Saturday, August 11, 2012

Mensikapi takdir

Ada email masuk yang menanyakan soal takdir yang buruk. Dia nanya apakah doa bisa merubah takdir buruk menjadi baik. Penjelasan takdir tentunya berkaitan dengan qadha dan qadhar. Qadha dan qadar adalah termasuk rukun iman yang ke-enam, dan seorang muslim mesti mempercayainya. Qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman azali, dan qadar adalah kejadian yang terjadi. Qadha dan qadar merupakan takdir, jadi karena sudah terjadi, tidak mungkin manusia merubah takdir.

Jawabanku sederhana saja, tanpa penjelasan tentang qadha dan qadar. Seperti ini

Mukmin sejati tidak pernah protes dan mengeluh dengan semua yang menimpanya. Semua ada sebab akibat yang di Hindu disebut karma. Aku sendiri gak pernah mikir takdirku menyedihkan atau tidak. Mukmin selalu husnuzon berprasangka baik bahwa semua yang diberikan Allah adalah kebaikan bagi dirinya.

Jadi gak usah mikirin kok takdirku muka jelek, miskin lagi. Kita terima semua dengan penuh syukur. Kalo mengeluh namanya kufur nikmat dan itu tidak disukai Allah. Sedangkan banyak bersyukur dan banyak sedekah hidup akan bahagia dan dimudahkan.

Gak usah mikir soal takdir, itu urusan Allah dengan kitab Lauh Mahfudz. Tugas kita hanyalah ikhtiar dan banyak berbuat kebaikan. Karena itulah tugas manusia di dunia ini...

(Mohon dikoreksi bila ada kesalahan pemahaman, atau ditambah. Terima kasih)

10 comments:

BlogS of Hariyanto said...

bagi saya..kita sendiri sebenarnya yang memilih takdir jalan hidup kita, apakah mau buruk atau mau baik, kalau kita ingin kebaikan dalam tadir kita..maka kita harus lebih giat dan lebih giat lagi dalam berusaha serta selalu berdoa kepada Sang Khaliq dan selalu bersyukur atas segala nikmat-NYA...satu hal lagi, ALLAH tidak pernah memberikan keburukan kepada hamba-NYA, namun ALLAH memberikan pilihan hidup...sekali lagi mau kebaikan atau keburukan ...salam :)

senantiasa belajar said...

wah nambah ilmu nih postingan bagus
ya takdir itu urusan alloh tapi manusia punya pilihan contohnya antara:
kaya atau miskin
semua orang telah di beri rizki oleh alloh tapi jumlahnya yang beda karena itu tergantung dengan kemampuan dan ikhtiarnya kita sebagai mahluk ciptaannya karena alloh telah menaburkan rizki untuk manusia maka ikhtiarlah kita sebagai manusia

HALAMAN PUTIH said...

Betul sekali mbak, takdir itu urusan Allah. Kita hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang sudah terjadi. Namun Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih takdir yang baik dengan cara berdoa, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sebab di situlah Lailatul Qadar turun dimana malaikat Jibril dan para malaikat turun ke langit dunia untuk mengatur segala urusan atas perintah Allah SWT. Allah menghendaki yang baik dan menyukai kebaikan, manusialah yang seharusnya berusaha menuju kepada kebaikan itu sehingga yang didapat nantinya juga takdir yang baik.

bonda_tie said...

berdoalah kepada Allah.
sesungguhnya Allah sgt suke org yang berdoa.

Arya Devi said...

bicara masalah ini..jd ingat nasehat guru sy yang sudah berpulang, kata beliau,
"Kita ini ibarat wayang dimainkan sang dalang, mau dibawa kemana..ya terserah dalang. Tinggal bagaimana kita menyikapi...mau bersyukur atau tidak. Jadi sekarang tinggal pengembangan diri, peningkatan mutu/nilai martabat manusia sebagai makhluk kepada pencipta.
Pada level tertentu, ada manusia yang tidak peduli lagi dengan nasib baik atau buruk yang terjadi pada dirinya...dia lebih fokus pada bagaimana untuk semakin dekat lagi kepada sang Kekasih..Allah.
Adanya cobaan atau ujian berat atau nasib baik dan buruk bukan ukuran kesuksesan hidup atau keberpihakan Tuhan kepadanya, karena banyak saja para Waliyullah dan para Nabi selama hidupnya selalu mendapat ujian berat...
Ini sebagai pertanda bagi yang mau berpikir, bahwa hidup didunia cuma sementara, tempat sejenak bukan selamanya....
Allah memberikan cobaan berat, bukan tak sayang dengan makhluknya, terutama yang beriman dengan islamnya....
Baik dan buruk takdir..apalah arti jika sudah bisa merasakan nikmatnya beriman kepada Allah".
Begitu kata beliau.....berat memang, tapi ada kemanisan cinta disana.

Andik Rasida said...

Hidup bukan pilihan kita, tetapi anugrah dari Allah, Baik buruk itu pilihan,namun dalam realita sangatlah sulit di terapkan, karena hawa nafsu manusia.Masih ingatkah kisah Nabi Ismail menceraikan istrinya, ataukan putra angkat nabi muhammad yang dinikahkan oleh nabi muhammad, yang akhirnya harus diceraikan karena saran nabi muhammad dan akhirnya di nikahi oleh nabi Muhammad? juga masih ingatkah nabi nuh di musuhi putranya kan'an? itu semua butuh proses dan ujian dari Allah untuk meningkatkan derajat manusia itu sendiri.

Adi Pradana said...

takdir, itu rahasia ALLAH SWT. kita tetap harus mengusahakan takdir yang baik, pengen kaya, ya usaha keras. pengen sehat, jaga kesehatan. kalau lahir, mati, jodoh itu yang tidak bisa kita usahakan. btw, life must go on.

best regard,
boomberita.blogspot.com

Diecha Scorpion said...

nah, bener banget nih, 'seharusnya' sih kita harus bersyukur atas takdir allah, toh kita juga gk bisa merencanakan takdir kita nantinya gimana.
Jadi ya dinikmati aja, apa maunya yang di Atas, suatu saat pasti ada baiknya juga. :D

CMIWW

Popi said...

benar kita harus menerima apapun takdir kita. Hanya mungkin perlu iman yang kuat untuk memahami pemikiran seperti itu. Bagi orang2 miskin yang imannya kurang kuat, mereka mungkin tak semudah itu menerima takdir bahwa mereka harus hidup serba kekurangan.

r10 said...

kita bisa tahu apakah masuk surga atau neraka, caranya dgn muhasabah diri

kalau banyak berbuat baik sesuai ajaran agama, maka insya allah masuk surga

begitu pula sebaliknya