Monday, October 29, 2012

Tangga menuju ke surga yang mana?

Barangkali ada sekelompok orang yang memutuskan untuk hidup bersenang-senang di dunia ini. Aku tidak bisa menyalahkan mereka aku juga pernah dalam kondisi seperti mereka. Mereka yang beruntung lahir dalam keluarga yang kecukupan, fisik menarik, otak memadai. Kita lihat generasi mereka banyak muncul fotonya di Facebook, majang fotonya jalan-jalan di luar negeri, mobil terbaru, dan baju yang fashionable.

Lalu mereka yang sukses secara materi membuat kasta sendiri. Kasta sosialita. Para penggemar baju trendy (biasanya mahal) sukanya bikin pesta-pesta dan mendatangi pesta-pesta. Tentunya mereka mampu membayar orang untuk melayani keinginan mereka yang terdalam. Oh, ultah anakku enaknya temanya apa ya... misalnya.

Dilihat dengan mata telanjang kasta sosialita ini banyak muncul di infotainment. Wajah cantik dan handsome, baju keren, pesta-pesta. Menyenangkan gak hidupnya dikelilingi barang-barang mewah begitu. Cuman mereka lupa, bahwa barang-barang mewah yang menyenangkan hati di sekelilingnya ibarat menjadi Qarun. Siapa Qarun, orang miskin yang menjadi kaya, setelah kaya mengumpulkan kekayaan hingga menumpuk, karena tidak mau mengakui kebesaran Allah terkubur bersama hartanya di bumi ini. Makanya kita sebut harta yang terkubur menjadi HARTA KARUN.

Sepertinya memang menyenangkan hidup hanya dihabiskan untuk bersenang-senang saja. Tentunya begitu. Ngapain juga stress, gak enak banget. Toh hidup cuman sekali. Hmmm.... bila mereka di KTPnya ada tulisan bahwa mereka beragama Islam, tentunya Islam itu hanya sebatas tulisan saja. Karena Islam tidak mengajarkan begitu.

Acara di tivi memang membuat orang bisa terobsesi untuk menjadi kelompok yang suka bermewah-mewah, tapi bukan itu yang diajarkan oleh Islam. Islam mengajarkan untuk hidup sederhana, sewajarnya, tidak mubazir, dan banyak sedekah. Bukan berarti tidak boleh pake baju bagus dan mahal, karena semua bergantung pada lingkungan dan situasinya. Seorang direktur misalnya, tentunya menggunakan jas saat pertemuan direksi, bukan menggunakan piyama.

Tidak bisa memungkiri perbedaan penghasilan para pengusaha sukses dan pembantu rumah tangganya bagaikan di bumi dan langit. Yang MERASA di langit tentunya sibuk bersenang-senang, dan tidak mau turun ke bumi. Iya, dan mereka juga sibuk di langit dengan "bidadari cantik" yang make upnya tebal dan pakaian bermerek.

Oh iya, stairway to heaven yang aku maksudkan untuk naik tangga ke surga bukan tangga menuju surganya sosialita. Tangga dimana kita berusaha mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Allah SWT yang di Al Qur'an berfirman agar manusia banyak membantu orang lain yang kesusahan, menyambung silaturahmi, selalu bersyukur, berusaha bersabar serta beribadah dan mau mengorbankan harta dan jiwa untuk Allah.

Sekedar renungan setelah liburan hari Idul Adha...

No comments: