Keajaiban berenang

1 comment
Aku punya pengalaman tentang bagaimana hobi berenang bisa merubah kecerdasan seseorang. Ada atlit renang yang tadinya asma kondisinya membaik setelah dilatih berenang secara rutin dengan tempaan pelatih renang yang cukup keras. Aku anggap ini keajaiban karena berkaitan dengan proses yang dialami oleh anakku sendiri.

Waktu hamil aku suka berenang. Berenangnya tiap hari tertentu (sekarang kolam renangnya sudah tidak ada) kalo hari Jum'at khusus untuk wanita. Hidupku mondar-mandir Jakarta Jogja. Soalnya aku merasa tidak kerasan di Jakarta. Tapi orang tuaku selalu mengantarkan aku ke Jakarta lagi. Setelah melahirkan aku ke Jakarta cukup lama, tapi lagi-lagi pilih melahirkan di Jogja.

Di Jakarta, seingatku aku tidak pernah memikirkan diri sendiri, tapi selalu memikirkan kebutuhan anak-anak yang masih kecil. Makanan yang dimasak selalu berkuah dengan sayuran, aku juga tidak pernah ingin makanan kayak yang bersantan atau yang pedas. Soalnya aku sendiri berusaha menerapkan untuk makan makanan sehat.

Kalo weekend biasanya ke kolam renang, di dekat kompleks perumahan. Kolam renang yang sama dan anak-anak tidak pernah protes. Aku pernah heran dengan salah satu temanku yang tinggal di Jakarta anak-anaknya pembosan. Tiap minggu bikin status berada di waterboom ini, minggu berikutnya ke waterboom itu, katanya untuk menyenangkan anak-anaknya dan bosan bila di waterboom yang sama tiap minggunya.

Anakku sulung saat balita mengalami keterlambatan bicara dan kurang bisa mengontrol emosi. Oleh almarhum bapakku aku sempat dinasehati supaya tidak kecewa bila anak sulungku jadi anak yang lambat sekolahnya, akan sering tidak naik kelas. Saking lambatnya kemampuan bicara pernah terapi di tumbuh kembang anak rumah sakit Fatmawati. Bayarnya tidak mahal tapi nunggunya... bisa sampai berjam-jam waktu mau dites ini itu. Dari pengecekan oleh dokter anak, THT, EEG, apalagi ya aku lupa. Tapi saat melakukan terapi bicara nunggunya gak terlalu lama.

Yang bikin hati sangat capek adalah bila orang lain atau keluarga mengamati ketidak mampuan mengontrol emosi dan menyarankan untuk diterapi. Aku buta dengan kondisi kota Jakarta, dan bapaknya anak-anak sepertinya tidak mau membantu memikirkan. Mesti kemana, gimana, Akhirnya ada teman lama yang bekerja di RS Fatmawati menyarankan untuk ke tumbuh kembang rumah sakit itu. Akhirnya dengan negoisasi cukup lama bapaknya anak-anak mau mengantarkan anak sulungku dicek di rumah sakit.

Saat anak sulungku mau masuk SD aku memutuskan tinggal di Jogja, alasannya aku hanya mau ke Jakarta lagi bila hubungan perkawinan yang tidak sehat diperbaiki dengan mengunjungi ke psikolog. Sempat ke psikolog beberapa kali, bapaknya anak-anakku tetep ngotot beranggapan bahwa dia tidak bersalah, selama memberikan nafkah materi tugasnya selesai. Sedangkan menurutku ini hubungan yang aneh, bukan miskomunikasi tapi benar-benar tidak ada komunikasi. Kalo pulang ke rumah, bapaknya anak-anak tidak mau diajak ngobrol alasannya capek. Kalo weekend, juga memilih tidur, aku pergi sendiri dengan anak-anak. Seingatku aku banyak menangis saat di Jakarta. Posisiku sepertinya lebih rendah dari pembantu rumah tangga yang masih diajak ngobrol sedangkan aku dikatain bego gak bisa apa-apa dan gak bisa ngertiin suami.

