Monday, April 2, 2012

Malu

Hmmm... sebetulnya aku malu soalnya mulai ada yang konsultasi sama aku. Ada yang kirim e-mail sekali, trus gak lagi. Masalahnya terselesaikan barangkali. Tapi ada juga yang ngajak ngobrol. Beberapa nge-add di Facebook, jadi aku suka ngintip statusnya melihat perkembangan emosi dan yang dirasakan.

Mereka ini mengatakan begini, diperlakukan kurang baik oleh orang yang pernah ada di hati. Rasanya menyakitkan bila yang menyakiti hati kita adalah seseorang yang dulu begitu heboh rayuannya.

Misalnya ada yang bilang padaku, kita berasal dari keluarga yang sama-sama taat beribadah. Terus ibunya lebih suka menantu dari keluarga yang lebih kaya, lalu dia pilih melanjutkan hidup tanpa aku. Ada yang bilang lagi ayahku punya mesjid, keluargamu juga banyak melakukan kegiatan sosial keagamaan. Kenyataannya, pernah waktu aku jalan naik mobil dia bilang bahwa aku hanyalah pembawa sial membuat hidupnya tidak bahagia dan proyek-proyeknya gagal, rasanya aku pengen turun di tengah jalan. Atau yang ngajak rusak juga ada, kamu sekarang lurus, seminggu jalan sama aku sudah pasti rusak deh. Jadi orang rusak enak katanya, duit 5 juta bisa habis dalam semalam untuk dugem, tapi cari uangnya juga gampang banget, tinggal menjilat sana menjilat sini duit turun kalo udah tau rahasianya. Bisa dijadiin novel sendiri, banyak banget soalnya. Cuman gak enak banget, barangkali orangnya baca tulisanku trus jadi musuhin aku. Aku hanya pilih contoh orang-orang yang tidak baca blogku dan blokir facebookku biar aman. Hihihi...

Banyak sekali orang melecehkan status yang pernah menikah lalu berpisah. Kalo udah pisah berkali-kali sudah pasti orangnya gak bener. Aku kan pernah nulis, bahwa orang yang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, sombong atau 'ujub berarti dia sudah mengikuti jalur iblis yang merasa dirinya lebih baik daripada manusia. Itu tahap awal. Lalu diikuti dengan dendam berkepanjangan, kebencian, dan berniat menjerumuskan manusia dalam neraka.

Makanya bila merasa ingin menghina orang lain, lebih baik istighfar lalu lebih baik fokus untuk berbuat baik. Aku banyak melakukan kesalahan itu, bukan mencari pembenaran, soalnya berkaitan dengan penampakan yang ingin menyeretku ke gambaran menyeramkan yang dialami orang-orang yang suka menghinaku. Misalnya, yang ngatain aku dimakan belatung, akhirnya dia yang mengalami hal itu, lebih parah malah. Atau aku mintain maaf tapi tidak mau memaafkan sulit merasakan kebahagiaan karena rahmat Allah tidak sampai padanya. Toh kalo aku dihina atau diputus silaturahmi tetap berusaha bicara baik pada mereka-mereka ini. Masih berusaha...

Manusia bertakwa itu adalah manusia yang selalu merendah, bahwa semuanya hanyalah pemberian Allah. Laa haula wala quwwata illa billah. Tidak ada daya upaya selain daripada Allah semata. Bumi yang penuh dengan kejahatan ini tidak usah disikapi dengan beringas, tenang saja. BBM naik, Insya Allah manusia bertakwa akan dapat rejeki untuk menghadapinya. Asalkan mau tawakkal, selalu berikhtiar lalu menyerahkan semuanya pada Allah.

Semua perlu dibiasakan, bagi yang sudah berusaha bertakwa, mengamalkan ibadah dan belajar Islam itu sangat menyejukkan hati. Sedangkan bagi yang taubat hanya sekedar wacana, belajar Islam apalagi mengamalkan itu berat, sudah pasti ditunda-tunda. Ciri-ciri orang Islam yang beriman, hatinya bergetar bila mendengar ayat-ayat Al Qur'an atau firman Allah. Itu karena hatinya sudah jatuh cinta dengan kesejukan yang dibawa oleh ajaran Islam. Ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian, kasih sayang, walau seberat apapun akan dijalani dengan sepenuh hati. Terserah orang lain bilang apa juga, walau tetap berusaha untuk tidak menyakiti hati orang yang mendzalimi kita, bila perlu mendoakan untuk kebaikan.

