Menjadi terasing

Saturday, February 4, 2012

Sekitar pertengahan 2009 aku aktifis di Facebook, maksudnya sering nulis status dan notes. Tulisannya kebanyakan gak jauh dari ayat Al Qur'an dan hadits. Karena aku bersekolah umum dari sejak TK, tulisan tentang Islam malah membuat teman-temanku tidak nyaman. Pernah aku ikut rapat mau membahas reuni, dari sekian banyak muslim yang ikutan di situ hanya segelintir yang shalat Maghrib.


Aku hanya berusaha menjadi seorang mukmin di jalan yang benar. Itu istilah beriman juga masih dipermasalahkan bahwa iman saja belum cukup untuk masuk surga, iman artinya baru percaya belum mengamalkan. Maleeeees berdebat, padahal iman yang sebenar-benarnya menurut Al Qur'an termasuk golongan yang masuk surga. 

Masalah tasawuf juga jadi perdebatan. Temenku bilang bahwa tasawuf itu sesat. Sampe aku perlu baca-baca banyak di dunia maya dan bertanya pada ustadz. Kalo misalnya uangku berlebih aku barangkali ingin punya koleksi buku. Karena keterbatasan cukuplah nanya ke om Gugel dan pembicara pengajian di rumahku.

Waktu aku tinggal di Bogor sekitar 2008-2009 aku sempet belajar tasawuf. Dari penjelasan ustadznya tasawuf ini adalah pembersihan hati. Sudah bukan lagi menghindari dosa-dosa besar, tapi juga dosa-dosa kecil. Setelah pertengahan tahun 2009 karena ingin menulis di blog, dengan membuka referensi aku baru tau ada ritual tasawuf melalui tarekat dengan guru yang dinamakan mursyid. Jadi bila ingin menjadi seorang sufi harus nurut total pada mursyid. Aku sering menulis tentang sufi-sufi yang ingin mendekatkan diri dengan Allah melalui pembersihan hati dan pensucian jiwa sesuai Al Qur'an dan hadits. 

Sufi dan hedonis sangat bertolak belakang. Seorang sufi adalah orang yang berusaha membersihkan hati untuk mendekatkan diri pada Allah, dan beramal sholeh. Dengan mendekatkan diri pada Allah para sufi hidupnya merasa tenteram. Sedangkan hedonis adalah pecinta kehidupan dunia, seks bebas, minuman keras, drugs, konsumtif, tanpa itu hidup mereka hampa tidak punya rasa senang.

Ada pendapat lagi bahwa tidak semua beragama Islam adalah muslim. Hmmm... yang beragama Islam itu muslim, tapi tidak semua muslim itu mukmin. Banyak orang yang di katepenya tulisannya beragama Islam, tapi mereka ini merasa tidak nyaman dengan mendengarkan ayat-ayat Al Qur'an. Hidupnya lebih banyak sibuk mikir cari uang banyak untuk makan enak pake baju bagus, rekreasi. Bila diajak diskusi soal agama hanya cengar-cengir gak ngerti dan mencoba mengalihkan perhatian pada hal duniawi yang menurutnya menyenangkan. Barangkali mereka ini juga shalat 5 waktu, hanya saja diajak berdiskusi soal tafsir Al Qur'an pilih menghindar karena sibuk, tentu saja karena sibuk ngurusin hal-hal duniawi.

Menjadi seorang sufi hanyalah label saja. Hanya sekedar suatu komunitas yang ingin lebih meluruskan jalan, membersihkan hati dan mensucikan jiwa agar lebih dekat dengan Allah. Tapi memang perlu dilihat, model tasawuf seperti apa yang dipelajari, selama masih berpatokan pada Al Qur'an dan hadits berarti sufi di jalan lurus sesuai ajaran Islam.

