Kapan nikah? (Jangan tanyakan itu saat lebaran)

Wednesday, August 22, 2012

Di detik.com ada artikel jangan tanyakan kapan nikah. Wew, itu masih mending. Coba kalo ada yang tanya ke aku, anak-anakmu di mana. Mencoba menjawab dengan kalem, oh besok mereka dateng kok ke Jogja.

Sulit untuk menggambarkan perasaan, melihat keluarga lain berkumpul dengan anak dan pasangannya. Dan aku sendirian. Anak-anakku sekolah di luar kota. Kenapa... ceritanya terlalu panjang dan ada di postingan jauh sebelum ini.

Tapi di Indonesia ini memang aneh. Hidup itu selalu ditanya terus. Kalo masih sekolah ditanya kapan lulus. Nanti udah lulus ditanya kerja dimana. Abis kerja ditanya kapan nikah. Abis nikah ditanya kapan punya anak. Abis punya anak ditanya kapan punya adik. Kenapa gak ditanya kapan mati gitu...

Kok kayaknya hidup kayak robot aja. Sekolah, kerja, nikah, punya anak, mati. Dan aku boleh dibilang melawan arus. Kalo ditanya kok hidup sendiri. Jawabku, aku diberi kesempatan Allah untuk belajar tentang hidup. Ditanya lagi, apa gak kangen sama anak-anakmu. Jawabku, kangen sih, tapi kalo belum waktunya ketemu terus gimana, aku pernah sakit, pernah depresi sehingga dulu aku tidak maksimal mengurus mereka. Kalo ditanya lagi, pengen menikah enggak. Tadinya bilang enggak ah, males. Perasaan nikah gak ada enak-enaknya. Nah lhoooo... itu sebelum ketemu seseorang. Bikin kebingungan kayak ababil galau. Tanya sana-sini sambil cerita duh nalarku gak jalan.

Diskusi dengan temenku soal cinta. Jatuh cinta itu hormon yang bisa bikin awet muda. Dijodohkan bisa aja asal punya kemauan kuat untuk menjalin hubungan yang sehat. Tapi kalo jatuh cinta sebelum nikah lalu dilanjutkan ke pernikahan, tentunya berusaha menjalin hubungan yang sehat juga.

Diskusi dengan temenku yang lain. Cinta karena wajah itu nafsu. Cinta karena kagum itu semu. Cinta karena kasihan itu capek deh (sedikit ngarang akunya udah agak lupa). Trus cinta beneran itu karena tidak tau kenapa bisa jatuh cinta.

Membaca situs tentang cinta sejati. Cinta karena syarat, aku cinta padamu kalo dibeliin baju, atau kalo mau tidur sama aku itu termasuk cinta nafsu, dangkal. Cinta karena ganteng, pintar atau kagum tidak akan bertahan lama seiring lunturnya penampilan dan kemampuan. Tapi cinta sejati dan selalu dipupuk itu karena suka dan duka, tetap bertahan di tengah badai kehidupan. Butuh kedewasaan dan cinta yang mendalam dari dua pihak.

Tapi guyonan aku dan seorang temenku cewek, wah kalo ada yang jenius rasanya pengen punya anak dari dia yah.... Eh, gak taunya seorang temen cowok yang pintar membuat puisi yang bikin cewek terkagum-kagum sempet cerita,  kok ya ada yang menawarkan diri diperkosa atau pengen punya anak dari aku ya... Ah kegilaan sesaat... Alhamdulillah masih waras. Tapi di luar negeri memang ada wanita tidak mau menikah dan memutuskan punya anak dari sperma beku tentunya memilih bapak yang punya kecerdasan di atas rata-rata.

Ternyata laki-laki berjiwa besar memang masih ada walau langka. Yang mau terima apa adanya tidak melihat ke belakang. Yang selalu optimis dan semua kejadian disikapi dengan positif. Dan otaknya dipenuhi dengan keinginan membantu orang lain, sampai lupa dengan bokep gak jelas. Kebanyakan ilmu tentang kehidupan atau ilmu agama memang belum cukup, mesti mempunyai hati yang lembut, mudah tersentuh dengan masalah orang lain dan siap membantu bila mampu. Tetap optimis, tenang, dan positif. Uh, rasanya laki-laki model gini pengen aku laminating dan jadiin gantungan kunci, kugantung di hatiku... hahahah...

Pertanyaan kapan nikah disikapi dengan tenang, itu hanya basa-basi semata. Oh nanti bulan Mei, gak tau tahunnya kapan. Gak usah terngiang lagunya Wali dengan paniknya liriknya seperti ini "Bapak bapak ibu ibu siapa yang punya anak bilang aku yang sedang malu sama teman temanku karena diriku yang tak laku laku". Udah... optimis, positif, berjiwa besar sajalah toh itu juga pertanyaan kapan nikah cuman basa-basi aja...

4 comments

  1. seandainya pertanyaan saat lebaran "siapa pacarnya ?" bisa diganti "siapa mantan calon pacarnya ?" aja -_-

    ReplyDelete
  2. iya, bener. hanya basa-basi koq. yang tanya juga langsung lupa biasanya

    ReplyDelete
  3. bagiku ini pertanyaan menyebalkan. makanya saya kadang merasa males untuk bersilaturahmi dengan orang2 yang suka menanyakan kapan menikah :D

    ReplyDelete
  4. cuma basa-basi kah? thing again. *galau

    ReplyDelete