dengan akal. Yang paham Islam betul, membaca tulisan pembolak-balikan ajaran Islam tidak akan digubris, paling juga dikomentari sekali abis itu gak dibahas lagi. Percuma jelasin pada orang bodoh. Tugas manusia hanyalah mengingatkan, setelah itu sudah.

Aku juga mengakui, di awal belajar Islam, bawaannya geram, emosi melulu. Pertama merasa terlambat paham Islam, dari umur belasan tahun sudah belajar Islam kok mulai memahami belum lama. Kedua, menyadari bahwa di sekeliling kita, tidak sampai 10 persen yang bicaranya bisa nyambung. Katakan dari 100 temenku di Fesbuk, hanya di bawah 10 orang yang merespon positif. Sisanya cuman mikirin perut atau selangkangan. Seumurku kayaknya laki-laki lagi gawat-gawatnya pengen punya istri lagi, atau istri punya pacar juga punya.

Semakin paham Islam, semakin sadar, bila berbelok sukses disesatkan setan teguran dari Allah akan semakin berat. Untuk menghindari itu, salah satunya dengan sering mengucapkan kalimat surga "Laa haula wala quwwata illa billah" atau tiada daya upaya selain dari Allah semata. Kecerdasan, pemahaman, semua berasal dari Allah. Tambah belajar tambah merasa semakin bodoh saja, menyadari ilmu Allah begitu luasnya.

Wajar kalo ngeliat yang masih baru belajar Islam bawaannya emosi. Ini dosa, itu dosa. Aku masuk surga, kamu masuk neraka. Semakin dewasa, pasti semakin arif, tambah menyadari bahwa tugas manusia hanyalah menyebarkan kebaikan dan mendoakan. Intropeksi diri lebih penting dibandingkan sibuk ngurusin orang lain. Tidak hanya sibuk shalat dan berdoa, tapi juga dengan memperbanyak sedekah. Berbuat baik pada orang lain mendapat pahala, termasuk tersenyum yang tulus dan menebar sapa sekalipun pada orang yang beragama lain.

Pada orang beragama lain bisa tersenyum, karena prinsip lakum dinukum waliyadin. Tapi kemarahan akhirnya ditujukan pada Islam tapi pada yang tidak sepaham. Ada 4 madzab dalam Islam, sehingga penafsiran beragama bisa lain-lain. Islam mengajarkan untuk tidak mengkafirkan sesama muslim. Resiko mengkafirkan, akhirnya kafir itu akan berbalik ke dia sendiri, jadi mesti berhati-hati mengatakan kafir. Pernyataan kafir adalah hal sangat sensitif bagi seorang mukmin, dan itu salah satu senjata setan memudahkan lidah orang yang sedang belajar Islam (yang ilmunya tinggi akan hati-hati mengkafirkan) untuk geram dengan perbedaan dalam Islam lalu menyatakan kafir.

Aku memaklumi sekali dengan masalah emosi ini, aku juga begitu. Tapi tentunya belajar untuk tidak emosi, karena menurut Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam orang yang kuat adalah yang bisa menahan amarahnya. Semoga kita dimudahkan dalam dunia dan akhirat...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
Apabila ada seseorang berkata kepada saudaranya -sesama Muslimnya-: “Hai orang kafir,” maka salah seorang dari keduanya -yakni yang berkata atau dikatakan- kembali dengan membawa kekafiran itu. Jikalau yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana yang orang itu mengucapkan, maka dalam orang itulah adanya kekafiran, tetapi jikalau tidak, maka kekafiran itu kembali kepada orang yang mengucapkannya sendiri. (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

4 comments:

  1. supaya seimbang mungkin ya mba... :D

    ReplyDelete
  2. semakin tinggi iman, semakin tinggi godaan setannya

    ini bagian dari ujian Allah, jadi jalani saja

    ReplyDelete
  3. @Iyus, ya... semakin pintar agamanya, setannya yang menggoda juga yang tambah pintar. setan yang belum pintar minder soalnya, hehehe...

    Aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk...

    Semoga kita semua dilidungi dari godaan setan ya Iyus

    ReplyDelete
  4. @Rio, memang benar. Sebetulnya kita tau orang yang belum paham ajaran Islam yang benar itu juga mau dijelasin gimana juga gak akan ngerti. Makanya cukup jelasin sekali abis itu sudah.

    Memang gak mudah, apalagi kalo awalnya dia teman kita. Tau-tau memusuhi kita tanpa alasan jelas.

    Biarin deh, mencari sahabat yang shaleh dan shalehah aja. Sahabat yang baik akan membawa pengaruh positif dalam hidup kita

    ReplyDelete