In

Perjuangan Kartini adalah mencerdaskan wanita agar sesuai kodratnya (tolak RUU KKG)

Aku bukan kolektor buku yang baik. Aku juga bukan pembaca buku yang baik. Membaca buku tebal hanya aku buka-buka sekilas, baca esensinya yang dicetak tebal, menurutku sudah cukup. Perpustakaan bukuku ada di toko buku Mall yang adem. Tapi bila ada  buku sangat menarik aku akan beli, bikin resensinya di blogku untuk pengingat lalu aku kasihkan ke orang lain.

Baru saja aku klak klik membuka artikel di internet. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada ide RUU KKG. Darimana sebetulnya ide ini. Aku jadi sadar, bahwa Indonesia memang tergila-gila dengan pemikiran barat. Selama ini anggapannya bahwa ide Barat adalah paling jenius. Iya jenius untuk mengikuti ajaran dajjal yang membawa surga padahal memasukkan ke neraka.

Ibu Kartini bukanlah pencetus ide yang mengusung feminisme. Beliau dulu sangat gelisah karena menganggap darah biru hanyalah memasung pemikiran-pemikiran di kepala beliau. Setelah belajar dari Al Qur'an bahasa Jawa, beliau ingin sekali mencerdaskan wanita-wanita Indonesia agar pintar sesuai kodratnya. Bila dalam keadaan memungkinkan dan seijin suami, wanita perlu cerdas untuk menambah uang belanja. Apalagi jaman sekarang biaya pendidikan dan kesehatan sangat mahal.

Dibutuhkan ibu yang cerdas untuk mengelola keluarga. Sudah sepatutnya para pria mencari nafkah, itu sudah kewajiban. Tanggung jawab mendidik anak memang tugas ibu dan bapak, tapi yang paling sering bertemu dengan anak tentunya sang ibu. Jadi ibulah yang berhubungan langsung dengan anak berkaitan pendidikan, gizi, pertumbuhan dan seterusnya.

Aku sebagai pendidik di PAUD Terpadu, merasakan betul, bahwa untuk menjadi pengganti orang tua dengan dititipi mengasuh anak tidak mudah. Ada faktor tumbuh kembang yang mesti dipahami, juga berusaha meningkatkan tidak hanya dari segi intelegensi tapi juga kecerdasan emosi dan spiritual.

Ibu Kartini yang punya kedudukan di kalangan ningrat, dimanfaatkan untuk membuat sekolahan. Duh... aku jadi malu yah, kayak rumahku sekarang ini jadi sekolahan, tapi sekolahku ini idenya bukan dari aku. Paling tidak aku dan Ibu Kartini berada di jalur yang sama tentang pendidikan. Beliau membuat sekolah bagi para wanita. Tapi sekolahku sekarang menerapkan subsidi silang, kalo pagi untuk kalangan menengah atas, kalo sore ada Taman Pengajian Al Qur'an dengan biaya sangat terjangkau.

Di jaman dulu ibu Kartini mendirikan sekolahan tidak mudah, banyak hal yang mesti didobrak pada masa itu. Masa sekarang sudah berubah apa saja yang perlu didobrak. Bukan lagi tentang menyekolahkan kaum putri, tapi kebablasen dengan apa yang disebut dengan feminisme.

Wanita dibuat dari tulang rusuk pria yang bengkok. Punya tugas yang berbeda. Seharusnya para pria adalah menjaga wanita, bila tulang itu dipaksa lurus maka akan patah. Bila tulang bengkok dibiarkan maka akan tetap bengkok. Bukan berarti wanita tidak punya kemampuan meluruskan sendiri tulang itu. Tapi yang berangkat berperang adalah para pria yang mempunyai fisik lebih kuat. Wanita bertugas menjaga anak-anak saat para pria berperang. Di jaman sudah tidak ada peperangan fisik tapi lebih cenderung ke peperangan melawan ideologi barat maka tugas pria ke medan perang mencari nafkah dan melindungi anak istri dari kejahatan ideologi.

Air mataku mengalir satu satu saat menuliskan ini. Bahwa berat atau tidak perjuangan adalah bergantung dari kekuatan iman, bukan dilihat secara kasat mata. Ketenangan, kekuatan semua berasal dari Allah, manusia sebetulnya hanyalah manusia yang lemah tidak punya apa-apa. Laa haula wala quwwata illa billah...

Related Articles

2 comments:

  1. yep kata kuncinya adalah saling menghargai...dari dulu sampai sekarang, ada Kartini atau tidak ada.....saling menghargailah kuncinya...Ibu Kartini hanya salah satu pencetus yang kebetulan lebih populer dibanding tokoh wanodya Nusantara lain.

    ReplyDelete
  2. Setuju juga :D
    Tolak keras RUU KKG

    ReplyDelete