Aku belajar untuk berjiwa besar bukan dari buku-buku terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Misalnya THINK BIG, DON'T SAY YES IF...

Belajar untuk berjiwa besar

3 Comments
Aku belajar untuk berjiwa besar bukan dari buku-buku terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Misalnya THINK BIG, DON'T SAY YES IF YOU WANT TO SAY NO, dan semacamnya itulah. Malah kemarin aku sempet baca resensi buku yang menyatakan manusia gak butuh refreshing, kalo mau memotivasi diri maka energi akan teru

Aku belajar semuanya hanya dengan selalu mengingat kisah Nabi. Lalu belakangan kisah Wali. Dari mereka semua aku belajar meneladani tentang sikap mereka yang istiqomah dan berjiwa besar. Padahal mereka semua laki-laki yakssss...

Bayangkan saja, Nabi itu hampir tidak pernah berbohong. Nabi Ibrahim 'alaihi sallam berbohong hanya saat mengatakan beliau sakit sehingga punya waktu untuk memenggal berhala. Lalu berbohong lagi mengatakan yang memenggal berhala kecil adalah patung paling besar. Kebohongan ketiga saat istrinya mesti ketemu raja lalim, dan demi keselamatan mengaku bukan suami hanyalah saudaranya.

Sementara jaman sekarang berbohong dengan mudah dilakukan tanpa rasa bersalah. Berkhianat juga banyak tanpa merasa bersalah. Masak pengadaan Al Qur'an saja tega korupsi. Jaman sudah edan tapi gak mau ikutan edan.

Pagi ini di Jakarta aku baca novel keponakanku tentang anak abg cewek jenius yang belajar untuk jadi mata-mata. Digambarkan bahwa mata-mata itu mesti jenius bisa menyelamatkan dunia dengan memetikan bom... Ahhh James Bond banget. Orang barat adalah penyelamat dan orang timur tengah adalah teroris. Aku suka banget nonton film tapi suka sebel kalo ada skenario orang barat adalah pahlawan dan orang timteng teroris.

Menjelang tujuhbelas Agustus ini, yang tiga hari sesudahnya lebaran banyak tulisan berbau cinta Indonesia dengan segala nilai budaya. Ada sedikit pikiran mengganjal tentang istilah Arabisasi. Apa iya orang yang istiqomah mesti berbaju gaya Arab, menghindari tontonan tarian tradisional dan cuman milih musik gambus.

Menuruku itu pilihan hidup, tapi aku tidak setuju kalo istiqomah harus dengan berbaju gaya Arab, kecuali mereka memang keturunan Arab dan nyaman dengan model begitu. Tapi kalo ada yang bilang yang berhak masuk surga hanya yang pake baju gaya jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam persis pleg kok aku kurang setuju.

Bagaimana dengan para Wali yang mengIslamkan pulau Jawa, merubah secara pelan-pelan kebiasaan masyarakat Jawa yang tadinya suka banget dengan mistik. Sebetulnya sih sampe sekarang cuman lebih tersamar rapi.

Itu pilihan hidup tapi sebaiknya tidak beranggapan bahwa surga hanya bisa diraih oleh manusia yang saking pengen istiqomah mengucilkan diri tidak mau tercemar oleh dunia yang menurutnya rusak. Yang bersosialisasi sewajarnya, punya sopan santun sesuai adat budaya menurutku juga berhak masuk surga.

Manusia yang meninggal khusnul khotimah bisa dilihat dari ciri-cirinya meninggal dengan sangat tenang. Dan seingatku walau menggunakan baju sopan versi Indonesia banyak yang saat meninggal dunia punya ciri-ciri meninggal dunia dengan khusnul khotimah. Di surat Al Hujurat ayat 13 Allah berfirman manusia diciptakan berbangsa-bangsa. Allah tidak suka dengan sesuatu yang berlebih-lebihan.

Orang jujur itu gak akan takut kebuka latar belakangnya. Toh memang tidak suka bohong. Tapi kalo kasus difitnah lain lagi. Biarlah Allah yang membalas semua, tidak hanya di akhirat loh, di dunia juga.

Dan bila ditanya apa jalan hidupku yang cukup unik mau dijadiin novel, ah enggak tertarik ah. Banyak hal yang sulit diceritakan malah bisa jadi salah persepsi. Yah, salah satunya ada blogger sampe tega ngatain aku dukun.
Orang rajin berolahraga juga berjiwa sportif, mau menerima kekalahab, tetap bersahabat walau saat pertandingan sempet ledek-ledekan. Aku lebih suka belajar berjiwa besar dengan berolahraga tidak hanya dengan baca buku tok. Pengagum para atlit yang punya pemikiran dalam tentang hidup dan diamalkan gak cuman teori doang.

Semoga bisa terus belajar untuk berjiwa besar dan mengamalkan deh... Gitu aja, cukup sekian dari uneg-unegku saat ini...


3 comments:

  1. Setuju bgt mba..
    mungkin kita harus pandai menempatkan sesuatu itu pada tempatnya..
    Aneh juga kan kalo orang Islam Indonesia pake baju arabic gitu :3

    ReplyDelete
  2. Menurutku mbak adalah wanita yg asyik....

    ReplyDelete