Friday, July 20, 2012

Aku bukan anak gaul

Barusan aku kontak temenku di YM, profesinya sebagai hipnoterapis. Dulu aku nanya gini

"Apa sih yang kamu kerjain"

"Aku cuman mendengarkan saja" jawabnya

"Mosok dengerin saja sudah bisa selesaikan masalah?" tanyaku lagi.

"Tugasku mensupport agar orang lain bisa memunculkan potensi besar dalam dirinya"

"Terus terang aku mikirin anak kembarku, aku gak boleh ketemu mereka oleh ayahnya, didukung keluarga besarnya"

"Berpikirlah positif, ada saatnya nanti kamu bisa ketemu anak kembarmu lagi"

"Belum lagi aku pergi dari sana, uang peninggalan almarhum Bapakku aku pake untuk merenovasi rumahnya, itu juga bukan rumahnya, rumah kakaknya yang dipinjamkan ke dia untuk direnovasi. Keluarga besar yang gak tau diri banget"

"Nanti akan diganti uangnya, anakmu akan kembali. Semua harapan bisa terkabul"

"Aku juga diremehkan teman-temanku, dalam kondisi susah, malah dianggap manusia gagal".

"Biarkan saja mereka. Mereka itu tidak punya hati".

Masih panjang obrolannya, aku keluarkan uneg-unegku yang jarang orang lain mau dengerin. Menurutku orang lain itu maunya dengerin yang enak-enak. Makan enak, jalan-jalan, pamer keluarganya yang bahagia.

Dan dilecehkan orang terus saja berlanjut. Dulu pertengahan 2009 aku banyak menangis. Bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) membuatku tidak tahan melihat anak-anak. Kadang aku melihat anak kembarku berlarian main-main sambil tertawa-tawa. Sering gak fokus pada kerjaan dan malah mataku berkaca-kaca.

Kata orang aku tidak boleh cerita tentang aib. Apa ini aib. Bahwa aku memutuskan menikah dengan orang yang mengaku paham Islam dan akan mengajariku tentang Islam itu apa. Tapi berakhir dengan diambilnya anak-anakku dan aku tidak boleh bertemu dengan mereka. Keluarga suatu kota di Jawa Barat yang mengaku taat beragama.

Saat aku cerita ke ibunya bahwa di hapeku ada kalimat jahat "kamu pantas disiram air aki supaya menderita" atau "aku berhak memenggal lehermu" malah dikomentari santai "itu hanya emosi sesaat". Malah mereka memutus akses untuk anakku termasuk saat aku mengirim mereka sepasang hape Nokia. Entah apa yang mereka pikirkan, aku mencoba mengingatkan bahwa salah satu keluarga mereka belajar Islam dari guru yang salah malah sampai kesurupan, takut ke masjid, setiap Jum'at siang bukannya Jum'atan malah nongkrong di dapur rumah.

Kasus yang rumit, keluargaku tidak tau mesti gimana untuk menghadapi keluarga yang mengasuh anak-anakku itu. Ancaman teror berkali-kali lewat SMS sudah membuat keluargaku bergidik dan menyuruhku untuk menjauh dari ayah anak-anakku dan keluarga besarnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk belajar Islam lebih mendalam lagi. Banyak hal yang menyakitkan tentu saja. Dijauhi oleh temenku yang gaul, yang banyak bercanda dan ketawa-ketawa itu. Dianggap aneh.

Tiba-tiba aku jadi suka nulis. Dan kisahku membuat beberapa orang kirim e-mail "mbak kok kuat ya menghadapi kejadian seperti itu". Ada yang di Surabaya, Jakarta, Padang, yah, masih dihitung dengan jari sih. Kebanyakan kirim e-mail sekali setelah dijawab gak dibalas lagi.

Guru tempat aku belajar Islam di Jogja mengatakan "Minta pada Allah karena tidak akan membuat kecewa. Berharap dari manusia akan membuat kecewa". Memang sih, tidak langsung aku bisa ketemu anak-anakku karena aku memutuskan ingin belajar tentang tentang Islam, sesuatu yang tadinya aku pikir hanya urusan orang yang belajar di pesantren. Ternyata baru aku pahami masalah kehidupan di dunia ini terpecahkan dengan menjalankan ajaran Islam dengan benar.

Jadi aku ngapain aja. Latihan softball, sepedaan kemana-mana, beli baju yang aku sukai, main keyboard, nyanyi diupload di youtube, jalan-jalan dengan teman-teman di klub softball keluar kota. Eh... belakangan jadi suka kopdar dengan teman-teman blogger.

Diteror, difitnah, dilecehkan, dimusuhi, dikhianati, semua sudah aku rasakan. Aku sekarang beranggapan begini... kehidupan di dunia itu hanya batu loncatan sebelum ke akhirat. Perlunya berhati-hati melakukan apapun agar saat di akhirat tidak terpeleset terlalu jauh kedalam jurang neraka. Tapi lakukan semua di dunia ini dengan hati damai, berserah diri, banyak bersyukur, memaafkan orang lain, dan kecintaan untuk melaksanakan ibadah baik saat lapang atau sempit. Bukannya berdoa pada Allah hanya saat butuh saja, atau saat sedih. Kebanyakan manusia sibuk bersenang-senang saat hidupnya kecukupan dan baru berdo'a saat susah. Manusia diciptakan semestinya adalah untuk membantu orang lain, semampunya tentu saja. Bukan sibuk berpesta dan merasa bangga bila menjadi kelompok sosialita, makan enak, dan punya baju bagus.

Yang aneh lagi dengan istilah munafik. Orang yang berusaha jadi baik malah dikatain munafik, misalnya begini "Dasar kamu munafik, sebetulnya kamu pengen tapi malah sok alim". Justru pengen tapi bisa menahan diri itu mencontoh Nabi Yusuf 'alaihi sallam waktu digoda oleh wanita cantik ditarik bajunya sampai sobek di belakang. Nabi Yusuf  'alaihi sallam menolak ajakan bermesraan karena ingat pada Allah SWT. Sebetulnya ciri-ciri orang munafik adalah bila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, bila diberi amanah berkhianat. Jadi para suami yang seharusnya mendapat amanat untuk menjadi imam anak dan istrinya bila malah selingkuh atau  berbuat zalim dialah seorang munafik.

Banyak hal yang masih bisa aku lakukan selain jadi anak gaul yang suka berpesta-pesta. Mereka pikir yang suka pesta levelnya di atas level pekerja kelas bawah, ah kata siapa. Menurut Allah, orang yang mulia adalah yang mau membantu kesulitan orang lain. Dengan membantu kesulitan orang lain maka kesulitan hidupnya di dunia dan akhirat akan dibantu oleh Allah.

Semoga kita selalu mendapat kebaikan dunia dan akhirat...

4 comments:

Tebak Ini Siapa said...

Mbak yang sabar ya... pukpuk.
Selamat puasa juga :D

Ratnawati Utami said...

@Una, salam pukpuk sayang juga ya

Mr. Andry said...

sabar mbak, semua cobaan pasti ada hikmahnya..

BlogS of Hariyanto said...

janji ALLAH adalah pasti...dibalik kesusahan kan ada kebahagiaan..insya ALLAH :)