Sampai sekarang aku tidak pernah merasakan apa itu indahnya cinta dengan suami, makanya aku lebih bahagia bisa ngobrol dengan sahabat-sahabatku tentang kehidupan. Sudah tidak tertarik dengan cinta yang berbau romantis gak jelas, sepertinya di bagian hidupku yang itu aku sudah mati. Tidak masalah buatku, aku saat ini bisa lebih fokus untuk bekerja dan ibadah. Berprasangka baik sajalah, dianggap tidak normal juga tidak apa-apa, aku masih punya cinta, cinta pada hidup. Hatiku bergetar bila melihat Ka'bah, aku pengen sekali kesana. Tadi malam melihat Ka'bah di tivi swasta lokal Jogja aku menangis. Gambaran tentang Nabi Ibrahim 'alaihi sallam mengangkat batu-batuan dibantu Nabi Ismail 'alaihi sallam muncul di benakku.

Saat anakku sulung masuk SD, keterlambatan menulis dan membaca kelihatan jelas, karena disalip kemampuannya oleh adiknya yang masih TK. Tapi begitu dia terpilih menjadi atlit renang, kecerdasannya meningkat drastis. Aku sering mengantarkan berenang, bila dia dilatih bolak-balik sekian kali, aku dan adik-adiknya berenang di kolam renang dangkal. Lulus SD, anak sulungku mendapat NEM terbaik di kelasnya, nilai yang menonjol adalah Matematika, dapat angka 10.

Sekarang ini aku di Jogja saatnya untuk mengurus diri sendiri lagi, belajar mencintai diri sendiri setelah bertahun-tahun terabaikan. Dulu hidupku penuh dengan tangisan. Keajaiban setelah aku belajar mencintai hidup, menyerahkan diri pada Allah, adalah baru sadar aku punya kemampuan bisa nyambung ngobrolnya dengan teman-teman baru yang punya bakat indigo. Alhamdulillah, ngobrolnya seputar masalah spiritual, bukan seperti komunitas marjinal lain yang mengedepankan hawa nafsu.

Walaupun sempat mengalami kejadian gak enak kayak waktu blank abis balik Jogja 2009 sempat diketawain temen-temen yang gaul, dimusuhin, tapi saat ini semua hal aku menganggap itu adalah kebaikan untukku yang diberikan oleh Allah. Aku selalu berusaha husnudzon atau berprasangka baik sajalah. Berpisah dengan bapaknya anak-anakku membuatku bisa belajar mencintai diri sendiri. Bisa lebih fokus untuk mengembangkan diri terutama dalam hal spiritual. Soal bakat clairvoyance, telepati, feeling, intuisi hanyalah efek samping dari peningkatan spiritual. Kemampuan itu toh juga nyambung ngobrolnya dengan pada yang punya bakat juga.

Buatku pribadi sih, hidupku penuh dengan keajaiban. Seperti anakku yang tadinya terlambat bicara, sulit mengontrol emosi, terlambat menulis dan membaca, jadi anak dengan nilai terbaik di kelasnya. Adiknya juga, nilainya cukup menonjol di kelasnya. Tidak punya watak pemberontak ingin melakukan hal aneh-aneh (sejauh ini dari pengamatanku), teman-temannya Alhamdulillah cocoknya dengan yang tipe anak baik-baik.

Aku lebih memilih untuk mensyukuri anugerah Allah telah diberi amanat untuk melahirkan anak-anak yang cerdas. Pernah mengasuh anak ABK (anak berkebutuhan khusus) di tempat kerjaku membuatku semakin mensyukuri dikaruniai anak normal

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan)...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. aku juga mau rutin berenang lagi mbak

    dulu aku rutin berenang sd, seminggu beberapa kali, asmaku pun mereda

    namun sejak itu aku sudah jarang berenang dan milih ngowes/jalan kaki krn murah mbak :D

    ReplyDelete