Walaupun belum pernah belajar tentang watak manusia, dulu suka iseng baca buku psikologi soalnya kakak kuliah di sana, perjalanan hidupku menemui berbagai karakter manusia yang ajaib-ajaib justru malah tantangan buatku. Tapi akhirnya berakhir yang bisa bersahabat adalah di frekuensi yang sama, pencari ilmu kebenaran tentang Islam. Aku paling cocok dengan pemahaman Islam versi Muhammadiyah. Inget banget sampe nangis-nangis, dan diteruskan berjam-jam sesudahnya waktu nonton film Sang Pencerah. Bahwa kebijaksanaan itu sangat fleksibel sebetulnya, tidak memaksa. Bila ada yang berpendapat yang masuk surga hanya wanita yang pakai cadar, aku tetap berusaha bersikap baik pada mereka walaupun tidak setuju. Tapi biasanya wanita bercadar hanya mau bergaul dengan yang bercadar juga. Itu kan masalah pilihan saja, aku memilih untuk melihat dunia, selama diberi kesempatan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan agar tidak saltum amat. Lagian saat naik haji cadar mesti dilepas, muka mesti kelihatan, karena baju ihrom untuk wanita tidak membolehkan menggunakan cadar dan sarung tangan.

Atau laki-laki yang memakai celana menyentuh tanah itu sombong, aku lebih cenderung beranggapan kesombongan dari hati dan perbuatan, bukan dari baju. Kalo berada di pertemuan pengusaha menggunakan jas mewah masak iya masuk dengan celana congklang. Tapi kebetulan kelompok pengajian yang aku ikuti bukan model yang bapak-bapaknya menggunakan celana congklang. Pengisi pengajiannya memang menggunakan celana di atas tumit, tapi pengunjungnya lebih banyak yang tidak. Soalnya bukan dari kalangan pesantren tapi bapak-bapak pensiunan dosen teman almarhum bapakku.

Setelah banyak mencoba memahami tentang surga, kayaknya aku diracuni cerita tentang Ainul Mardiyah. Kisah seorang pemuda yang bermimpi supaya menemui Ainul Mardiyah. Di mimpinya Ainul Mardiyah sangat cantik, bahkan melebihi cantiknya bidadari surga. Karena waktu itu adalah masa berperang melalui pertempuran, maka pemuda ini bertempur mati-matian KARENA ALLAH. Lalu pemuda ini berlumuran darah, meninggal dengan tersenyum karena akhirnya bisa menemui Ainul Mardiyah yang membuatnya begitu terpesona.

Aku juga bermimpi seperti itu. Walau aku banyak disia-siakan oleh banyak orang, tapi aku masih bisa bermimpi indah. Bermimpi bertemu dengan seseorang yang memancarkan cahaya. Dunia ini seperti tidak ada artinya lagi, maksudnya adalah surga adalah sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan. Sahabatku perempuan pernah bercerita, kenalannya pernah bermimpi menikmati hidangan di surga. Setelah bangun dia tidak ingin lagi makan, karena menurutnya makanan di bumi tidak ada apa-apanya. Wah, masih beruntung aku dong, masih doyan makan, hihihi... Tapi rasanya buatku aku hanya bisa terpesona dengan seseorang yang memancarkan cahaya, dan hanya untukku... duh nulis ini sampe rasanya lemas pengen pingsan...

Apakah memperjuangkan surga itu berarti tidak mengharap ridho Allah, itu suatu pertanyaan. Katanya anak kecil berjuang untuk surga dan menghindari neraka. Lalu remaja berjuang untuk mendapat pahala menghindari dosa. Setelah dewasa berjuang mengharap ridho Allah. Aku rasa semua benar, memperjuangkan surga, mengharapkan pahala, lalu hidup karena mengharap ridho Allah. Do'a yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah memohon pada Allah mendapat kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan dihindarkan dari api neraka. Tentunya semua muslim berharap bisa masuk surga dengan semua kebaikannya. Yang membedakan hanyalah tingkat pemahaman, kemauan untuk belajar dan perjuangan untuk mengamalkan.

Terus terang aku masih malu bila dikatakan sukses menghadapi cobaan berat. Katakan tidak boleh ketemu anakku, sebetulnya aku dulu pernah berpikir, kalo gak punya buntut pasti bebas bergerak ya. Banyak ibu-ibu setelah melahirkan menitipkan anaknya pada babysitter, sibuk jajan di tempat yang enak dengan teman-temannya, shopping cari baju bagus dan berdandan cantik. Suami-suami kaya juga sibuk mencari hal yang menggetarkan adrenalin pacaran lagi dengan wanita cantik. Gak usah suami kaya, yang uangnya pas-pasan kadang juga ngotot bisa begitu.

Hal yang kudapatkan membuat yang lain seperti tidak ada artinya, hidupku sebelum ini membuatku malu. Aku yang tumbuh di keluarga mengajarkan Islam dengan taat ternyata belum memahami Islam sepenuhnya. Pemahaman Islam baru kudapatkan belum lama. Sekarang berusaha menjadi muslim yang lebih baik lagi...

1 comment:

  1. aku jadi iri dgn pemuda yang hendak bertemu "Ainul Mardiyah"

    aku pernah mimpi seperti yg pernah aku beritahu via SMS tapi belum pernah mimpi bertemu "istri" di surga (atau juga mimpi lainnya yg bertema di dalam surga)

    ReplyDelete