Di akhir jaman, Islam akan menjadi kembali terasing. Hanya sekelompok kecil saja yang menjalankan Islam secara lurus. Banyak yang belajar ilmu begitu tingginya di luar negri malah mencoba membelokkan pemahaman Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan rasio. Menjadi kelompok Islam pecinta kebebasan seperti kelompok tahun 70an di Amerika yang disebut hippies. Hippies itu kelompok yang merdeka, terlalu cinta pada alam, cinta pada sesama, ujung-ujung malah sibuk dengan gaya seks bebas. Segala sesuatu kalo bebas tanpa aturan jadinya malah gak bener, gak ada pager dan remnya soalnya.

Ada yang menutup diri tidak mau bergaul dengan dunia luar karena terlalu takut dosa, mereka sibuk beribadah di komunitasnya sendiri tidak mau menyebarkan Islam ke yang pemahamannya mereka anggap berbeda. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka ini ilmu tentang ajaran Islam tinggi, jadi aku suka membaca referensi dari mereka, walau ada beberapa yang tidak sepaham. 

Karena profesiku sebagai pendidik, mesti belajar menyesuaikan diri dengan berbagai macam karakter anak, juga orang tua. Saat berusaha mengatasi masalah di sekolah Islami ini, selalu berusaha bersikap baik dan sabar walaupun ada orang tua yang pernah komplen dan  marah-marah, kalo soal anak ngambeg dan bandel sih sudah makanan sehari-hari. 

Sebetulnya siapa sih yang terasing? Aku tidak merasa terasing, Alhamdulillah masih banyak temannya. Islam yang lurus itulah yang terasing. Banyak sekali aliran di Islam. Ada yang dapat beasiswa sekolah di Iran pulang-pulang mencoba menyebarkan paham Syiah. Ada yang lulusan pesantren kolot, memutuskan untuk hidup sebagai salafy. Atau sekolah tinggi di dunia barat lalu setelah pulang bergabung dengan paham liberal. Tentang Ahmadiyah aku masih gak ngerti, kenapa mereka mengakui Nabi baru, konon soalnya ada dananya dari luar negeri. Aku sampe mikir apa dana dari luar indikasi proyek memecah belahkan umat Islam, wallahu a'lam. Apa yang membuat mereka tenteram dengan yang diyakininya masing-masing? 

Gak usah jauh-jauh, jadi blogger aja pernah bermasalah dengan blogger lain, hehehe... Tapi udah males cerita lagi, semua malah menjadikanku belajar lebih ngerti tentang Islam dan belajar lebih sabar lagi.

Mencoba menjalani Islam yang lurus, sesuai Al Qur'an dan hadits, mengingatkan kebenaran tanpa emosi, toh Allah nanti sudah akan memberi ganjaran, masak sih kita ragu malah merasa nyaman meluapkan emosi dengan menyebarkan kesesatan mereka. Bahkan memendam emosi adalah perbuatan menzalimi diri sendiri... (jadi ingat Nabi Yunus 'alaihi sallam yang emosi pergi meninggalkan kaumnya lalu masuk ke perut ikan).

Berprasangka baik itu ditujukan total pada Allah. Sedang pada manusia, tetap perlu seperti kata bang Napi "waspada, waspadalah". Karena ajaran Islam yang lurus menjadi terasing di akhir zaman... 

2 comments

  1. yang mengatakan tasawuf sesat itu pasti orang yang lebih sesat lagi :-)

    ReplyDelete
  2. @Suryaden, yang menulis tentang tasawuf sesat itu karena patokannya pada tarekat dengan ritual aneh-aneh. Dan itu tidak bisa dipungkiri ada orang mengaku jadi mursyid dengan mengaku punya karomah begini begitu.

    Karomah ini bisa jadi hanyalah titipan dari setan, seperti membaca pikiran. Punya kekuatan menyembuhkan hanya dengan menyentuh misalnya.

    Tapi aku karena punya teman dengan indra ke-6 yang berusaha lurus menjalankan syariat, aku yakin ada yang memang mempunyai kelebihan untuk membantu dan mengingatkan sesama manusia untuk selalu berserah diri pada Allah

    ReplyDelete