Sunday, April 15, 2012

Menenangkan batin

Aku beberapa kali upload lagu ke Youtube. Menurutku bisa menenangkan batin dan melupakan hal-hal yang tadinya ngeselin. Prosesnya panjang, dengerin lagu asli, catat teks, cari chordsnya. Mencoba nyanyiin sampai benar ketukan dan nadanya, serta penjiwaan lagunya. Ditambah belajar keybordnya, sering gagal soalnya mikirin main keyboard suara jadi gak fokus. Kalo nyanyi sambil main keyboard mesti dikuasain main keyboardnya sampai gak pake mikir lagi mainnya.

Kalo di sekolahan sedang memutar kaset pas anak-anak pulang aku jadi ingin nyanyiin. Dulu aku pernah nyoba nyanyiin lagunya Chrisye yang dinyanyikan lagi oleh Hadad Alwi judulnya Damai BersamaMu.

Setauku sih, setauku muslim sejati itu seharusnya jiwanya tenang walau banyak ujian hidup. Kalo memendam amarah karena disakiti hatinya, maka termasuk mendzalimi diri sendiri, kayak kisah Nabi Yunus 'alaihi sallam. Karena memendam amarah, saat berdakwah dilecehkan, memutuskan pergi naik kapal. Kapalnya terkena badai dan pemilik kapal memutuskan menceburkan seorang penumpang ke laut. Yang diceburkan adalah Nabi Yunus 'alaihi sallam.

Walau diceburkan ke laut tapi Nabi Yunus 'alaihi sallam masih hidup karena ditelan ikan besar. Di dalam perut ikan Nabi Yunus 'alaihi sallam berdoa

"Allahumma, la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin" (ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim)

Ada lagu yang pengen aku nyanyikan tapi belum sempat yaitu lagu ciptaan Sunan Bonang yang berjudul Tombo Ati. Tadi aku ngobrol dengan sahabatku, sepakat bahwa para Wali itu melakukan Islamisasi dengan pendekatan tradisi. Suka heran dengan orang-orang yang melakukan dakwah dengan gaya Arabisasi. Soalnya suka nulis dengan mengutip Al Qur'an ada email yang nyebut aku dengan akhwat. Hmmm... soalnya aku orang Jawa lebih nyaman disebut mbak aja deh.

Lagu Tombo Ati tentunya bila benar-benar diamalkan maka bisa menentramkan hati yang sakit, namanya juga obat hati. Tidak mesti semuanya mesti dilakukan, melakukan salah satunya saja dengan sungguh-sungguh sudah bisa membuat batin menjadi lebih tenang dan semoga Allah mengabulkan doa kita.

Keinginanku banyak juga, misalnya ingin segera berangkat haji, tapi mesti bersabar karena waiting list nunggu sampe 2019. Ingin bisa punya usaha sendiri, oke, ini masih merintis dengan beberapa sahabat, semoga dilancarkan Allah. Ingin menyekolahkan anak-anakku di Jogja.

Ada lagi, aku juga berharap salah seorang teman bloggerku yang membuat lirik lagu menyatakan dia dilanda kesedihan dan sesak yang begitu dalam bisa ridho dengan takdir Allah, hatinya bisa sembuh sampai dia bisa ngomong kayak iklan obat sakit kepala "sudah lupa tuh".

Batin yang tenang dan bahagia itu karena rahmat atau kasih sayang Allah bisa sampai serta bisa dirasakan. Rahmat Allah bisa dirasakan bila mudah memaafkan kesalahan orang lain dan selalu menyambung hubungan baik silaturahmi maupun ukhuwah.

Berbeda dengan "bahagia" dalam tanda petik yang karena melanggar ajaran agama, seperti melampiaskan hawa nafsu, itu kesenangan sesaat karena terpengaruh setan. Penyesalan akan dirasakan terutama saat menjelang kematian, di alam kubur, juga di akhirat. Aku sih pilih bahagia dunia akhirat, dengan berusaha selalu bertakwa.

Dengan selalu mengingat Allah, beribadah karena Allah, membantu orang lain karena Allah, mencintai karena Allah bisa membuat batin kita selalu tenang, bahagia baik dunia maupun akhirat...

5 comments:

Hiaku Herry said...

Ayoo di upload lagu tombo atinya.. Gak sabar pengen lihat :)

Ario Antoko said...

bahasa arab sebenarnya bahasa persatuan umat islam loh mbak.. di jaman kejayaan Islam (khilafah Utsmani)

bagi orang-orang Turki belajar bahasa ibu (bahasa Turki) dan belajar bahasa arab itu wajib

sayang sekarang orang islam lebih suka belajar bahasa ibu dan bahasa Inggris

bahasa arab ditinggalkan

Ami said...

@Herry, ini waktunya habis buat banyak hal. Ngajar sampe sore, malem ngantor di tempat lain... sampe rumah capek, langsung bobok. Next time kalo sudah punya waktu luang

Ami said...

@Rio, aku juga pernah belajar bahasa Arab, itu bahasa manusia saat di surga. Tapi menurutku kita kan mesti menyesuaikan diri. Jangan disamaratakan dan tidak perlu merasa sombong bahwa kalo bisa bahasa Arab berarti lebih baik daripada yang tidak bisa.

Kalo mengunjungi orang-orang sederhana di kampung, ya kita mesti bisa menyesuaikan diri. Ngobrol sama bayi ya pake bahasa bayi, ngobrol sama anak-anak ya pake bahasa anak-anak.

Bahasa Arab percakapan juga banyak dialek. Bahasa Al Qur'an lain lagi.

Bukannya terus digebyah uyah (disamaratakan) ngomong pake gaya bahasa Arab, baju model Arab, terus merasa lebih bertakwa.

Kalo bisa bahasa Arab yang ngomongnya sama yang ngerti bahasa Arab juga.

Kalo kita bicara bahasa telepati kamu bisa jelaskan gak coba? Bahasa telepati itu bahasa pemahaman, bisa bahasa semut, bahasa kucing, atau bahasa makhluk alam lain yang dikirimkan lewat pesan. Gak ada aturan pake bahasa apa, yang penting ngerti gitu...

Hiaku Herry said...

oke deh, ditunggu nih :p