Lebih penting mana ibadah sunnah atau menjaga perasaan orang lain?

1 comment
Sebagai contoh adalah ibadah haji. Aku pernah menulis, sebelum ibadah haji bersihkan hati dan sucikan jiwa. Lalu, bagaimana caranya mensucikan hati dan bersihkan jiwa caranya? Ditulis secara ringkas, dirikan shalat dan tunaikan zakat. Lakukan shalat untuk hubungan horizontal dan membagikan sebagian harta miliknya untuk orang lain.

Sebetulnya mendirikan shalat dan membayar zakat hanya masih penjelasan ringkas. Bila dijabarkan akan menjadi panjang sekali. Bila ingin berangkat haji tentunya perlu belajar tentang pemahaman Islam yang sesuai dengan Al Qur'an dan hadits. Perbaiki shalatnya selain shalat wajib juga ditambah shalat sunat lebih baik. Lalu membayar zakat dan banyak sedekah. Sedekah itu tidak hanya berbentuk barang, tapi juga dalam perbuatan.

Ibadah haji itu salah satu syaratnya adalah mampu. Dimaksud dengan mampu adalah uangnya berasal dari rejeki halal, lalu keluarga dan tetangganya tidak ada yang dalam keadaan kesulitan.

Insya Allah bila ibadah sudah rajin melakukan, zakat dan sedekah sudah selalu ditunaikan, hati sudah tertata dengan wajah cerah karena rahmat Allah sampai padanya, akan menjadi haji mabrur. Ciri-ciri haji mabrur adalah menjadi lebih baik Islamnya daripada sebelum berangkat, dalam pemahaman maupun pengamalan.

Tulisan di atas adalah contoh, bahwa sebelum melakukan ibadah haji, maka hati sudah cerah dan selain taat beribadah, perbuatannya sudah bisa menjadi tauladan, menerangi keluarga dan lingkungan keluarganya.

Banyak orang melakukan ibadah tanpa memikirkan perasaan orang di sekitarnya. Misalnya sedekah barang tapi yang diberikan sudah tidak layak atau setelah itu malah mencaci maki orang yang dibantunya. Karena sedekah itu seharusnya diikhlaskan, tanpa berpikir apa yang terjadi selanjutnya diserahkan pada Allah.

Bila melakukan ibadah, terutama ibadah sunnah, sebaiknya menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan kewajiban pada orang lain. Berbeda dengan ibadah wajib, apapun yang terjadi, pekerjaan bisa ditinggalkan, tapi sebaiknya jangan dalam keadaan sangat lapar, lebih baik makan dulu.

Seandainya berniat puasa Syawal 6 hari, tentunya memilih saat tidak ada jamuan makan siang dari sahabat. Lalu kemudian bila hendak shalat Dhuha ada tamu berkunjung lebih baik diterima tamunya baru diberi tau hendak melakukan shalat Dhuha.

Jadi sebetulnya ibadah itu lebih penting mana dibanding menjaga perasaan? Ibadah dilakukan dalam situasi tidak ada orang lain di sekitarnya dalam keadaan tidak nyaman. Tentunya terkecuali orang lain yang tidak tau diri, mau ibadah kok dilarang, namanya pendzaliman mesti dilawan.

Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi tentunya semampunya kita dan bertahap. Aku sendiri kadang masih merasa gagal menjaga perasaan orang lain. Tapi usaha mesti kita lakukan. Banyak orang yang tidak nyaman padaku tanpa alasan. Dan supaya tidak dianggap aneh, karena setiap saat minta maaf ke siapa-siapa, aku berusaha menyampaikan permintaan maaf di semua komunitas saat Lebaran. Terserah yang aku tuju tidak mau memaafkan, yang penting aku berusaha menyampaikan sajalah. TERLALU BESAR RESIKONYA ORANG YANG TIDAK MAU MINTA MAAF ATAU MEMAAFKAN. Resikonya adalah pahala yang tidak mau memaafkan diberikan pada orang meminta maaf. Belum lagi yang tidak mau memaafkan sudah membuat kapling di neraka, kecuali mau bertaubat dan segera saling memaafkan.

Semoga kita diberi kebaikan dunia dan akhirat... sedih banget aku nulis ini, ingat dengan banyak teman-temanku yang tiba-tiba menghilang risih dengan tulisanku yang akhir-akhir berbau Islami. Banyak komentar, soalnya mereka masih ingin bersenang-senang karena dalam kondisi berlebih secara materi dan taubat hanya baru dalam sekedar wacana belaka...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment: