Tuesday, February 7, 2012

Berdo'a minta yang terbaik

Kemarin aku main ke tempat temen, mereka berdua pemahaman Islamnya cukup dalam. Aku banyak nanya ke mereka-mereka ini.

Waktu aku cerita soal kejadian anak-anakku, sampe mau nangis temenku yang perempuan ini. Empatinya sangat besar sampe aku bilang, udah gak usah nangis, aku aja gak nangis kok.Sebetulnya dulu sih aku pernah banyak nangis tapi sudah bisa mengatasinya.

Aku bercerita padanya bahwa seorang psikolog pernah komentar ke aku, orang lain bila mendapatkan kejadian kayak aku bisa terganggu jiwanya. Bukannya apa-apa, anak itu bagian hidup dari seorang Ibu, jadi bila ada yang mengambil secara paksa, jiwanya terganggu. Apalagi memang niat dari pengambilan ini karena maksud dendam, ingin menyiksa secara batin. Seorang yang punya perasaan, memahami ajaran Islam secara benar pasti berpikir berkali-kali sebelum melakukan pemutusan hubungan silaturahmi. Anak berumur 4 tahun masih terikat hubungan batin dengan ibunya, jadi bila dia paham Islam, walaupun terjadi perceraian akan membiarkan anaknya dirawat Ibunya, ayahnya memberinya nafkah secara materi. Kejadian pengambilan anak -anakku kembar berumur 4 tahun yang menimpaku murni niatnya hanya karena dendam semata, didukung oleh keluarga besarnya dari Ibunya (neneknya anak-anakku), kakak-kakaknya dan adik-adiknya juga.

Tidak main-main, pelaku pemutusan silaturahmi akan mendapatkan siksa dunia dan akhirat

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Tidak ada dosa yang Allah percepat siksa pada pelakunya di dunia, serta tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan silaturrahim" (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi)

Allah berfirman
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad : 22-24)

Panjang sekali ceritanya diawali latar belakangnya. Dan sejauh ini walau aku sudah menghubungi LSM, LPA (lembaga perlindungan anak), tidak ada solusi yang berarti. Keluarga yang mengasuh anak-anakku yang diambil secara paksa dariku ini kompak banget menutupi kesalahan ayahnya anak-anakku dan mencari-cari salahku. Entah ngomong apa kalo nyekolahin mereka terus cerita kenapa tidak ada ibunya malah diurus neneknya.

Ada hal yang menguatkan aku tentu saja, karena dengan belajar Islam aku jadi selalu berusaha menyerahkan semuanya pada Allah. Kira-kira aku bercerita gitu pada mereka. Temenku ini menimpali memang, banyak orang mendapat pencerahan setelah sebelumnya kehilangan titipan dari Allah, bila berusaha menjalani ajaran Islam secara benar maka Insya Allah semua akan kembali. Yang melakukan tindakan penzaliman dan pemutusan hubungan silaturahmi akan dapat teguran dari Allah, siksa dunia dan akhirat.

Aku juga bercerita banyak hal, termasuk pemahaman-pemahaman Islam semuanya melalui pencarian yang pas tentunya. Kadang Islam bisa diterjemahkan lain oleh guru-guru yang berbeda-beda. Barangkali ada guru yang sibuk menjelaskan dengan surga neraka, pahala dosa, tapi aku pribadi sangat tertarik dengan ajaran Wali Songo. Wali Songo yang menyebarkan Islam di pulau Jawa ini menyebarkan Islam melalui kesenian. Bahwa Islam itu indah, bisa dinikmati. Dan tetap mengikuti budaya dari daerah tersebut. Berusaha membaur ke masyarakat, tidak usah menggunakan baju gamis lebar bercadar untuk menunjukkan identitas sebagai muslimah yang baik. Aku sendiri sangat setuju dengan pendapat Wali Songo ini untuk membaur dan menggunakan baju yang sewajarnya sesuai lingkungan. Karena ada yang berpendapat bagi wanita menggunakan celana panjang itu seperti laki-laki, haram hukumnya. Aku yang kemana-mana naik sepeda di Jogja ini cenderung menggunakan celana panjang bila pergi keluar rumah, aku memilih untuk fleksibel sajalah menggunakan baju, menggunakan celana panjang asal bukan menjadi bersikap maskulin dari hubungan lesbian. Maaf ya, masih straight soal begituan...

Pembicaraan yang sangat menarik pada mereka berdua ini. Walau aku yang banyak cerita, soalnya terus terang sih aku masih orang baru dalam hal spiritual, sekitar setahun yang lalu pemahaman mulai muncul. Jadi walau secara umur aku lebih tua dari mereka, tapi soal pemahaman Islam mereka lebih matang.

Sarannya dari temanku saat berdoa minta yang terbaik dari Allah sajalah, tidak usah detil mengucapkan mesti begini begitu. Minta dimudahkan semuanya karena suratan takdir kita sudah tertulis sejak zaman azali, 50 ribu tahun yang lalu. Kita tidak bisa mengelak dari semuanya kan. Tapi nasib seseorang bisa berubah dengan do'a dan ikhtiar serta berprasangka baik pada Allah bahwa semua yang menimpa pada manusia adalah demi kebaikan manusia itu sendiri...

2 comments:

Ajeng Sari Rahayu said...

alhamdulillah, berarti saya ini termasuk salah seorang yg beruntung. jauh dari ortu dan setelah lulus SMP baru dijemput ortu diajak tinggal bareng. bersyukur pae ama bue yg ngrawat saya justru nggak menghalangi ortu kandung sy buat ngambil sy diajak ke Banjar mbak...


klw mslh berpakaian-sy jg nggak bisa komen banyak. asalkan nggak pake baju yg berlebihan masih boleh kan meskipun kita pake celana? sy justru srg pake celana kain, jeans jg ada. rok jg ada hehe :D

aryadevi sudut kelas said...

bu....karat emas dan berlian berbeda-beda, manusia yang tentu saja mempunyai posisi martabat lebih tinggi dibanding 2 benda tsb. punya pula kadar yg berbeda setiap orangnya.
Dan hal ini mungkin ibu juga sudah paham bahwa Allah menguji makhlukNya sesuai dengan kadar/kekuatan masing-masing dan dengan tujuan untuk meningkatkan level (maqam) manusia itu....semakin ibu tabah dan mendekatkan diri ...maka tentu level akan meningkat....tapi ini akan menjadi rahasia pribadi tentunya.
Banyak riwayat dari Rasul dan para sahabat yg menceritakan tentang berbagai ujian berat dilalui yang kemudian berujung pada kebahagiaan hakiki.