Thursday, April 12, 2012

Time freedom

Aku pernah ikutan seminar MLM tentang mendapatkan MONEY + TIME FREEDOM. Dulu sih ngebayangin kalo punya duit banyak, waktu luang banyak itu membuat kita bahagia. Bayangkan wanita yang hidup di kalangan sosialita, rumah besar, mobil mewah, baju bagus, mirip di sinetron-sinetron itu. Ditambah lagi punya pasangan yang cinta banget padanya. Menurutku itu pemikiran sekuler.

Kebahagiaan sejati para spiritualis versus kebahagiaan para sekuler. Orang sekuler itu suka nyomot kata-kata bijak dari para spiritualis, hanya supaya kelihatan bijak, aslinya hanya ucapan di mulut saja tidak diamalkan.

Pencapaian kebahagiaan para spiritualis dan sekuler berbeda. Bila para spiritualis suka dengan alam, ketenangan, cinta damai, para sekuler ini orang yang berani nyerempet-nyerempet bahaya. Misalnya, walau sudah tau bahaya narkoba tetep nekad nyicipin, untuk merasakan sensasi bahagia, bahagia semu tentu saja. Awalnya nyicipin, belakangan kecanduan sampai taraf yang mengerikan, entahlah aku cuman mendengar dari cerita-cerita ngeliat aja belum pernah.

Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan memuaskan hawa nafsu dengan lawan jenis, bahkan orang yang konon rajin shalat juga banyak yang tergoda. Kok bisa supir truk itu bisa sangat SETIA, setiap tikungan ada? Karena hawa nafsu diumbar begitu saja tidak ada pagarnya. Tipe laki-laki playboy itu, kelebihannya karena punya bakat menggoda wanita, bikin wanita mabuk kepayang dengan rayuannya (apalagi kalo duitnya banyak), dengan mudahnya menaklukkan wanita-wanita untuk diajak begituan, jadi korban nafsu tanpa disadari. Salah satu rekanku guru yang calon psikolog bilang, heran, kok mau-maunya cewek-cewek itu cuman kenalan di facebook bisa sampe dihamilin. Salah siapa sebetulnya, ceweknya apa cowoknya. Ini memang dilema, si cowok bilang abis ceweknya mau aja padahal iseng dan punya pacar lain, sedangkan ceweknya bilang gak bisa pindah ke lain hati.

Money, time freedom tidak berlaku di dunia ini bagi spiritualis. Justru saat hidup di dunia ini sibuk mencari bekal akhirat sebanyak-banyaknya. Kebahagiaan para spiritualis karena rahmat atau kasih sayang Allah sampai padanya. Wajar kalo ababil itu suka galau-galau aja... tapi setelah masuk taraf pendewasaan, konon yang disebut life begins at forty, mulai nampak orang ini akan cenderung ke spiritual atau sekuler. Kata ustadzku, orang bertakwa tidak bisa abu-abu, hanya putih atau tidak. Kadang ada juga keajaiban bertaubat sungguh-sungguh di kepala lima atau seterusnya lalu mendapat hidayah, tapi kepala empat adalah patokan yang nyata. Lebih muda untuk bertaubat lebih baik. Karena bila berdakwah sejak saat usia muda, ilmu yang diberikan pada orang lain akan mengangkat derajatnya saat di akhirat.

Semua orang akan masuk neraka saat di akhirat, ada yang lama ada yang sebentar. Ada yang dirantai tubuhnya ada yang tidak karena keimanan mereka. Setelah proses penebusan dosa bagi semua orang, yang pernah berbuat kebaikan akan diberi kesempatan ke surga. Surga adalah time freedom sejati, hanya para spiritualis yang berjuang sungguh-sungguh untuk mencapai ke sana. Soal surga hanyalah ridho Allah, hanya orang yang sanggup selama hidupnya berjuang untuk mencari sebanyak-banyaknya bekal akhirat agar Allah ridho, akan mendapat tempat terbaik di sisi Allah saat di akhirat nanti.

Jadi sebetulnya dunia adalah tempat bekerja keras untuk mencari bekal akhirat, walau dilecehkan para sekuler, diiming-imingi kebahagiaan dunia, tetap tidak akan menggoyahkan. Kebahagiaan bukan dari materi tapi di dalam batin.

Kenapa sibuk untuk mewujudkan money, time freedom di dunia fana? Buatku pribadi mending sibuk mewujudkan time freedom di akhirat, termasuk mendapat pasangan sejati. Karena dunia memang sudah terlalu banyak keserakahan, kebohongan, kejahatan, penipuan. Dan spiritualis akan berusaha semampunya menghindari itu dimulai dari keluarga lalu lingkungannya. Semampunya sajalah. Bila memang penghasilannya besar, punya perusahaan, termasuk usaha mensejahterakan karyawan. Sedangkan untuk skala pemimpin, sampai pemimpin negara, pertanggung jawabannya luar biasa. Rakyat yang memberinya amanah bila banyak tidak disejahterakan, uang diselewengkan, apa jadinya di akhirat nanti.

Rasanya aku sendiri belum cukup banyak membantu orang lain, tentunya semampu kita saja tidak usah membayangkan berlebihan sampai di awang-awang. Aku lebih suka membantu sahabat-sahabat dekatku saja yang sangat membutuhkan, emang mampunya segitu. Sahabat kadang bisa lebih dekat daripada keluarga karena keturunan, karena proses persamaan pemikiran yang membuat kita bisa sangat percaya pada sahabat. Sedangkan pada saudara sendiri proses pemahaman hidup bisa berbeda-beda. Lagian di usia matang orang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri sudah malas mendengarkan masalah orang lain. Berbeda dengan para spiritualis, masalah orang lain adalah tantangan yang untuk dipecahkan, walaupun tetap ada batasan-batasan tertentu. Bantuan hanya pada orang yang mau dibantu. Bekal akhirat dengan semua petunjuk dari Allah untuk mendapatkan time freedom di akhirat dengan banyak membantu orang lain memang perlu diseleksi.

Seminar tentang time freedom? Cari untuk saat di akhirat sajalah...

2 comments:

aryadevi said...

mencari akhirat...sesungguhnya akan terdapat dunia..dengan kata lain mencari akhirat maka dunia pun didapat...

Abdul said...

Mbak Ami ini Abdul...
DI paragraf terakhir saya setuju banget,,sahabat bisa lebih dekat...bahkan jauh lebih dekat dari keluarga sendiri.
Apalagi kyk saya sekarang..Sahabat kini jauh ngerasa lebih dekat mbak...

MBak gimana kapan maen ke Jakarta???

Mampir ke gubuk saya mbak..Wanna surf again in blogosphere