Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cerdas

Tuesday, March 6, 2012

Kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku. Ucapan dari pak Munichi. Mirip kayak aku habis nonton film Sang Pencerah, supaya kita melakukan hal terbaik untuk Allah, begitulah ucapan KH Ahmad Dahlan. Kebetulan pak Munichi cucu dari pendiri Muhammadiyah ini.

Waktu aku belum belajar Islam seperti sekarang, aku gak terlalu peduli dengan yang aku lakukan. Bohong tidak merasa berdosa, biar kelihatan hebat. Berontak menentang orang tua juga selama aku pikir itu benar, ya aku lakukan. Aku pernah kabur dari rumah... tahun 2003. Kalo aku balik lagi ke Jogja 2009 lalu mencoba memperbaiki diri, aku paling tidak suka diungkit-ungkit alasanku kabur dulu.

Masa lalu itu gak penting. Apa mau kehilangan rumah, tanah, mobil, harta benda, dan itu benar-benar terjadi padaku. Harta benda tidak akan dibawa mati. Yang akan dibawa mati hanyalah amal ibadah kita selama di dunia.

Pernah Allah berfirman dalam ayat Al Qur'an bahwa hidup hanya senda gurau belaka. Orang Jawa bilang hidup itu hanya mampir ngombe, hanya sebentar, tidak usah dimasukkan ke hati banget-banget. Dibandingkan  waktu di akhirat, waktu di bumi sangatlah singkat. Semua orang akan mati, jadi hidup dibikin enteng sajalah. Penuh dengan senyum, banyak berbuat kebaikan, kalo ada yang menjahati, ambil hikmahnya.

Yang duitnya banyak, hisabnya lama. Semua harta miliknya dipertanggungjawabkan dari mana dan untuk apa. Sedangkan yang duitnya sedikit hisabnya sebentar, lebih mudah untuk masuk surga.

Soal penampilan. Mau gak pake kerudung, pake jilbab panjang, jilbab pendek, yang menentukan surga itu Allah, bukan manusia. Semua kebaikan akan mendapatkan balasan pahala, dan kejahatan akan mendapatkan dosa.

Mau ikut NU, Muhammadiyah, atau ormas yang lain, itu kan masalah panggilan jiwa masing-masing. Ada yang karena memang dari orang tua, kayak aku dan tidak berminat pindah. Atau ada karena ikut pasangan, sehingga ikut ormas Islam berbeda dengan orang tuanya. Sebetulnya semua itu boleh dilakukan selama tidak menentang Al Qur'an dan hadits. Kenapa ada yang mikir kelompoknya benar sendiri. Aku masih mau bersalaman dengan bukan mahram, tapi tidak mau lebih dari itu. Kayak dipeluk-peluk, waaah... sampai pernah ribut sama temenku waktu foto reuni dipeluk-peluk gitu.

Kalo ada yang suka pake gamis longgar, ya itu kan pilihan. Milih pake rok dan jaket tebal untuk sehari-hari bila nyamannya seperti itu gak papa. Atau tidak pake kerudung asal tidak kecentilan dan seksi, aku masih menghargai orang itu. Kalo seksi dan centil otomatis orang seperti itu menjauh dari aku... pengalaman sih.

Soal jenggot, masya Allah. Itu juga hanya pilihan. Kalo punya kelompok pengajian berjenggot dan nyaman begitu ya silakan saja. Tapi kalo dianggap aneh jangan tersinggung, sedih, marah. Yang namanya sunnah boleh dilakukan semampunya.

Hidup itu semua pilihan. Mau jadi alien, paranormal, penjahat bersurban, bisa membaur ke masyarakat dengan tetap bisa menampakkan wajah cerah, atau paranoid juga pilihan. Yang sulit adalah terobsesi untuk menjadi kaya raya, tapi tidak mau berusaha. Atau aslinya tampangnya kurang menarik pengen bisa mendadak ganteng atau cantik. Allah memandang seseorang dari hati ada amal ibadahnya.

Kemarin aku ngobrol dengan teman yang sama-sama pencari ilmu. Misalnya gini, laki-laki nyari kerja tapi jenggotnya mesti dicukur. Pendapatku sih, punya pekerjaan tapi tanpa jenggot lebih mulia dibandingkan menganggur tapi dengan jenggot. Tentunya beda dengan kerudung, kalo sudah diniatkan menggunakan kerudung terus disuruh copot itu lain ceritanya, mending cari pekerjaan lain. Ada satu hal yang aku yakini, bahwa manusia bertakwa dan tawakkal akan dicukupi keperluan oleh Allah dan diberi jalan keluar dari masalahnya. Karena manusia bertakwa adalah manusia yang berusaha punya akhlak baik dan hatinya mudah tergerak untuk memberikan sedekah.

Memelihara jenggot hanyalah pilihan, jangan sampai malah membuat resah. Lakukan hal yang membuat nyaman untuk melaksanakan Islam asal jangan menyimpang dari Al Qur'an dan hadits. Tidak semua sunnah yang dilakukan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kita lakukan begitu saja, lebih baik kita memprioritaskan untuk mempunyai akhlak yang baik mengikuti beliau.Itu saja sudah tidak mudah. Pake kerudung tapi suka bohong? Pake jenggot tapi suka marah-marah? Berarti belum mempunyai akhlak yang baik.

Salah satu akhlak yang bisa kita contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tersenyum. Mudah kan, tidak usah banyak berkeluh-kesah, marah-marah, gelisah, bohong, apalagi sampai yang dosa lebih berat seperti mendzalimi orang lain dan memutus silaturahmi. Penampilan model apapun juga percuma, tetap saja berdosa. Lebih parah lagi orang dzalim akan mengambil dosa yang didzaliminya...

3 comments

  1. {yang menentukan surga itu Allah, bukan manusia. }

    setuju, Mbak Ami. tiada amal yang menyampaikan kita ke surga. Hanya Allah.

    btw, ada oleh2 ni, Mbak
    http://muxlimo.blogspot.com/2012/03/kejutan-manis-dari-mas-justice.html

    ReplyDelete
  2. KUNJUNG BALIK DARI INDONESI, SELAMAT BERJUANG.....!

    ReplyDelete