Saturday, June 9, 2012

Memahami sejarah

Malam ini karena sedang suntuk dengan usaha online, bacaanku tertuju pada kisah Wali. Ternyata banyak berbagai versi tentang cerita Wali, aku sendiri memilih tidak memihak, karena semua versi berbeda tergantung penulisannya.

Selalu ada tokoh yang kontroversial, baik di jaman sekarang atau di jaman dahulu. Di jaman sekarang orang dengan pemahaman Islam yang dalam tapi ternyata memilih menafsirkan secara dinamis. Maksud dinamis adalah, misalnya Islam Liberal yang anggotanya cendekiawan muslim yang katanya paham Islam, saking humanisnya kaum marginal kayak lesbian dan homo dibela.

Aku pernah tersesat di blog homo, kesan yang kutangkap eksibisionis dimana-mana. Hubungan seksual diumbar sudah seperti makanan aja. Karena mereka tidak akan disahkan tali perkawinan yang sah dan beranggapan, kalo memang doyannya sesama laki-laki kenapa mesti memaksakan diri berubah, mirip lagunya Lady Gaga "Born this way".

Tokoh kontroversial di jaman Wali Songo adalah Syeh Siti Jenar. Ada cerita bahwa dia adalah cacing yang diubah oleh Sunan Bonang menjadi manusia, ada crita lain yang menyatakan dia dikutuk jadi cacing lalu dirubah lagi menjadi manusia. Tapi seorang penulis menyatakan, cerita lama salah semua, karena banyak penulis yang menuliskan riwayatnya dengan tujuan tertentu.

Tadinya aku hanya ingin melihat gambar Sunan Kalijaga saja di image.google. Beliau seorang dengan spiritual tinggi, jenius dalam menyebarkan dakwah, tidak punya jenggot malah berkumis tebal. Sediiiih aku dengan pendapat yang menyatakan memotong jenggot itu hukumnya haram. Ya sudah, bagi yang ingin berjenggot panjang, silakan menikmati jenggotnya. Aku memilih untuk berpendapat memotong jenggot hukumnya tidak haram.

Kalo aku kepikiran dengan sosok berjenggot, aku sedang kebayang-bayang dengan sosok bernama Ettawa. Aku merasa berhutang budi karena nyeri lututku banyak berkurang semenjak mengkonsumsi susu dari Ettawa. Aku ingin mengkonsumsi, menggunakan produk dari Ettawa, termasuk untuk sabun mandinya. Aku ingin menyebarkan manfaat dan khasiat di blog, syukur-syukur ada yang mau pesen dan beli aku akan fasilitasi.

Banyak kepentingan dalam penyampaian sejarah, mereka yang menulis sejarah pengIslaman di pulau Jawa bisa berbagai versi. Yang memprihatinkan tersesat masuk blog yang mengajarkan untuk bertemu dengan Sunan Kalijaga dengan shalat di pinggir sungai mengucap kalimat ini sekian ribu kali lalu berendam di sungai. Yakin yang ditemui adalah roh Sunan Kalijaga bukannya jin penunggu sungai... oalah.

Pencarian ilmu bisa tipis antara ikhlas dan riya', tauhid dan syirik. Misalnya aku belajar membaca Al Qur'an, niatku apa, ingin disebut pandai atau karena Allah. Andai aku merasa bangga karena disebut pandai bisa jadi niatku adalah riya'. Orang berilmu agama yang tinggi tidak akan pernah mengatakan dirinya pandai, karena semua berasal dari Allah, laa haula wa la quwwata illa billah.

Antara tauhid dan syirik juga sangat tipis. Pencarian menemukan Tuhan bisa saja kena intervensi pihak asing yang tidak bertanggung jawab. Ketenangan dan kesaktian yang konon disebut ilmu laduni, suatu kemampuan mnguasai sesuatu tanpa belajar yang berat, mesti hati-hati cara mendapatkannya bagaimana. Siap gak ilmu ini sewaktu-waktu diambil atau hilang?

Aku bukan ahli sejarah, nilai sejarahku sangat jelek waktu SMA karena hapalanku lemah. Aku tidak tertarik sejarah, hanya sedang mencoba mengenal sosok Sunan Kalijaga berkumis tebal tanpa berjenggot dan konon beliau kekasih Allah sehingga mendapat karomah. Tiang dari tatal (pecahan kayu) di masjid Demak disamakan semua bentuknya supaya tidak dikultuskan. Begitu mudahnya masyarakat Jawa yang mengaku Islam menyembah atau minta sesuatu pada seseorang yang dianggap suci, spiritual tinggi, kekasih Allah. Justru orang yang dikasihi Allah adalah yang menyembah Allah secara ikhlas bukan menyembah makhluk Allah.

