Sunday, November 4, 2012

Hidup tidak semudah cocote...

Aku suka nyengir ada tulisan kayak gitu. Barangkali bapak motivator yang disebut juga gak peduli dikatain kayak gitu. Hidup bisa begitu mudah bagi sebagian orang, dan sulit bagi sebagian yang lain. Beberapa e-mail yang ditujukan ke aku, gak banyak sih, tapi ada aja... beberapa menyatakan kegelisahan nyari pasangan hidup. Ada yang anaknya lumpuh di pedalaman Kalimantan. Ada yang cerita pernah iseng main jaelangkung ternyata yang diundang datang tapi gak mau pergi dari tubuhnya, kadang tubuhnya bergerak sendiri.

Aku sendiri menikmati hidupku. Terlepas bahwa sebetulnya aku banyak masalah (bila dilihat dari kacamata orang lain). Ada yang nanya apa aku gak kangen anak-anakku yang sekarang ikut bapaknya. Aku cuman bilang, sepertinya aku diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar dulu. Situasi sangat tidak mendukung, aku kehilangan tabungan, harta benda, kendaraan karena sempat ikut bisnis yang salah. Sekarang aku mulai lagi dari awal mencoba survive. Ditambah belajar Islam. Bagaimana hubunganmu dengan anak-anakmu, ada yang tanya gitu. Aku bilang baik-baik saja, soalnya aku guru jadi kalo pas sekolah libur aku juga libur. Aku bisa menengok mereka. Dan sementara ini aku sedang belajar lagi tentang kehidupan.

Tadinya banyak nanya-nanya, dan orang-orang di sekitarku banyak yang kesel... hehehe... nanyanya aneh-aneh dan mereka cenderung ninggalin aku. Dan sekarang malah aku yang menjawab pertanyaan aneh-aneh. Aku juga banyak berkenalan dengan orang-orang, tapi jarang yang personal gitu. Biasanya dalam satu komunitas aja. Lagian orang yang ngobrolnya nyambung tempat aku nanya-nanya orangnya sibuk. Maklum aja deh...

di lapangan sofbol UGM

Hari Minggu biasanya aku pake untuk olahraga. Biarpun udah kepala 4 emang olahraga mesti berhenti. Susah emang jelasin ke orang-orang yang menjalankan sunnah sampai sedetil-detilnya sampai melupakan zaman dan adat yang beranggapan wanita sholehah mesti pake jubah tebal warna gelap. Soalnya kan aku suka naik sepeda. Akhir-akhir ini mencoba jualan ruteku lumayan jauh. Ke tempat ekspedisi paket sekitar 3 km dan nanjak. Ke tempat manajer kosmetik rumah sekaligus kantor hampir 10 km, hehehe. Ke agen susu kambing bubuk ettawa sekitar 5 km kali ya.

Rumahku di tengah kota dan tujuanku pinggiran kota semua. Untung masih di Jogja, kalo di Jakarta gak tau deh. Selama masih bisa bernapas, makan enak, banyak teman, survive bekerja dan dapat uang yang Insya Allah halal aku sih selalu bersyukur. Ambisinya macam-macam sudah gak ada, ingin mengabdi ke sekolahan yang kebetulan juga usaha keluarga.

Jodoh? Hmmm... lagi suka bertemen aja, gak tau di komunitas banyakan ngobrolnya sama yang muda-muda suka dipanggil mbak atau bu gitu. Yah, dituakan... hehehe... emang udah tua sih ya terima aja. Soal hidup itu mudah atau tidak tergantung persepsi akan kehidupan. Kalo yang kemampuan otak memang jauh di atas rata-rata mestinya punya kemampuan lebih untuk sukses secara materi. Tapi aku mencoba untuk meluruskan hidupku, memperbaiki hatiku juga agar bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku... that's it...

1 comment:

Arif Chasan said...

tetap menjalani skenario yg Allah berikan dan mencoba ikhlas.. :)

mengaminkan kalimat terakhirnya.. :)

apa kabar.. mbak? :D