Sebetulnya Islam itu mengajarkan untuk membela orang-orang yang dalam kesulitan. Tapi kenyataannya waktu aku dalam kesulitan dulu bukannya d...

Membela yang dalam kesulitan

3 Comments
Sebetulnya Islam itu mengajarkan untuk membela orang-orang yang dalam kesulitan. Tapi kenyataannya waktu aku dalam kesulitan dulu bukannya dikasih solusi malah diajak hura-hura gak jelas oleh komunitas tertentu. Bukannya tambah bener, perasaan tambah "tersesat", hehehe... Tapi anehnya, dari belajar teman-teman penganut hedonisme (semoga Allah menunjukkan mereka ke jalan yang benar), aku malah banyak belajar. Oh begini toh cara berpikir mereka. Termasuk orang yang bisa menceramahi aku tentang Islam berjam-jam tapi ketahuan punya pacar padahal dia punya istri.

Orang dalam kesulitan yang dibantu sebaiknya adalah yang mau berusaha, bukan peminta-minta. Apalagi dia peminta-minta profesional, ada "manajernya" segala. Membantu orang non muslim juga dapat pahala, tapi bila ada pilihan prioritaskan yang muslim dan keluarga sendiri.

Miris memang kalo sering terdengar lagu kalo nonton ribut-ribut di TV apalagi yang make pengacara "Maju tak gentar membela yang bayar". Soalnya waktu aku ke LSM nanya soal pengen ketemu anakku yang dilarang ayahnya ketemu aku, cuman mau ngajak pas libur, ada oknum polisi yang akan selalu minta duit, dan bukannya masalah cepet tuntas, malah dilempar sana-sini.

Keluargaku sendiri mencemaskan aku kalo aku berhubungan dengan keluarga sana. Soalnya keluarga sana punya semacam "pegangan" ilmu warisan turun-temurun dari leluhur. Pantesan, kalo Idul Adha uangnya gak ada, padahal hukumnya sunnah muakkad, sunnah mendekati wajib. Tapi kalo hadiahan (jawa = selamatan) mendoakan leluhur pasti diada-adain besar-besaran ngundang orang banyak, bermewah-mewah. Dan ayahnya anak-anakku sendiri menurutku pikirannya emang sudah gaje banget, tubuhnya banyak jinnya, kebanyakan nongkrong di kebun raya Bogor malem-malem dengan kelompoknya pencari ilmu kedigdayaan dengan gaib. Kenapa dulu aku mau nikah sama dia, dulu aku gak tau, katanya hidupnya lurus untuk membantu orang lain rajin shalat segala. Akhirnya ketauan banyak bercokol jin di tubuhnya makanya aku sampe sakit dan pulang ke Jogja. Alhamdulillah masih diselamatkan Allah. Keluarganya sendiri gak terlalu mempermasalahkan soal jin ini, gak peduli kali ya, malah tambah dijadiin konsultan keluarga soalnya bisa jawab hal aneh-aneh soal gaib.

Yah, pelajaran berharga berada di keluarga besar yang sibuk dengan "pegangan-pegangan" ilmu warisan leluhur agar selamat dunia akhirat (katanya sih). Setauku sih pegangan itu kalo lagi bingung sambil jongkok...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, ia tidak boleh berbuat dzalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang melepaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak."(HR Al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: pahala sedekah dan silaturrahim." (HR. at-Tirmidzi 658 dan ia berkata: Hadits hasan, Abu Daud 2355, an-Nasa`i 5/92, Ibnu Majah 1844, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban no. 892)


3 comments:

  1. Sudah terbukti nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memang seharusnya muslim yang baik adalah menutup aib muslim yang lain. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :)

    ReplyDelete
  2. Semoga menjadi nasehat kebaikan untuk bersama.

    Sukses selalu
    SalamEjawantah's Blog

    ReplyDelete
  3. salah pilih teman bisa menyesal mbak :)

    *eh mbak ada apa sih dgn JT dan EL di FB pada 11 februari :D

    ReplyDelete