In

Kisah pencarian spiritualku

Waktu SD aku pernah ikut pesantren kilat, SMP juga. Lalu kehidupan berlangsung begitu apa adanya, aku sendiri banyak lupa saat SD dan SMP. Tapi diingatkan lagi dengan banyak foto-fotoku yang disimpan ibuku dan teman-temanku. Kata teman-temanku aku orang yang populer. Maluuuu banget aku kalo aku reuni lupa dengan orang-orang, sementara mereka mengenalku sambil mengatakan "siapa sih gak kenal Ami... beberapa kali jadi dirijen saat upacara bendera, mungil imut-imut" (kata mereka loooh).

SMA adalah saat-saat kekosongan jiwaku. Aku tertarik dengan seseorang tapi dia di luar pulau. Kadang suka uring-uringan sendiri. Aku sering mengikuti acara kejuaraan softball biarpun cuman nonton walau di luar kota berharap menemuinya. Sebetulnya sih, dia aku kirimin surat dan membalas suratku. Tapi kegalauanku yang over dosis membuatku hidup rasanya hampa. Banyak kegiatan yang aku lakukan, tapi entahlah ada seperti kekosongan dalam hidupku.

Belajar SMA asal-asalan, aku sudah sering membayangkan bahwa aku akan menikah dengan orang yang kecukupan secara finansial lalu aku akan ngurus anak total. Waktu kuliah juga belajarnya asal-asalan, lebih suka nongkrong di gelanggang mahasiswa UGM, apakah itu latihan paduan suara atau sekedar nongkrong saja. Selain itu juga latihan softball di lapangan UGM. Beberapa kali mengenal laki-laki, mencoba jalan tapi tidak ada rasanya.

Saat aku KKN dapat surat cowok yang pernah begitu mendalam di hatiku menikah. Yah sudahlah, sesudah wisuda aku menikah dengan seseorang. Prosesnya begitu singkat, tidak begitu mengenal. Sampai akhirnya aku melahirkan 3 anak. Kubesarkan mereka dengan penuh idealisme seperti yang aku baca di buku-buku. Karena sesuatu hal akhirnya aku berpisah. Anak-anak di Jogja bersamaku, dan aku hidup seperti robot berjalan. Aku punya mobil sendiri, tunjangan dari mantan, dan kebutuhan sehari-harinya dicukupi orang tuaku. Tapi aku tidak bisa menikmati hidup, aku sudah taraf depresi.

Aku sempet pindah ke Bogor. Aku menikah lagi. Bukan sesuatu yang mudah diceritakan, bercerai, menikah, bercerai lagi. Tapi tidak bisa dipungkiri di sana aku belajar tafsir Al Qur'an. Aku balik ke Jogja Juni 2009 karena aku sakit mental dan fisik. Anak-anakku yang 3 dibawa ke Jakarta saat aku di Bogor.

Tahun 2008 saat di Bogor dengan aku melongo bertanya pada ustad "ridho itu apa". Sama sekali belum paham dengan arti ridho. Begitu aku balik ke Jogja, banyak keajaiban (menurutku pribadi sih) yang terjadi. Aku aktif di Facebook. Soalnya aku banyak nulis status ayat dan hadits ada beberapa temanku risih nasehatin aku, kalo mau gaul mending statusnya bercanda aja gak usah sok alim. Kejadian aku diblokir sederetan teman, yang membuatku jadi ngeblog pilih di blogspot. Tadinya aku banyak menulis di notes Facebook. Judul blog pertamaku Mengharap Ridho Allah Semata. Lalu tiba-tiba keponakanku pindah ke Jogja rumahku dipasangi wi fi. Tiba-tiba kakakku nawarin laptop Macbooknya yang sempat dikira rusak terus nyala lagi. Dan aneh, soalnya sesaat setelah Merapi sudah reda meletusnya akhirnya Macbook itu mati total. Saat Merapi meletus dan aku terkurung di rumah sibuk ngeblog. Aku sudah bekerja saat itu, di usaha keluarga sebagai guru PAUD. waktu Merapi meletus sekolah diliburkan 2 minggu.

Selama 2 minggu saat Merapi meletus aku banyak menulis ayat Al Qur'an dan tafsirnya di blogku. Aku juga belajar Islam dari guru privat wanita. Resmilah aku menjadi seorang blogger, aku sempat chatting dengan beberapa blogger yang sudah lama ngeblog dan dikasih saran ini itu berkaitan dengan template.

Beberapa kali kehilangan teman blogger yang tadinya akrab karena aku keliru menafsirkan mimpi, aku sampai marah-marah dan menuliskan uneg-unegku tentang mereka. Tapi toh ketemu lagi yang baru, yang support sepenuhnya dengan kegiatanku ngeblog. Semua perjalananku ngeblog, termasuk diteror di blog, dijauhin, diomongin di wall Facebook, diblokir oleh sesama blogger, justru tambah membuatku semangat untuk menulis. Aku menuliiiiis terus. Kalo salah aku hapus atau revisi.

Selain teman blogger juga bertemu dengan komunitas yang unik. Aku bergabung tapi hanya sebagai silent reader saja di komunitas ini. Bersahabat baik dengan admin komunitas ini dan dia banyak sekali kasih saran untuk tulisanku. Aku selalu berusaha memperbaiki caraku menulis. Soalnya kejadian paling gak enak sekalipun, diteror, dihina, difitnah, dilecehkan, dimanfaatkan, diblokir, semua ada hikmahnya.

Ingin menjadi manusia yang taat beragama dan berjiwa besar. Tidak hanya sekedar rajin shalat, puasa, sedekah, justru paling sulit adalah berhadapan dengan sesama manusia. Mudah tersentuh dengan masalah orang lain, selalu jujur dapat dipercaya, selalu memaafkan orang lain, tidak segan-segan meminta maaf biarpun orang lain yang keliru, ringan tangan membantu orang lain, bersikap sabar dengan bisa sabar menahan diri tidak meluapkan amarah, itu antara lain sifat orang yang berjiwa besar.

Saat ini aku sendirian (ada ibuku dan keponakanku sih) dalam arti jauh dari anak-anakku, yang sulung sudah remaja. Merekalah buah hatiku, yang membuatku tetap ingin bertahan hidup melihat mereka dewasa. Semoga bisa menjadi contoh bagaimana seorang manusia yang berusaha menjadi terbaik di hadapan Allah. Tetap berjuang untuk mandiri, menyibukkan diri dengan usaha online disamping ngeblog.

Ngeblog kujadikan tempat semua curahan hatiku, sampe iseng main keyboard dan nyanyi kutampilkan di blogku. Juga catatan-catatan selama aku belajar Islam. Kata temen-temen blogger yang lain, waaaah... cukup produktif yah. Kalo cuman curhat sih semua orang bisa nulis, kan tiap hari banyak kejutan dalam hidup.

Sangat bersyukur Allah memberiku kesempatan kesekian kalinya untuk hidup lagi. Sempat merasa jiwaku mati, hidup sebentar karena mendampingi anak-anak, mati lagi, hidup lagi, dan sekarang semakin merasa lebih hidup dari sebelumnya. Setiap detik sangat berharga untuk diambil hikmahnya...

Related Articles

3 comments:

  1. sukses terus ya, tetep semangat menjalani hidup ini. :)

    ReplyDelete
  2. perjalanan spritual yang panjang mbak..
    semoga allah membimbing kita selalu di jalannya :)

    ReplyDelete