Pendapatku dari berbagai sejarah pengIslaman yang simpang siur, kembalikan pada Al Qur'an dan hadits. Dan butuh pemahaman untuk mengerti. Biarlah orang merasa nyaman dengan komunitas yang dipilihnya. Tapi seorang kekasih Allah tidak akan mengkafirkan non golongannya, tidak akan berbicara kasar pada musuhnya, walau berilmu tetap merendahkan diri. Seperti halnya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seorang mukmin akan penuh dengan cinta pada semua ciptaan Allah. Bila ridho dan cinta Allah sudah diraih, hidup akan dimudahkan semuanya... Insya Allah...

4 comments:

MUXLIMO said...

haduh..! serem amat pengalaman si Mbak ni sampai kesasar ke blog homo ama ke blog yang ngajarin ritual supaya ketemu jin..eh.. rohnya Sunan Kalijaga.

Bener banget, Mbak.. antara tauhid dan syirik itu setipis kulit bawang..tapi bedanya bagaikan langit dan bumi.. gitu juga antara riya dan ikhlas.. kadang tampak sumir..setipis rambut dibelah tujuh, tapi bedanya bagaikan siang dan malam.

Semoga Allah senantiasa menyelamatkan dan melindungi kita dari kezaliman diri sendiri. Aamiin.

*btw, motong jenggot haram? prasaan belom pernah denger dalilnya ya, Mbak. :D sukses dengan bisnisnya, Mbak Ami. :)

Ratnawati Utami said...

@Muxlimo, ma kasih atas do'anya.

Jadi seorang mukmin sudah tidak mempunyai kebencian dalam hatinya, penuh dengan cinta pada sesama, terutama ditujukan pada pasangan, keluarga dan istrinya.

Berjihad adalah mencari harta halal bukan dengan menzalimi dirinya sendiri dengan bunuh diri konyol membawa bom.

Soal jenggot, itu adalah jaman perang karena bajunya sama muslim dan kafir dibedakan dengan jenggot.

jaman sekarang di Indonesia yang mestinya damai malah ribut antara yang berjenggot beranggapan lebih baik dari yang tidak berjenggot, seharusnya saling toleransi.

baik berjenggot atau tidak selama hatinya baik berusaha mendamaikan orang lain, tidak mengajak permusuhan, tidak ada kebencian di hatinya, berusaha menjalin persahabatan dengan sesama mukmin, bertoleransi pada non komunitasnya (toleransi pada non muslim tapi pada sesama muslim malah bentrok sendiri masalah pemahaman yang berbeda), bersikap selalu sabar, fathanah, tabligh, siddiq, amanah, dan seterusnya... itulah yang disayang Allah...

Ibnul Fatih said...

Saya setuju sekali dengan postingan dan komen2 di atas. Memang benar dalam mempelajari Islam itu harus kembali kepada akarnya, bukan kepada akar sejarah.
Wali ALLOH itu diberikan banyak kelebihan dan bukan dengan mempelajarinya. Sebagai contoh tadi sholat di sungai, baca ini itu. hadeuh.. apakah itu dicontohkan Rosululloh..???
Kembali kepada cerita Wali Songo, kisah yang ada pada masa kini selalu diiringi dengan kultural hindu masa lalu, sehingga cerita nya mirip dengan dongeng sebelum tidur..^_^ Padahal masa itu belum tentu sama dengan yang diceritakan..
Saudaraku semua, pelajari islam itu kembali kepada Siroh Nabawiyah, bagaimana islam itu hadir, bagaimana islam itu berkembang??? Dan semua ulama sepakat mengenai sejarah tersebut.
Akan tetapi bilamana kita berkaca pada siroh wali songo, terjadi banyak perbedaan cerita dan kisah. Bila kita ingin belajar islam, kembalilah kepada Quran dan Sunnah, namun bila kita hanya ingin belajar sejarah, silahkan baca semua buku sejarah ^_^
Mohon maaf sedalam-dalamnya bagi yang kurang sependapat dengan saya..^_^ Kebenaran berasal dari ROBB mu.. ROBB seluruh alam.. ALLOH 'Azza wa Jalla..

Budid said...

Menyimak